Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
Komoditas netral ⏱ 6 menit

Emas Koreksi 9,33% YTD, ANTM Cetak Laba Naik 106%, Masih Menarik?

Emas Koreksi 9,33% YTD, ANTM Cetak Laba Naik 106%, Masih Menarik?
Photo by Jingming Pan on Unsplash

Harga emas dunia terkoreksi 9,33% ke US$4.031 per troy ounce sepanjang paruh pertama 2026 setelah reli spektakuler 61% pada 2025. Meski demikian, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) tetap mencatatkan kinerja fundamental solid dengan laba bersih Rp7,92 triliun atau melonjak 106% pada 2025. Analis memproyeksikan emas masih berpeluang menguat ke US$4.600-US$4.800 di akhir tahun.

Konteks: Emas Kehilangan Kilau di Paruh Pertama 2026

📎 Baca Juga

Harga emas dunia memasuki paruh pertama 2026 dengan performa yang kontras dibandingkan tahun sebelumnya. Data Trading Economics menunjukkan harga emas telah terkoreksi dari level US$4.446 per troy ounce pada awal tahun menuju US$4.031,4 pada perdagangan Kamis (2/7/2026). Artinya, logam mulia ini telah tergerus 9,33% sepanjang tahun berjalan.

Penurunan ini berbanding terbalik dengan kinerja gemilang emas sepanjang 2025. Tahun lalu, harga emas mampu mencatatkan penguatan luar biasa sebesar 61,34%, melesat dari US$2.685 menjadi US$4.332 per troy ounce di akhir tahun. Emas bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di atas level US$5.000.

Pada akhir semester I 2026, tepatnya Selasa (30/6/2026), harga emas ditutup di posisi US$4.007,23 per troy ounce. Secara teknikal, harga emas masih berada dalam tren bearish setelah menembus garis tren kenaikan jangka menengah. Koreksi ini memicu pertanyaan besar tentang arah pergerakan emas di paruh kedua.

Di pasar domestik, harga emas perhiasan juga menunjukkan dinamika. Harga emas di gerai Lakuemas pada Kamis (2/7/2026) dibanderol Rp2,16 juta per gram untuk kadar tertinggi. Sementara di Rajaemas, harga jual emas mencapai Rp2,23 juta per gram. Harga emas logam mulia Antam juga mengalami penyesuaian mengikuti pergerakan harga global.

Faktor Pendorong: Dolar Perkasa, Ambil Untung, dan AI Booming

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengidentifikasi beberapa penyebab utama koreksi harga emas. Pertama, penguatan dolar Amerika Serikat yang perkasa dalam beberapa bulan terakhir. Investor global mengalihkan dananya dari aset safe haven menuju dolar AS yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.

Kedua, aksi ambil untung besar-besaran setelah reli harga emas yang spektakuler. "Saya melihat sementara ini terjadi aksi ambil untung besar-besaran karena kenaikannya spektakuler ya. Jadi biarpun dihitung harga sekarang pun masih double dibandingkan dua tahun lalu," kata Lukman saat ditemui di Jakarta, Kamis (2/7/2026).

Fenomena AI booming juga dinilai menjadi katalis negatif bagi emas. Investor berbondong-bondong memindahkan dananya ke sektor teknologi yang tengah mendapatkan cerita pertumbuhan kuat. Rotasi sektoral ini membuat emas kehilangan pamor sebagai aset investasi pilihan utama.

Dari sisi moneter, sikap bank sentral Amerika Serikat yang masih cenderung hawkish turut menekan harga emas. Pidato Chairman The Fed Kevin Warsh yang menjanjikan reformasi total dan era baru ekonomi AS memicu ekspektasi suku bunga tetap tinggi. Emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi kurang menarik dalam lingkungan suku bunga tinggi.

Meski demikian, Lukman menilai bank-bank sentral global akan terus mempertahankan pembelian emas fisik secara konsisten. Permintaan fisik terhadap logam mulia diperkirakan tetap kuat pada periode mendatang. Ini menjadi penopang fundamental bagi harga emas di tengah tekanan jangka pendek.

