Jakarta, 12 Oktober 2026 -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjatuh 2,59 persen menyentuh level 5.936,14 pada perdagangan Senin, menembus di bawah level psikologis 6.000 sekaligus mencatatkan koreksi terdalam sejak awal Oktober. Tekanan jual menyeluruh -- dari energi hingga infrastruktur -- dipicu oleh kombinasi yield obligasi AS yang tinggi, harga minyak Brent yang bertahan di atas US$106 per barel, dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Namun, justru di tengah koreksi terdalam seminggu terakhir, investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp128,29 miliar di seluruh pasar, menunjukkan bahwa dana asing tidak sepenuhnya keluar dari saham Indonesia meski pasar mengalami tekanan kuat.
\n\nIHSG dibuka kuat di level 6.109,32 (+0,26%) pada awal sesi, namun momentum bullish tidak bertahan lama. Dengan yield 10Y AS naik dan ketegangan Houthi-Arab Saudi memicu kecemasan, indeks akhirnya ditutup melemah 157,61 poin ke 5.936,14. Total nilai transaksi mencapai Rp13,49 triliun dari 61,92 miliar saham yang diperdagangkan, menandakan likuiditas tetap kuat meski arah jual mendominasi.
\n\nInvestor Asing Beli di Tengah Koreksi: Net Buy Rp128 Miliar Justru Meningkat
📎 Baca Juga
Di tengah koreksi yang meluas, data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI Business mengungkapkan bahwa investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp128,29 miliar di seluruh pasar pada Senin. Kontradiksi ini signifikan: meskipun 602 saham melemah, 114 saham naik, dan 77 saham stagnan, dana asing tetap mengalir masuk justru pada saat IHSG kembali di bawah level 6.000.
\n\nPola ini mencerminkan kepercayaan investor asing terhadap fundamental saham Indonesia yang relatif kuat, terutama di sektor keuangan dan infrastruktur. Sebagaimana dilaporkan oleh Kontan, investor asing tidak menjual secara indiscriminate. Mereka cenderung memilih saham dengan fundamental yang solid dan valuasi yang wajar justru di tengah koreksi.
\n\nAnalis menilai arus dana asing ke sektor keuangan dan infrastruktur tetap tahan karena instrumen ini dianggap relatif aman di pasar emerging markets. Dengan kondisi ini, investor asing tampaknya sedang menerapkan strategi beli pada saat harga turun -- pola dollar-cost averaging (DCA) yang wajar saat pasar sedang koreksi.
\n\n10 Saham Favorit Asing: GOTO Ungguli dengan Pembelian Rp134 Miliar
\nBerikut adalah 10 saham dengan net buy terbesar asing pada Senin (12/10/2026), lengkap dengan sektor dan nilai transaksi:
\n- \n
- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) — Rp 134,34 miliar \n
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) — Rp 80,31 miliar \n
- PT Astra International Tbk (ASII) — Rp 79,29 miliar \n
- PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) — Rp 33,52 miliar \n
- PT Timah Tbk (TINS) — Rp 30,74 miliar \n
- PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) — Rp 26,17 miliar \n
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) — Rp 24,74 miliar \n
- PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) — Rp 19,97 miliar \n
- PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) — Rp 16,12 miliar \n
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) — Rp 14,31 miliar \n
GOTO mendominasi daftar -- meski sudah berada di bawah gocap (Rp50), investor asing membukukan pembelian bersih sebesar Rp134,34 miliar. Analis menilai hal ini mencerminkan ekspektasi kuat terhadap proyeksi pertumbuhan platform digital Gojek-Tokopedia, terutama di pasar keuangan digital.
\n\nSektor keuangan juga kuat dibeli: BBRI mencatat net buy Rp80,31 miliar, sementara ASII mendapatkan Rp79,29 miliar. Analis menilai asing cenderung membeli saham blue-chip dengan dividend yield tinggi dan fundamental stabil -- justu pilihan yang wajar saat pasar volatil.
