Jakarta, Emiten.org - Pasar modal Indonesia berada dalam posisi yang kompleks pada Rabu, 23 September 2026. Di tengah keputusan Bank Indonesia yang menahan BI Rate tetap di 5,75% — keputusan ketiga berturut-turut ini sejak Juli — dan reaksi IHSG yang rebound setelah sempat anjlok 1,69% pada Selasa lalu, Asian Development Bank (ADB) baru saja merilis proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif tegas: 5,2% untuk tahun 2026, meletakkan posisi tercepat kedua di ASEAN setelah Vietnam. Kombinasi faktor ini memberi napas baru bagi pasar modal Indonesia sekaligus menegaskan fundamental ekonomi yang tegas di tengah gejolak global.
ADB Tempatkan Indonesia di Posisi Kedua ASEAN
📎 Baca Juga
Dalam Asian Development Outlook (ADO) edisi September 2026, ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi Asia-Pasifik sebesar 5% pada 2026. Angka ini turun dari realisasi 5,5% pada 2025, namun naik dari proyeksi Juli 2026 yang sebesar 4,9%.
“Kawasan ini tetap tangguh, namun risikonya semakin meningkat,” ujar Presiden ADB Masato Kanda melalui siaran pers pada Rabu (23/9/2026). Menurutnya, investasi yang kuat, stimulus pemerintah, dan maraknya ekspor teknologi yang didorong siklus investasi global pada kecerdasan buatan (AI) menjadi pendukung pertumbuhan, meskipun ketegangan geopolitik dan penguatan El Niño mendongkrak harga energi dan pangan.
Khusus untuk kawasan ASEAN, ADB memproyeksikan pertumbuhan 4,7% pada 2026 — revisi naik dari 4,6% sebelumnya, namun masih di bawah capai 2025 sebesar 4,8%. Perluasan spesifik dari ADB untuk proyeksi pertumbuhan negara-negara ASEAN pada 2026 adalah sebagai berikut:
- Vietnam: 7,8% (revisi naik dari 7,2%, masih di bawah 2025: 8%)
- Indonesia: 5,2% (naik sedikit dari 2025: 5,1%)
- Malaysia: 4,9% (revisi naik dari 4,6%, di bawah 2025: 5,2%)
- Thailand: 2%
- Philippines: 3,3%
- Singapore: tidak termasuk dalam daftar
- Myanmar: 2,2%
- Cambodia: 3,9%
- Laos: 4%
- Timor-Leste: 4%
- Brunei Darussalam: 1,2%
Posisi Indonesia di peringkat kedua ini mengonfirmasi kebangkatan ekonomi yang relatif tegas di tengah ketidakpastian global. Sementara untuk negara-negar besar asia lainnya, ADB memproyeksikan:
- China: 4,6% (turun dari 5% pada 2025)
- India: sekitar 7% (dari 6,6%)
- Jepang: 0,7%
- Korea Selatan: 3,2% (revisi naik dari 2,6%)
Dampak bagi IHSG dan Pasar Keuangan Indonesia
Proyeksi pertumbuhan ekonomi yang relatif tegas ini memperkuat narasi positif bagi pasar saham Indonesia. Pada perdagangan Rabu (23/9/2026), IHSG yang sempat tertekan kuat sempatkan, kini menguat kembali setelah BI menahan suku bunga tetap di 5,75%.
Merujuk data CNBC Indonesia, IHSG pada pembukaan perdagangan naik 20,91 poin atau 0,33% ke level 6.297,95, lalu menguat lebih tinggi hingga 0,61%. Indeks bergerak pada rentang terendah 6.297 dan tertinggi 6.315 pada awal perdagangan. Sebanyak 222 saham menguat, 89 saham melemah, dan 323 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp 94,34 miliar, dengan volume perdagangan 175,62 juta saham yang berpindah tangan 22.137 kali.
Reaksi ini jelas lebih baik setelah IHSG anjlok 1,69% ke level 6.277,04 pada Selasa (22/9/2026). Pada hari itu, sejumlah saham blue chip jadi momok bagi pasar: PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) terjual bersih Rp339,42 miliar, PT Timah Tbk (TINS) Rp110,75 miliar, PT Bank Central Asia (BBCA) Rp101,44 miliar, PT Bank Mandiri (BMRI) Rp85,24 miliar, PT Chandra Asri Pacific (TPIA) Rp83,72 miliar, PT Telkom Indonesia (TLKM) Rp54,41 miliar, PT Bayan Resources (BYAN) Rp34,28 miliar, PT Petrosea (PTRO) Rp30,48 miliar, PT Medco Energi (MEDC) Rp28,46 miliar, dan PT Barito Pacific (BRPT) Rp24,04 miliar.
Investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp131,72 miliar di seluruh pasar dan Rp671,63 miliar di pasar negosiasi dan tunai. Di sisi lain, investor asing melakukan pembelian bersih Rp539,91 miliar di pasar negosiasi dan tunai.
