Harga emas kembali menjadi primadona. Pada perdagangan Kamis (6/8/2026), harga emas dunia melonjak tajam dan mencatat kenaikan harian terbesar sejak Februari. Emas spot diperdagangkan naik lebih dari 4 persen ke kisaran US$4.250 per troy ounce, dan ditutup sekitar US$4.248,45 per troy ounce pada perdagangan terakhir di New York. Harga perak juga ikut menguat lebih dari 4 persen di sesi yang sama.
Reli ini sekaligus melanjutkan tren penguatan emas untuk hari keempat berturut-turut, membawa harga logam mulia ke level tertinggi dalam tujuh pekan terakhir. Di dalam negeri, kenaikan harga global langsung terpantul pada harga emas batangan Antam yang dikutip dari laman Logam Mulia. Pagi ini (6/8) pukul 09.06 WIB, harga emas Antam meroket Rp50.000 menjadi Rp2.679.000 per gram, dari sebelumnya Rp2.629.000 per gram pada Rabu (5/8). Harga beli kembali (buyback) bahkan melonjak Rp90.000 menjadi Rp2.490.000 per gram.
Empat Katalis Utama Penggerak Harga Emas
đ Baca Juga
- Penertiban Tambang Timah Ilegal Jadi Katalis Produksi dan Kinerja TINS: Produksi Naik 75%, Laba Melonjak 805%
- El Nino & Krisis BBM Mengancam Produksi Sawit RI-Malaysia: Harga CPO Bisa Mengetat, Ini Dampaknya ke Saham AALI, LSIP, SIMP
- HBA Batu Bara Agustus 2026 Anjlok ke US$124,44/Ton, Kalori Rendah Justru Naik â Ini Dampaknya ke Saham ADRO, PTBA & ITMG
Melonjaknya harga emas hari ini didorong kombinasi sentimen geopolitik, moneter, dan teknikal. Berikut empat katalis utamanya.
Pertama, harapan pembukaan kembali Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz berpotensi tercapai dalam waktu dekat. Prospek ini membuat pasar memperkirakan tekanan ekonomi global berkurang dan memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter AS.
Kedua, pelemahan dolar AS. Indeks dolar AS turut melemah, membuat harga emas menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain. Imbasnya, permintaan terhadap logam mulia cenderung meningkat.
Ketiga, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed berkurang. Pasar kini memperkirakan The Fed hanya akan menaikkan suku bunga satu kali hingga akhir 2026, lebih rendah dari ekspektasi sebelumnya yang memperkirakan dua kali. Prospek kebijakan moneter yang tidak terlalu agresif menjadi sentimen positif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil (yield).
Keempat, faktor teknikal. Setelah menembus level resistance penting, harga emas memicu gelombang aksi beli baru dari investor. Kepala Strategi Logam MKS PAMP, Nicky Shiels, menilai penembusan level tersebut mempercepat kenaikan harga emas dan emas masih berpotensi menguat menjelang rapat kebijakan The Fed September mendatang, terutama jika dolar AS tetap lemah atau kekhawatiran inflasi masih tinggi.
Antam di Indonesia: Buyback dan Harga Pegadaian Ikut Naik
Di pasar domestik, efek kenaikan harga global langsung terasa. Harga emas Antam ukuran 0,5 gram tercatat Rp1.389.500, sementara ukuran 2 gram menjadi Rp5.298.000, 5 gram Rp13.170.000, dan 10 gram Rp26.285.000. Harga buyback yang naik Rp90.000 ke Rp2.490.000 per gram juga memangkas jarak dengan rekor all-time high (ATH). Perlu dicatat, setiap transaksi buyback dengan nilai di atas Rp10.000.000 akan dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 1,5 persen.
Pegadaian pun ikut menyesuaikan harga pada pembaruan siang hari. Harga emas Galeri 24 ukuran 1 gram naik Rp70.000 menjadi Rp2.658.000, emas Antam ukuran 1 gram di Pegadaian naik Rp52.000 menjadi Rp2.787.000, dan emas UBS ukuran 1 gram naik Rp71.000 menjadi Rp2.716.000.
Masih Di Bawah Puncak Sebelum Perang Iran
Meski melonjak tajam, harga emas sebenarnya masih berada di bawah level sebelum konflik Iran dimulai pada akhir Februari 2026. Sejak konflik tersebut, harga emas sempat terkoreksi hampir 20 persen karena lonjakan harga energi menekan inflasi dan membuat pasar memperkirakan suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama.
Di sisi lain, Gubernur The Fed Lisa Cook kembali menegaskan bahwa bank sentral siap menaikkan suku bunga apabila inflasi tidak menunjukkan penurunan menuju target 2 persen. Pasar akan terus mencermati rapat kebijakan The Fed pada September, yang menjadi penentu arah pergerakan harga emas dan logam mulia lainnya ke depan. Dengan fundamental pelemahan dolar yang masih berlanjut dan prospek kebijakan moneter yang tidak terlalu agresif, emas dinilai masih memiliki ruang untuk melanjutkan reli meski volatilitas tetap tinggi.
