← Berita
Blue Chip

Batubara Naik Lagi, ADRO-PTBA Tertekan Permintaan China-India

⏱ 5 menit

Harga batubara Newcastle mencapai USD 133,30 per ton pada 24 April 2026, didorong ketegangan geopolitik Timur Tengah dan permintaan dari China. Saham ADRO diperdagangkan IDR 2.480 dan PTBA IDR 2.930 di tengah proyeksi permintaan global yang melambat. Ekspor Indonesia ke China dan India diperkirakan terus menurun sepanjang 2026 meski harga komoditas masih bertahan.

Konteks & Situasi Terkini

Harga batubara acuan global terus menguat seiring eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Dikutip dari Trading Economics, harga Newcastle Coal futures menutup pada USD 133,30 per ton pada pembukaan hari ini (24 April 2026), naik dari level USD 133,75 seminggu lalu.

Data dari Investing.com menunjukkan batubara Newcastle dalam 12 bulan terakhir meningkat 41,31%, dengan range saat ini USD 93,25 hingga USD 146,25. Dalam periode Maret-April, harga pernah menyentuh USD 146,25—tertinggi sejak krisis energi global Mei 2022 lalu.

Sementara itu, saham ADRO diperdagangkan IDR 2.480 dengan peningkatan 1,23% dalam 24 jam, sementara PTBA menutup kemarin di IDR 2.930 dengan range harian IDR 2.890–IDR 3.150.

Faktor Pendorong Harga Batubara

Ketegangan geopolitik di Teluk Persia menjadi pemicu utama kenaikan harga batubara. Menurut data pasar terkini, Iran menyerang kapal pengangkut LNG dan LPG di selat Hormuz, yang menghilangkan porsi besar bahan baku pembangkit listrik gas di Asia Tenggara, Jepang, dan Korea.

Perubahan bauran energi ini menggeser konsumsi ke batubara termal berkualitas tinggi dari Newcastle. Fasilitas pemrosesan gas Qatar turut terkena dampak, memperkuat efek substitusi energi dan mendorong permintaan batubara lebih tinggi.

Harga Batubara Acuan (HBA) Indonesia sendiri tembus USD 103,43 per ton pada periode kedua April 2026—level tertinggi sejak Maret lalu.

Baca juga:

Permintaan dari China dan India Mengecil

Meskipun harga tinggi, permintaan batubara Indonesia dari dua pasar utama terus menurun. China—importir terbesar batubara Indonesia—mencatat permintaan sekitar 211,8 juta ton pada 2025, menurun dibanding tahun sebelumnya, menurut data ekspor nasional.

India sebagai pasar kedua menunjukkan tren serupa, dengan impor sekitar 103,8 juta ton dan volume terus berkurang. Menurut proyeksi IEA (International Energy Agency), permintaan thermal coal India di 2026 hanya tumbuh sekitar 1%.

Analisis pasar menunjukkan China menerapkan strategi impor lebih hati-hati karena tiga faktor: aktivitas ekonomi melambat, stok batubara domestik masih tinggi, dan peningkatan kapasitas pembangkit energi terbarukan.

Dampaknya, perdagangan batubara global diproyeksikan menurun untuk tahun kedua berturut-turut. Uni Eropa, Jepang, Korea, dan Taiwan terus mengurangi impor, sementara India fokus meningkatkan produksi domestik.

Dampak ke Investor Ritel

Situasi ini menciptakan dilemma bagi investor ADRO dan PTBA. Harga komoditas tinggi seharusnya membawa profit margin lebih baik, namun volume penjualan menurun. Kontan melaporkan target harga ADRO ditetapkan analis Rp 2.630 per saham (per Januari 2026), sementara PTBA ditargetkan Rp 3.100.

Bagi pembaca, catatan penting: ADRO saat ini diperdagangkan jauh di bawah target (IDR 2.480 vs Rp 2.630), mencerminkan kepesimisan pasar. PTBA relatif lebih dekat target (IDR 2.930 vs Rp 3.100), dengan dividend yield TTM masih menarik di 11,08%.

Valuasi ADRO menunjukkan P/E Ratio 7,92 dan PBV 0,68 (per 2 Januari 2026), serta dividend yield tertinggi di antara kedua emiten (12,78%), namun tetap di bawah ekspektasi analis.

Outlook & Proyeksi 2026

Pemerintah Indonesia berencana memangkas produksi batubara pada 2026 sebagai respons atas penurunan ekspor dan harga yang turun. Hal ini berbeda dengan PTBA yang mendapatkan target produksi naik—RKAB 2026 PTBA disetujui sebesar 49,5 juta ton, naik sekitar 5% year-over-year.

Proyeksi ini mengindikasikan pemerintah masih memberikan dukungan produksi untuk PTBA, menjadikannya lebih defensif dibanding ADRO yang bergantung pada produksi swasta.

Untuk kuartal kedua dan semester kedua 2026, momentum batubara akan bergantung pada: 1. Keberlanjutan ketegangan geopolitik Timur Tengah 2. Pemulihan produksi batubara China dan strategi impor India 3. Momentum energi terbarukan di Asia—semakin cepat substitusi, semakin rendah permintaan batubara jangka panjang

Jika demand terus menurun namun harga bertahan, margin keuntungan emiten batubara akan tetap tergencet. Sebaliknya, jika harga turun seiring normalisasi geopolitik, tekanan margin akan lebih dalam lagi.


Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.

Pertanyaan Umum (FAQ)

1Berapa harga batubara Newcastle hari ini, 24 April 2026?

Harga batubara Newcastle per pembukaan 24 April 2026 adalah USD 133,30 per ton, menurut Trading Economics. Harga ini naik 41,31% dalam 12 bulan terakhir, dengan range terakhir USD 93,25–USD 146,25.

2Berapa harga saham ADRO dan PTBA hari ini?

Pasar IDX sedang dalam jeda siang (11:30–13:30 WIB). ADRO terakhir diperdagangkan IDR 2.480 (naik 1,23%), sementara PTBA menutup kemarin IDR 2.930 dengan range IDR 2.890–IDR 3.150. Data penutupan hari ini belum tersedia karena pasar belum tutup.

3Mengapa harga batubara naik padahal permintaan China-India turun?

Kenaikan didorong ketegangan geopolitik Timur Tengah—serangan Iran pada kapal LNG/LPG menghilangkan pasokan gas, mendorong substitusi ke batubara termal. China dan India mengurangi impor karena stok tinggi, ekonomi melambat, dan peningkatan energi terbarukan, namun gangguan supply global tetap mendorong harga ke atas.

4Apa proyeksi harga saham ADRO dan PTBA tahun 2026?

Menurut Kontan (Januari 2026), target harga ADRO Rp 2.630 per saham, sementara PTBA ditargetkan Rp 3.100. ADRO saat ini discount 5,7% dari target, sedangkan PTBA hanya discount 5,5%, mencerminkan valuasi relatif lebih ketat untuk ADRO.

5Mana yang lebih baik beli: ADRO atau PTBA?

Keputusan investasi tergantung profil risiko Anda. ADRO menawarkan dividend yield lebih tinggi (12,78%) dengan PBV rendah (0,68), namun produksi direncanakan dipangkas. PTBA lebih defensif dengan target produksi naik 5% dan dividend yield 11,08%, cocok untuk investor konservatif. DYOR sebelum membeli.