Rupiah dan Kebijakan Moneter: Stabilitas di Tengah Tekanan Global
Di pasar valuta, rupiah spot ditutup di Rp17.818 per dolar AS pada akhir perdagangan Rabu (23/9/2026), menguat 0,37% dari Rp17.884 sehari sebelumnya. Rupiah di pasar JISDOR BI juga menguat 0,45% ke Rp17.803 per dolar AS.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah pasca-keputusan RDG BI lebih dipengaruhi intervensi Bank Indonesia dan aksi unwinding posisi dolar AS — secara pasar dikenal sebagai “buy the rumor, sell the fact” — setelah tidak ada kejutan dalam rapat RDG. “Penguatan ini kemungkinan lebih banyak dipengaruhi oleh intervensi BI dan unwinding posisi dolar,” ujar Lukman kepada KONTAN.
Keputusan BI menahan suku bunga ini sejalan dengan proyeksi inflasi 2026 yang rendah dan tetap terkendali di dalam sasaran 2,5% ±1%. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Agustus 2026 sebesar 3,19% secara tahunan — masih berada di dalam target BI. Cadangan devisa BI juga kuat pada level US$146,5 miliar, setara dengan 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, berada di atas rekomendasi minimal tiga bulan pembayaran.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, menegaskan menahan BI Rate bulan ini bukan berarti BI menjadi kurang waspaya terhadap kenaikan suku bunga AS. “BI sudah melakukan pengetatan lebih awal sejak Mei–Juni lalu,” katanya. Dalam enam periode kenaikan bertahap — dari 4,75% (Mei) ke 5,25% (Mei), 5,50% (9 Juni), hingga 5,75% (18 Juni) — BI telah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 basis poin.
Reksa Dana RDPT dan Emiten Blue Chip: Tantangan dan Strategi
Di tengah sentimen positif dari proyeksi pertumbuhan dan keputusan BI, pasar reksadana pendapatan tetak (RDPT) tetap menghadapi tekanan. Melansir data Infovesta, dana kelolaan atau nilai aset bersih (NAB) industri RDPT tercatat Rp209,91 triliun pada Agustus 2026 — turun 17,6% dari puncak pada Februari 2026 yang mencapai Rp254,88 triliun.
Penurunan ini bermula sejak Maret 2026 ketika BI-Rate berada di 4,75%. Dalam siklus kenaikan suku bunga bertahap, NAB RDPT turun secara berkala: dari Rp254,88 triliun (Februari) ke Rp241,19 triliun (Maret), Rp239,26 triliun (April), Rp231,01 triliun (Mei), hingga Rp214,76 triliun (Juni), dan kini Rp209,91 triliun (Agustus).
Wawan Hendrayana, Direktur Infovesta Utama, menjelaskan: “Obligasi lama di RDPT memang tertekan saat suku bunga naik, karena harga dan bunga berbanding terbalik. NAB bisa turun jangka pendek.” Namun ia menegaskan, RDPT tetap memperoleh pendapatan dari kupon obligasi, sekaligus tingkat imbal hasil surat utang negara (SBN) yang masih tinggi membuka peluang bagi investor atau dana baru.
Di sisi lain, emiten blue chip seperti Astra International (ASII) dan United Tractors (UNTR) tetap eksekutif. ASII fokus pada tiga lini bisnis — otomotif, jasa keuangan, dan solusi pertambangan/alat berat — yang menyumbang 90% dari total laba. United Tractors (UNTR) lanjutkan buyback saham hingga Rp2 triliun hingga akhir September 2026, dengan akumulasi total 237 juta saham sejak Juli 2022 (setara Rp7,1 triliun). Sehari sebelumnya, pada Astra Media Day, ASII juga mengumulkan plan Voluntary Tender Offer (VTO) untuk AUTO dengan harga Rp3.600 per saham (total dana Rp858 miliar).
Outlook: Risiko yang Tetap Mengintai
Di lautan pasar global, tekanan dolar AS yang kuat tetap menjadi kekhawatiran. Data yang tersedia menunjukkan indeks dolar AS (DXY) berada di kisaran 100,6–100,8 — level tertinggi hampir dua bulan. Harga minyak mentah juga turun lima hari berturut-turut, dengan Brent berada di US$99,25 per barel (turun 1,09%) dan WTI di US$94,50 per barel (turun 1,3%).
Ketegangan geopolitik, khususnya di Timur Tengah, dan dinamika AS-Iran yang disuarakan oleh Donald Trump, menjadi variabel yang sulit diprediksi. Kepala Ekonom BCA, David Sumual, memperkirakan BI Rate masih berpeluang naik 25–50 bps hingga akhir 2026, sejalan dengan proyeksi The Fed mengubah suku bunga lagi pada Desember 2026.
Di pasar internal, harga emas batangan Antam naik Rp3.000 menjadi Rp2.630.000 per gram, mencerminkan sentimen pelindung yang masih relevan. Sementara itu, IHSG yang rebound teknis di ambang level 6.300–6.320 (sesuai proyeksi Fanny Suherman, Head of Retail BNI Sekuritas) perlu menembus di atas untuk menghindari koreksi ke 6.100–5.850 dalam jangka menengah.
Di saat ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbul 5,2% pada 2026 dan menjadi kekuatan kedua di ASEAN, pasar modal Indonesia ditugaskan untuk menyeimbangkan antara fundamental domestik yang tegas dan gejolak global yang tak terduga.