Dampak pada Emiten Emas: ANTM Justru Cetak Kinerja Solid

Di tengah koreksi harga emas, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) justru mencatatkan kinerja fundamental yang gemilang. Penjualan emas ANTAM mencapai Rp66,47 triliun sepanjang 2025, meningkat 15% dibandingkan Rp57,56 triliun pada 2024. Permintaan yang tetap kuat menjadi pendorong utama pertumbuhan ini.

Peningkatan penjualan mendongkrak pendapatan perseroan yang naik 22% menjadi Rp84,64 triliun pada 2025, dibandingkan Rp69,19 triliun pada tahun sebelumnya. Kinerja ini sejalan dengan pertumbuhan laba perusahaan yang melesat signifikan. ANTM mencatatkan laba tahun berjalan sebesar Rp7,92 triliun pada 2025, melonjak 106% dibandingkan laba 2024 yang sebesar Rp3,85 triliun.

Hasil positif berlanjut di 2026. Hingga Triwulan I-2026, ANTM membukukan laba periode berjalan sebesar Rp3,66 triliun. Jumlah ini meningkat 58% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,32 triliun. Target penjualan emas tahun 2026 berada di kisaran 43-45 ton, menunjukkan optimisme manajemen.

Di pasar saham, ANTM ditutup menguat 5,75% ke level Rp2.760 pada Kamis (2/7/2026). Saham emiten pelat merah ini bergerak di rentang Rp2.640-Rp2.760 dengan nilai transaksi mencapai Rp292,8 miliar. Sehari sebelumnya, saham ANTM berada di level Rp2.610 atau naik 0,77%.

Investor asing juga menunjukkan minat terhadap ANTM. Aksi borong saham oleh asing tercatat konsisten selama sepekan terakhir dengan net buy mencapai Rp306,45 miliar. Ini menjadi indikator penting bagi potensi pergerakan saham ke depan. ANTM masuk dalam radar investor yang mencari eksposur ke sektor emas.

Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menuturkan tren harga emas global yang tetap kuat sebagai aset safe haven di tengah eskalasi geopolitik di Timur Tengah menjadi katalis positif. Mulai beroperasinya pabrik Smelter Grade Alumina (SGA) juga memperkuat segmen bisnis perseroan di luar emas.

Nafan memproyeksikan laba bersih emiten emas akan tetap tumbuh secara solid sepanjang tahun ini. Meski begitu, soliditas ini diramal tidak melebihi laju kinerja fundamental sepanjang tahun lalu. "Segmen emas merupakan mesin utama pendapatan perusahaan. Ketika volume penjualan ritel naik dibarengi harga premium domestik yang stabil, top-line dan bottom-line otomatis naik signifikan," jelas Nafan.

Risiko: Royalti, Windfall Tax, dan Volatilitas Harga

Di balik kinerja solid, sejumlah risiko perlu dicermati investor. Nafan mengingatkan adanya wacana kebijakan domestik terkait penyesuaian tarif royalti maupun windfall tax untuk sektor pertambangan. Jika diimplementasikan, kebijakan ini dapat menggerus margin keuntungan emiten tambang termasuk ANTM.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie, menambahkan partisipasi retail tidak sepenuhnya akan meningkatkan kinerja ANTM secara signifikan meskipun memberikan dorongan. ANTM adalah emiten yang kinerjanya sangat bergantung pada perkembangan harga komoditas dan kebijakan regulasi di sektor minerba.

Selain itu, meningkatnya risiko inflasi global membuat investor semakin selektif dalam menambah kepemilikan emas. Kondisi ini tidak terlepas dari lonjakan harga emas yang telah berlangsung signifikan dibandingkan dua tahun terakhir. Investor perlu mencermati bahwa koreksi bisa berlanjut jika dolar AS terus menguat.

Outlook Paruh Kedua 2026: Masih Ada Ruang ke US$4.800

Lukman Leong dari Doo Financial Futures memperkirakan harga emas masih memiliki ruang penguatan hingga akhir 2026. Proyeksi tersebut didukung oleh ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung serta permintaan bank sentral yang konsisten.

"Saya melihatnya masih ada kemungkinan besar ke sekitar US$4.600 sampai US$4.800. Jadi tetap di bawah US$5.000 untuk perkembangan saat ini. Kita bisa lihat kalau The Fed juga masih tetap hawkish, ekspektasi suku bunga malah terus naik," kata Lukman.

