Pasar modal Indonesia bersiap menyambut babak baru investasi emas. Bursa Efek Indonesia (BEI) akan melantai perdana lima produk exchange traded fund (ETF) emas secara bersamaan pada Senin, 10 Agustus 2026, dengan aset dasar berupa 10 kilogram emas fisik milik PT Pegadaian (Persero) yang berstandar SNI 99,99%. Langkah ini datang di tengah momentum yang kuat: harga emas dunia baru saja menyentuh level tertinggi tujuh pekan, sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total kelolaan ekosistem bullion di dalam negeri telah menembus lebih dari 150 ton emas.
Lima ETF Emas Siap Dicatatkan, Ini Kode Efek dan Manajer Investasinya
đ Baca Juga
- Penertiban Tambang Timah Ilegal Jadi Katalis Produksi dan Kinerja TINS: Produksi Naik 75%, Laba Melonjak 805%
- El Nino & Krisis BBM Mengancam Produksi Sawit RI-Malaysia: Harga CPO Bisa Mengetat, Ini Dampaknya ke Saham AALI, LSIP, SIMP
- HBA Batu Bara Agustus 2026 Anjlok ke US$124,44/Ton, Kalori Rendah Justru Naik â Ini Dampaknya ke Saham ADRO, PTBA & ITMG
Berdasarkan pemberitaan Bisnis.com yang dikutip Jumat (7/8/2026), kelima ETF emas tersebut diterbitkan oleh lima manajer investasi berikut setelah memperoleh surat efektif dari OJK pada 4 Agustus 2026 dan mengajukan permohonan pencatatan kepada BEI pada 5 Agustus 2026:
- Reksa Dana Syariah Trimegah Syariah ETF Emas dengan kode XTRA, diterbitkan PT Trimegah Asset Management.
- Reksa Dana Syariah Mandiri ETF Emas dengan kode XMES, diterbitkan PT Mandiri Manajemen Investasi.
- Reksa Dana Syariah BRI MI Gold ETF Syariah dengan kode XDES, diterbitkan PT BRI Manajemen Investasi.
- Reksa Dana Syariah Syailendra ETF Sharia Gold dengan kode XSGO, diterbitkan PT Syailendra Capital.
- Reksa Dana Syariah Premier ETF Gold Sharia Indonesia dengan kode XGLD, diterbitkan PT Indo Premier Investment Management.
Bursa menyatakan seluruh produk akan resmi tercatat apabila semua persyaratan pencatatan unit penyertaan reksa dana berbentuk kontrak investasi kolektif (KIK) telah terpenuhi.
EGR Pegadaian Jadi Tulang Punggung Underlying
Faktor kunci dari kelima ETF emas ini adalah dukungan instrumen Electronic Gold Receipt (EGR) milik PT Pegadaian (Persero), yang baru saja memperoleh kode International Securities Identification Number (ISIN) dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Melalui Pengumuman Nomor PENG-404/KSEI.3.JKU/ISIN/082026 tertanggal 4 Agustus 2026, KSEI menerbitkan kode ISIN IDT000000103 untuk EGR Pegadaian SNI 99.99 dengan kode efek PPGDSNI9999EGR.
EGR tersebut diterbitkan dalam bentuk elektronik menggunakan mata uang rupiah, didukung 10.000.000 miligram atau setara 10 kilogram emas dengan tingkat kemurnian 99,99% sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Emas fisik inilah yang menjadi aset dasar untuk menerbitkan EGR sekaligus menjadi underlying kelima ETF emas tersebut. Head of Corporate Communications KSEI Adisty Widyasari menegaskan penerbitan kode ISIN EGR Pegadaian memang dilakukan untuk mendukung pengembangan ETF emas di pasar modal Indonesia.
Ekosistem Bullion Bank Naik Daun: Kelolaan Tembus 150 Ton Emas
Peluncuran ETF emas ini beriringan dengan pertumbuhan pesat bisnis emas perbankan. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman menyatakan total kelolaan ekosistem bullion di Indonesia telah menembus lebih dari 150 ton emas.
"Perkembangan kegiatan usaha bullion menunjukkan tren yang positif. Saat ini total kelolaan ekosistem emas telah mencapai lebih dari 150 ton emas, yang antara lain mencakup layanan simpanan emas, penitipan emas, pembiayaan emas, dan perdagangan emas," ujar Agusman dalam jawaban tertulis, Jumat (7/8/2026). Namun hingga kini baru dua lembaga jasa keuangan yang mengantongi izin menyelenggarakan kegiatan usaha bullion, yakni PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) dan PT Pegadaian (Persero).
Katalis Harga Emas: Reli Tujuh Pekan di Tengah Ketidakpastian Global
Momentum ETF emas ini turut ditopang penguatan harga logam mulia yang impresif. Mengutip CNBC, pada Jumat (7/8/2026) harga emas spot naik 0,6% ke US$4.271,33 per ons, setelah menyentuh level tertinggi sejak 18 Juni sekaligus tertinggi tujuh pekan. Sementara itu, harga kontrak emas berjangka AS berada di level US$4.299,60 per ons. Sebelumnya, pada Rabu pekan ini logam mulia mencatat lonjakan tajam hingga reli 4%.
Di pasar domestik, harga emas batangan Antam sempat meroket Rp50.000 ke Rp2.679.000 per gram pada Kamis (6/8/2026) sebelum terkoreksi Rp29.000 ke Rp2.650.000 per gram pada Jumat (7/8/2026), dengan harga buyback Rp2.461.000 per gram. Reli ini didorong ekspektasi penurunan suku bunga The Fed serta ketegangan geopolitik di Selat Hormuz yang kembali memanaskan harga minyak dan mendorong investor berlindung ke aset safe haven.
Peluang dan Risiko Investor Ritel
Hadirnya lima ETF emas sekaligus memperluas akses investor ritel terhadap emas tanpa perlu repot menyimpan fisik logam mulia. ETF emas memungkinkan investor membeli eksposur emas dalam pecahan kecil di pasar sekunder dengan likuiditas yang jauh lebih baik, plus karakter syariah yang menjangkau segmen investor religius. Ditambah ekosistem bullion bank yang kini mengelola lebih dari 150 ton emas, infrastruktur investasi emas di Indonesia semakin lengkap dari hulu ke hilir.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko, antara lain pergerakan harga emas yang fluktuatif, potensi koreksi tajam setelah reli signifikan, serta biaya pengelolaan dan selisih harga (spread) antara harga jual dan buyback. Analis menyarankan pengendapan investasi emas dalam porsi moderat sebagai diversifikasi portofolio, bukan spekulasi jangka pendek.
