Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
IHSG naik ⏱ 8 menit

Danantara Incar 10% Saham IDX, IHSG Menguat 1,21% ke 6.192

Danantara Incar 10% Saham IDX, IHSG Menguat 1,21% ke 6.192
Wikimedia Commons

IHSG menutup menguat 1,21 persen di level 6.192,93 pada 6 Oktober 2026, ditarik sektor energi +4,14%. Danantara berencana kuasai hingga 10% saham IDX lewat demutualisasi dalam konsorsium yang dapat mencapai 30-40% kepemilikan. Di tengah tekanan obligasi AS (10Y yield 5,307%), dividen BUMN yang dikelola Danantara tidak masuk APBN, namun antrean IPO terus tertambah hingga nilai indikatif Rp26,47 triliun.

Jakarta, 6 Oktober 2026 -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Selasa di zona hijau, menguat 1,21 persen ke level 6.192,93, sementara berita bahwa Dana Aset Indonesia (Danantara) berencana menguasai hingga 10 persen saham Indonesia Stock Exchange (IDX) melalui proses demutualisasi memberi sinyal bahwa pasar modal Indonesia sedang melalui momen transformatif. Kombinasi faktor domestik dan global -- dari sektor energi hingga yield obligasi AS yang mencapai 17-bulan tertinggi -- membuat sesi ini penting untuk menentukan arah pasar.

IHSG Menguat 1,21%, Mayoritas Sektor Hijau

📎 Baca Juga

IHSG dibuka di level 6.139,13 dan sempat menyentuh titik terendah intraday di 6.120,24 sebelum secara bertahap menguat hingga level tertinggi 6.216,44. Meski sempat terkoreksi dari puncaknya, indeks tetap bertahan di zona hijau hingga perdagangan usai.

Dari segi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat sebanyak 468,95 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp10.970,84 miliar (sekitar Rp10,97 triliun). Pendorong kenaikan IHSG sepanjang hari berasal dari sektor energi yang melesat 4,14 persen, disusul sektor teknologi +2,7 persen, dan sektor material dasar +2,2 persen.

Saham-saham pengungkit IHSG antara lain PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Di sisi lain, saham penekan indeks meliputi BBCA, BBRI, Barito Renewables (BREN), Capital Financial Indonesia (CASA), dan Sinar Mas Multiartha (SMMA).

Analis menilai sentimen perdagaran hari ini berasal dari dalam dan luar negeri. Aktivitas jasa Jepang melemah dan kepercayaan konsumen turun tipis, sementara sektor jasa zona euro justru mencatat penguatan -- meski kenaikan harga produsen di sana menunjukkan tekanan inflasi belum mereda.

Danantara Incar 10% Saham IDX, Transformasi Demutualisasi

Pada Senin, 2 Oktober 2026, The Jakarta Post melaporkan bahwa Danantara berencana mengakuisisi hingga 10 persen saham Indonesia Stock Exchange (IDX) sebagai bagian dari upaya demutualisasi bursa. Transformasi ini akan mengubah bursa dari perusahaan kepemilikan anggota (member-owned) yang dipegang oleh perusahaan efek menjadi perusahaan privat yang dimiliki pemegang saham.

Danantara CEO Rosan Roeslani menyampaikan bahwa regulasi demutualisasi sudah dikeluarkan dan Danantara dapat mengambil bagian dalam konsorsium yang secara kolektif dapat menguasai 30 hingga 40 persen saham bursa. "Stake Danantara bisa sekitar 5 sampai 10 persen," kata Rosan di Kompleks Istana Presiden, Jakarta.

Rosan juga mengingatkan bahwa kepemilikan IDX pasca-demutualisasi tidak terbatas hanya pada Dana Aset Indonesia. Peluang juga terbuka bagi dana pengelolaan sukarela (SWF) lain dan investor asing. Pada Februari 2026, ia menyatakan bahwa praktik umum SWF -- peran yang Danantara sebagiani -- adalah memegang saham bursa global, biasanya berkisar 15 hingga 30 persen.

Langkah ini menempatkan Danantara bukan hanya sebagai pengelola dana negara, tetapi juga sebagai pemangku kepentingan struktural dalam infrastruktur pasar modal Indonesia. Beberapa analis menilai demutualisasi dapat meningkatkan efisiensi dan profesionalisme operasional IDX, sekaligus membuka ruang bagi model pendanaan yang lebih transparan.

