Pasar logam fundamental dunia sedang diramaikan oleh reli harga tembaga yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada pekan kedua Agustus 2026, harga komoditas yang dijuluki sebagai 'logam listrik' ini berhasil mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang sejarah, bertahan di atas US$6,6 per pon dan sempat menembus level US$6,7 per pon. Penguatan ini terjadi di tengah kombinasi pasokan global yang semakin ketat, lonjakan kebutuhan untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI), serta ekspektasi perlambatan kenaikan suku bunga The Fed.
Rekor Baru di Atas US$14.000 per Ton
đ Baca Juga
- Penertiban Tambang Timah Ilegal Jadi Katalis Produksi dan Kinerja TINS: Produksi Naik 75%, Laba Melonjak 805%
- El Nino & Krisis BBM Mengancam Produksi Sawit RI-Malaysia: Harga CPO Bisa Mengetat, Ini Dampaknya ke Saham AALI, LSIP, SIMP
- HBA Batu Bara Agustus 2026 Anjlok ke US$124,44/Ton, Kalori Rendah Justru Naik â Ini Dampaknya ke Saham ADRO, PTBA & ITMG
Berdasarkan data perdagangan global, harga tembaga di London Metal Exchange (LME) bergerak stabil di atas US$14.000 per ton, mendekati rekor tertinggi sepanjang masa. Analis komoditas ING, Warren Patterson dan Ewa Manthey, menilai penguatan harga tembaga didukung oleh penimbunan stok yang berkaitan dengan kebijakan tarif di Amerika Serikat serta ketatnya pasar fisik di sejumlah wilayah lain. Faktor eksternal ini memperkuat tren kenaikan harga yang sudah berlangsung sepanjang tahun berjalan.
Secara kumulatif, harga tembaga tercatat naik sekitar 18% sepanjang 2026 hingga awal Agustus, mencerminkan ekspektasi pasar terhadap permintaan yang tetap kuat di tengah kondisi pasokan global yang relatif terbatas. Pertambangan bijih tembaga kelas dunia kerap mengalami penurunan kadar dan keterbatasan ekspansi tambang baru, sehingga tekanan pasokan berpotensi berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.
Permintaan AI dan EV Jadi Katalis Utama
Permintaan yang melonjak menjadi penopang utama reli harga tembaga. Tembaga adalah komponen vital dalam jaringan listrik, pusat data (data center), dan sistem transmisi tenaga untuk kendaraan listrik (EV). Gelombang pembangunan infrastruktur AI global yang masif, mulai dari data center hingga jaringan kabel tegangan tinggi, mendorong kebutuhan tembaga ke level baru. Lonjakan permintaan ini terjadi di saat mayoritas analis melihat penawaran pasar jangka pendek terus menyempit.
Selain faktor fundamental, sentimen makro turut mendorong penguatan logam ini. Rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat pada Jumat (7/8/2026) yang menunjukkan non-farm payroll justru turun 23 ribu (jauh di bawah ekspektasi pasar sekitar +80 ribu) meredam kekhawatiran kenaikan suku bunga The Fed pada September. Pelemahan dolar AS dan lingkungan suku bunga yang lebih akomodatif menjadi angin segar bagi komoditas berbasis dolar seperti tembaga.
Amman Mineral (AMMN) dan Merdeka (MDKA) Jadi Penerima Manfaat
Bagi pasar saham Indonesia, reli harga tembaga menjadi katalis positif bagi emiten tambang penghasil logam merah tersebut. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), pengelola tambang tembaga-emas Batu Hijau di Sumbawa, dinilai analis sebagai emiten yang paling diuntungkan. Saham AMMN tercatat melonjak hingga 26% dalam periode penguatan, didorong prospek kinerja ekspor konsentrat tembaga dan rampungnya proyek smelter yang meningkatkan nilai tambah domestik.
Sementara itu, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) membukukan pendapatan penjualan US$775,6 juta atau sekitar Rp14 triliun pada kuartal II-2026, ditopang oleh kinerja segmen emas, tembaga, dan nikel yang terus berkembang. MDKA juga mencatat kemajuan signifikan pada proyek Tembaga Tujuh Bukit (TB Copper) yang menjadi salah satu sumber pertumbuhan jangka panjang perseroan. Diversifikasi bisnis di tiga logam utama tersebut membuat MDKA semakin berdaya tahan di tengah fluktuasi harga komoditas.
Kebijakan Hilirisasi dan Prospek Sektor Tambang
Di sisi kebijakan, pemerintah menegaskan komitmen terhadap hilirisasi mineral. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia kembali menegaskan larangan ekspor mineral mentah, termasuk konsentrat tembaga dan bauksit, demi meningkatkan nilai tambah dan menciptakan lapangan kerja di dalam negeri. Kebijakan ini mendorong perusahaan tambang untuk mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan, yang meski meningkatkan kebutuhan modal, dalam jangka panjang memberikan margin yang lebih sehat bagi emiten domestik.
Reli harga tembaga turut beriringan dengan penguatan pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan Jumat (7/8/2026) berhasil menembus level psikologis 6.400 dan ditutup menguat 1,04% ke 6.409,65, dengan sektor tambang dan energi menjadi salah satu motor penggerak utama. Kombinasi antara rekor harga komoditas, redanya ketegangan geopolitik, serta fundamental ekonomi domestik yang solid membuat prospek emiten logam tanah air tetap menarik untuk dicermati pada semester II-2026.