\n\nDi sisi lain, meski secara keseluruhan asing beli, tiga saham properti dan teknologi tetap mendominasi net sell pada hari yang sama. Di antaranya adalah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNLR), yang tertekan oleh valuasi tinggi dan exposure ke global yield. Pola ini menguatkan pengamataan bahwa investor asing sedang mengalihkan portofolio ke komoditas (emas dan batubara) sambil tetap membeli saham keuangan dan infrastruktur.
\n\nData Pasar: IHSG 5.936, Rupiah Rp17.889, Brent $106
\nDari rilis Bank Indonesia, data BEI, dan Yahoo Finance (Senin, 12 Oktober 2026):
\n- \n
- IHSG penutupan: 5.936,14 (-157,61 poin / -2,59%) \n
- IHSG pembukaan: 6.109,32 (+15,56 poin / +0,26%) \n
- Sector performance terdalam: Energi (-5,88%), Industri (-5,20%), Infrastruktur (-4,72%) \n
- Rupiah/USD: Rp17.889 (melemah 0,08% dari penutupan hari sebelumnya) \n
- Harga minyak Brent: US$106,64 per barel \n
- Volume perdagangan: 61,92 miliar saham (Rp13,49 triliun) \n
- Saham melemah: 602 | menguat: 114 | stagnan: 77 \n
Rupiah melemah tipis 0,08 persen ke Rp17.899 per USD, seiring indeks dolar AS yang terus mendapat dukungan dari ekspektasi The Fed tetap agresif. Namun, rupiah tetap relatif stabil dibandingkan dengan krisis 2008 atau 2020, ditopang oleh cadangan devisa BI yang mencapai USD146,3 miliar per akhir September 2026, serta kebijakan insentif hedging yang sebelumnya berhasil menarik inflow sebesar US$8 miliar.
\n\nAnalis: Support 5.850-5.900 jadi Titik Tembak; 6.000 Jadi Resistance
\nPhintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan menguji area support di kisaran 5.800-5.900 dalam sesi-sesi mendatang. Secara teknikal, histogram negatif pada indikator MACD yang kian melebar dan pola death cross pada Stochastic RSI menunjukkan bahwa tekanan jual masih berlanjut.
\n\nReza Diofanda dari BRI Danareksa Sekuritas menambahkan bahwa proyeksi serupa: IHSG bergerak di support 5.850-5.900, dengan resistance terdekat di 6.000-6.019. “Jika support 5.900 gagal dibela, tekanan jual bisa melanjut ke 5.800. Di sisi lain, pulih di atas 6.000 dengan volume kuat berpotensi membuka ruang rebound menuju 6.100,” kata Reza Diofanda.
\n\nDari sisi eksternal, tiga faktor risiko utama tetap mengawang pasar: (1) data CPI AS yang akan rilis pada Rabu (14/10/2026), (2) keputusan The Fed pada akhir Oktober, dan (3) keterlibatan ketegangan Timur Tengah yang bisa mendorong volatilitas harga minyak lebih lanjut. Namun, keputusan BI untuk tidak mengubah BI Rate serta insentif hedging menjadi pelindang utama rupiah dan aliran dana asing ke saham Indonesia.
\n\nPertimbangan fundamental juga penting. Sektor keuangan (BBRI, BBCA) dan saham infrastruktur (ASII, SMGR) yang konsisten ditarget beli asing menunjukkan keyakinan terhadap earnings yield yang kompetitif dibandingkan dengan obligasi korporat dan emiting AS. Sementara saham teknologi seperti GOTO yang sudah berada di bawah Rp50 justru mendapat dukungan konsumen dan institusional lokal yang konsisten beli.
\n\nSemangatar:
\nIHSG Ambruk 2,59% ke 5.936, Asing Net Buy Rp128 Miliar -- GOTO, BBRI, ASII Jadi Favorit
