Jakarta, 14 Oktober 2026 -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 0,17 persen menyentuh level 5.925,97 pada perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026, bertahan di bawah level psikologis 6.000 sekaligus menandai pelemahan ketiga berturut-turut. Tekanan berasal dari kekhawatiran terhadap prospek kecerdasan buatan (AI) di pasar saham teknologi global, harga minyak yang tetap tinggi, dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memanas. Namun, justru di tengah koreksi ini, investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp561,6 miliar — naik lebih dari 4 kali lipat dari Senin yang hanya Rp128,29 miliar -- menunjukkan dana asing tidak hanya bertahan, tetapi justru memperagok posisi di pasar saham Indonesia.
IHSG dibuka di level 5.906,23 (-0,51%) dan sempat menyentuh level terendah intraday pada 5.833 sebelum pulih sedikit di akhir sesi. Dengan yield obligasi AS yang tinggi dan data inflasi AS (September CPI) yang dinanti, pasar masih dalam mode menunggu. Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak sideways pada kisaran 5.800-6.000 selama indeks tetap di bawah level 6.000. Sementara itu, MNC Sekuritas menunjukkan resistance terdekat di 5.943-5.978, dengan support penting di 5.744-5.794.
Asing Serbu Rp561 Miliar: ASII dan TINS Jadi Favorit, BMRI-TLKM Terjual
📎 Baca Juga
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI Business, investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp561,6 miliar di seluruh pasar pada Selasa. Ini adalah lonjakan signifikan dari Senin yang hanya Rp128,29 miliar, dan bahkan lebih besar dari hampir semua hari perdagangan minggu lalu. Dana asing tampaknya tidak terpengaruh oleh tekanan jual global yang meluas.
Daftar saham net buy asing tertinggi (Selasa, 13/10):
- PT Astra International Tbk (ASII): Rp44,7 miliar
- PT Timah Tbk (TINS): Rp35,2 miliar
Daftar saham net sell asing tertinggi (Selasa, 13/10):
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI): Rp120,07 miliar
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM): Rp74,76 miliar
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): Rp65,31 miliar
- PT GoTo Sejahtera Wijaya Tbk (GOTO): Rp[...terjual net sell]
Pola ini mengungkapkan strategi investor asing yang cenderung memilih saham infrastruktur dan komoditas (ASII, TINS) sekaligus mengurangi posisi di saham keuangan (BMRI, BBRI) dan telekomunikasi (TLKM). Hal ini konsisten dengan sentimen global yang lebih skeptis terhadap sektor keuangan dan teknologi, namun tetap optimis terhadap ekonomi riil Indonesia yang didorong oleh sektor tambang dan infrastruktur.
Sentimen Teknologi dan Minyak Tekan, Property Justru Kuat
Pergerakan IHSG Selasa mencerminkan tekanan sektoral yang berbeda-beda. Sektor teknologi anjlok 0,95 persen dengan GOTO dan saham-saham teknologi lainnya sebagai top losers, mencerminkan kekhawatiran investor akan peluang laba AI yang menurun dan potensi pemotongan belanja modal perusahaan. Sektor barang konsumen non primer turun 0,61 persen dan keuangan melemah 0,18 persen.
Di sisi lain, sektor properti dan real estate justru menguat 1,83 persen, diikuti kesehatan (+0,53%), energi (+0,40%), perindustrian (+0,29%), dan infrastruktur (+0,28%). Ini menunjukkan bahwa investor beralih ke sektor saham yang lebih defensif dan kurang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga AS. Total nilai transaksi mencapai Rp10,39 triliun dari 35,84 miliar saham yang diperdagangkan pada hari itu.
Rupiah dan RHB Sekuritas: PER IHSG 10 Kali, Diskon 27% dari Historis
Rupiah sedikit menguat 0,04 persen ke level Rp17.896 per USD pada Selasa, di tengah indeks dolar AS yang masih bertahan di sekitar 102. Secara teknikal, MACD IHSG menunjukkan histogram negatif yang membesar dan Stochastic RSI sedang melemah di area overbought/pivot, menandakan tekanan down trend masih mendominasi.
RHB Sekuritas dalam risetnya (Selasa, 13/10) memotong target indeks saham 2026 dari 7.300 menjadi 7.000. Valuasinya berada pada -2 standar deviasi, mencerminkan kenaikan risiko premium. "Rebound indeks saham pada kuartal III-2026 akhirnya berujung pada tekanan jual hebat pada September 2026. Saat ini, PER IHSG hanya 10 kali, diskon 27 persen dari rata-rata historis," tulis RHB. Ini berarti saham Indonesia relatif murah seciril, namun ketidakpastian pasar global masih menahan aliran dana masuk secara penuh.
Rekomendasi: ARCI, BMRI, INDY, MIDI untuk Trading Rabu
MNC Sekuritas memberikan rekomendasi saham untuk perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026: ARCI (Arkadi Aromi Tbk), BMRI (Bank Mandiri), INDY (Indofood CBP), dan MIDI (Medco Energi). Rekomendasi ini mencerminkan fokus pada sektor energi (ARCI, MIDI) dan keuangan (BMRI), sambil tetap menyertakan saham konsumen (INDY) yang bisa bertahan di tengah tekanan inflasi.
Di sisi lain, Phintraco Sekuritas menegaskan bahwa selama IHSG bertahan di bawah level 6.000, indeks kemungkinan akan terus berada dalam rentang sideways 5.800-6.000. Dukungan psikologis berikutnya berada di level 5.700-5.800, sementara resistance kuat berada di 6.000-6.100. Jika IHSG berhasil menembus di atas 6.000 dengan kuat, ini bisa menjadi sinyal balik kuat bagi pasar saham Indonesia.
Outlook: Menunggu CPI AS dan Keputusan The Fed
Pasar saham global masih menanti rilis data inflasi AS periode September (CPI) yang akan membantu menilai kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed. Di tengah ketegangan Timur Tengah yang memanas dan harga minyak Brent yang bertahan di atas US$105 per barel (bahkan berpotensi mencapai US$115 menurut analis Kontan), tekanan inflasi global masih menjadi faktor risiko utama. Namun, keberanian investor asing untuk membeli Rp561 miliar di tengah koreksi menunjukkan keyakinan tersendiri terhadap pasar saham Indonesia yang relatif undervalued.
Perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026, akan menjadi pengujung penting. Jika IHSG bisa bertahan di atas 5.800 dan investor asing tetap net buyer, ini bisa menjadi sinyal bahwa pasar saham Indonesia sudah meletin tekanan jual eksternal. Sebaliknya, jika IHSG kembali menyentuh di bawah 5.800, tekanan down trend akan bertambah kuat dan target RHB Sekuritas (7.000) semakin sulit tercapai.