Namun Lukman mengingatkan investor untuk tidak berharap kenaikan spektakuler seperti sebelumnya. "Kalau kita mengharapkan kenaikan spektakuler seperti sebelumnya, mungkin tidak akan terjadi. Idealnya harga emas akan naik secara bertahap, tidak seperti dua tahun terakhir," tegasnya.

Adrian Djie dari Kiwoom Sekuritas tetap optimistis terhadap prospek ANTM. Ia merekomendasikan Buy dengan target harga jangka panjang Rp4.800 per saham. Target ini didukung oleh upaya manajemen mendorong penjualan emas untuk menyamai atau melampaui rekor tahun 2024.

Sementara Nafan dari Mirae Asset memberikan rekomendasi Accumulative Buy untuk ANTM dengan target harga Rp3.430. Rekomendasi ini mempertimbangkan pertumbuhan volume penjualan logam mulia yang stabil di atas target manajemen serta katalis positif dari operasional pabrik SGA.

Disclaimer: Artikel ini merupakan analisis dan bukan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa depan. Seluruh data dan proyeksi bersumber dari analis dan institusi yang disebutkan.

FAQ

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Mengapa harga emas turun 9,33% di paruh pertama 2026?

Tiga faktor utama: (1) penguatan dolar AS yang membuat investor mengalihkan dana dari emas ke dolar, (2) aksi ambil untung besar-besaran setelah reli spektakuler 61% di 2025, dan (3) fenomena AI booming yang membuat investor merotasi dana ke sektor teknologi. Sikap hawkish The Fed di bawah Kevin Warsh juga turut menekan harga emas.

Berapa kinerja keuangan ANTM terbaru?

ANTM mencatatkan kinerja solid: penjualan emas Rp66,47 triliun di 2025 (naik 15%), pendapatan Rp84,64 triliun (naik 22%), dan laba bersih Rp7,92 triliun (melonjak 106%). Di Q1 2026, laba mencapai Rp3,66 triliun (naik 58% YoY). Target penjualan emas 2026 di kisaran 43-45 ton.

Apa rekomendasi analis untuk saham ANTM?

Kiwoom Sekuritas (Adrian Djie) merekomendasikan Buy dengan target jangka panjang Rp4.800. Mirae Asset Sekuritas (Nafan Aji Gusta) merekomendasikan Accumulative Buy dengan target Rp3.430. Keduanya optimistis terhadap prospek ANTM didukung target penjualan emas yang ambisius.

Berapa proyeksi harga emas hingga akhir 2026?

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong memproyeksikan harga emas berpeluang menguat ke kisaran US$4.600-US$4.800 pada akhir 2026, namun tetap di bawah US$5.000. Kenaikan diprediksi bertahap, tidak sespektakuler dua tahun terakhir. Permintaan bank sentral global dan ketidakpastian geopolitik menjadi penopang.

Apa risiko utama investasi di saham emiten emas saat ini?

Risiko utama meliputi: (1) wacana penyesuaian tarif royalti dan windfall tax sektor pertambangan yang dapat menggerus margin, (2) volatilitas harga emas global yang dipengaruhi kebijakan The Fed dan penguatan dolar AS, (3) ketergantungan tinggi ANTM pada segmen emas sebagai kontribusi pendapatan terbesar.

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter
Sumber: CNBC Indonesia - Harga Emas Bertengger di Atas US$4.000, Bagaimana Prospek Saham Antam? (2/7/2026), Bisnis Indonesia - Penentu Nasib Emiten Emas ANTM, BRMS Cs di Paruh Kedua 2026 (3/7/2026), CNBC Indonesia - Ditutup Menguat 5,75%, Saham ANTM Siap Balik ke Rp3.000? (2/7/2026), CNBC Indonesia - Masih Menarik! Asing Tampung Saham ANTM, Net Buy Tembus 306,45 M (1/7/2026), Trading Economics - Data harga emas dunia YTD 2026, Bisnis Indonesia - Harga Emas Perhiasan Hari Ini Kamis 2 Juli 2026