Dividen BUMN Retien: Danantara Memilih Retensi, tak Masuk APBN

Menyongsong transformasi demutualisasi, ada isu paralel terkait arahan dividen BUMN yang dikelola Danantara. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan bahwa dividen BUMN yang terkumpul Danantara tidak tercermin dalam APBN tahun ini maupun tahun depan. Ini menyelisihkan posisi pendahulunya, Purbaya Yudhi Sadewa, yang sebelumnya berencana mengalokasikan Rp120 triliun (US$6,7 miliar) sebagai buffer fiskal.

Danantara akan mempertahankan dividen BUMN dan menggunakannya untuk berinvestasi pada proyek serta sebagai leverage untuk menarik modal pribadi, alih-alih ditransfer langsung ke kas negara. Dengan demikian, APBN dapat lebih fokus pada layanan publik, infrastruktur dasar, dan perlindungan sosial.

Istana kembali menegaskan proyeksi Presiden Prabowo Subianto bahwa BUMN akan menghasilkan Rp200 triliun dari dividen pada 2026. Namun, jalan realisasinya kini melalui Danantara yang memilih retensi dan reinvestasi -- berpotensi mengubah dinamika aliran kas negara ke pasar modal. CNBC Indonesia melaporkan Danantara juga akan mengalokasikan US$250 juta untuk ekspansi portofolio energi (migas) di Amerika Serikat, menandakan eksponensi aset negara ke pasar eksternal.

Tekanan Global: Yield AS Mencapai 17-Bulan Tertinggi, Rupiah Stabil

Pada perdagangan Senin, 5 Oktober 2026, imbal hasil US Treasury jangka panjang melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Yield Treasury 10 tahun naik 3 basis poin menjadi 5,307 persen, sempat melonjak 7 basis poin ke 5,349 persen (level tertinggi sejak 3 April 2002). Yield 30 tahun naik 3 basis poin menjadi 5,661 persen, setelah menyentuh 5,703 persen atau level tertinggi sejak akhir Mei 2002.

Sejalan dengan itu, euro terperosot ke level terendah dalam 17 bulan terhadap dolar AS, sekitar US$1,116-1,121, dipicu oleh aksi jual obligasi pemerintah Prancis yang menekan pasar zona euro, dengan yield 10 tahun Prancis mendekati 5 persen. Tekanan tersebut tetap menyebar ke pasar valuta asing, namun rupiah cukup stabil sepanjang hari -- ditutup kuat tipis menguat bersamaan dengan dolar AS yang turun ke Rp17.890.

Antrean IPO Rp26,47 Triliun, Target Pendanaan 2026 Tembus Rp250 Triliun

Di sisi domestik, OJK menyampaikan bahwa ada 29 rencana penawaran umum dalam antrean dengan total nilai indikatif sebesar Rp26,47 triliun. Pendanaan melalui penawaran umum hingga September 2026 telah mencapai Rp186,03 triliun, dengan target keseluruhan tahun 2026 sebesar Rp250 triliun.

Antrean ini menunjukkan bahwa perusahaan masih memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan, meski nilai indikatif belum serta-merta dana yang terealisasi. Catatan terpisah, CNBC Indonesia melaporkan dana asing kembali cabut bersih Rp273,81 juta pada sesi I, sementara lima saham justru diborong oleh investor lokal.

Prospek: Sorot pada Gubernur BOJ dan Data Neraca AS

Menurut laporan perdagangan, perhatian pasar kini beralih pada pidato Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda serta neraca perdagangan Amerika Serikat. Pada akhir Oktober 2026, pasar juga menatap pelonggokan data nonfarm payrolls (NFP) AS dan keputusan suku bunga The Fed yang diproyeksikan.

Secara internal, pasar menantikan dinamika lebih lanjut dari demutualisasi IDX. Keikutsertaan Danantara secara tidak langsung memvalidasi pentingnya infrastruktur pasar modal dalam dukungan pertumbuhan inklusif -- sekaligus menimbulkan pertanyaan baru mengenai kedaulatan sekuritas dan transparansi kepemilikan di bursa.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter
Sumber: CNBC Indonesia, The Jakarta Post