JAKARTA, 1 Oktober 2026 â Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Kamis (1/10/2026), turun 1,02% atau 61,64 poin ke posisi 6.009,50. Ini menandai penurunan untuk hari keenam berturut-turut, sementara dalam satu minggu terakhir IHSG merosot 4,59% dan kini berada 30,50% di bawah level awal tahun 2026. Tekanan pasar tidak hanya datang dari aksi jual investor asing yang mencatat net sell Rp241,86 miliar, tetapi juga dari peluncuran resmi fasilitas short selling yang baru saja diresminkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 1 Oktober 2026.
Net Sell Asing Terus Mengalir, IHSG Tekan di Zona Merah
đ Baca Juga
Pada perdagangan Kamis, investor asing kembali mencatatkan net sell sebesar Rp241,86 miliar di seluruh pasar, dengan Rp240,43 miliar dari pasar reguler saja. Ini masih jauh di bawah catatan net sell sehari sebelumnya yang mencapai Rp1,56 triliun pada 30 September 2026, namun cukup menunjukkan arus keluar modal asing yang masih berkelanjutan.
Saham-saham dengan net sell terbesar asing pada Kamis (1/10) adalah:
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI): Rp68,5 miliar
- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO): Rp68,3 miliar
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): Rp41,1 miliar
Di sisi lain, saham-saham dengan net buy terbesar asing adalah:
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA): Rp79,1 miliar
- PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG): Rp74,7 miliar
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM): Rp57,6 miliar
Pada perdagangan 30 September 2026 â hari sebelumnya â daftar saham terjual asing justru didomin oleh sekuritas-struktural blue chip. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI Business menunjukkan net sell asing mencapai Rp1,61 triliun di seluruh pasar, dengan 10 saham terjual terbesar termasuk BBCA (Rp231,1 miliar), TLKM (Rp225,11 miliar), dan BMRI (Rp205,94 miliar). Volume perdagangan pada hari itu mencapai 30,12 miliar saham dengan nilai transaksi Rp14,03 triliun.
Sementara itu, pergerakan sektoral pada perdagangan Kamis (1/10) menunjukkan 9 dari 10 sektor indeks turun. Hanya sektor energi yang berhasil melewatkan tekanan, menguat 0,31%. Sektor teknologi ambruk 3,93%, tertekan kuat oleh penurunan harga GOTO. Sektor transportasi dan logistik juga anjlok 2,02%, sementara sektor barang baku turun 1,99% dan properti & real estat melemah 1,17%.
Dari sisi fundamental pasar, total volume transaksi bursa pada Kamis mencapai 32,95 miliar saham dengan nilai transaksi Rp11,07 triliun. Secara market breadth, 450 saham menguat, 206 saham melemah, dan 134 saham stagnan, menunjukkan sentimen jual yang mendominasi sesi tersebut.
Short Selling Resmi Diluncurkan, Tension Baru di Pasar
Hari Kamis (1/10/2026) sekaligus menjadi hari pertama pelaksanaan fasilitas short selling yang resmi diluncurkan oleh BEI. Pasalnya, lima saham pertama yang dapat diperdagangkan melalui mekanisme ini adalah: PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
Peluncuran short selling ini tersedia secara eksklusif melalui dua sekuritas, yakni Semesta Indovest Sekuritas dan Ajaib Sekuritas Asia, dengan modal minimum Rp50 juta. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan implementasi pada hari pertama berjalan lancar, dengan sekitar 50 investor yang telah membuka rekening khusus untuk transaksi ini.
Dari lima saham tersebut, BUMI mencatat penurunan terdalam sebesar 2,86% ke Rp170 per saham. ASII tertekan 1,96% ke Rp4.510, dan BBCA melemah 1,23% ke Rp6.000. Hanya INDF yang berhasil menguat 0,37% ke Rp6.750, sementara BRPT ditutup stagnan di Rp140 per saham.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan menilai penerapan short selling saat ini masih wajar karena dilakukan secara bertahap dan terbatas. "Transaksi short selling berpotensi menambah tekanan jual ketika pasar bergejolak dan sentimen negatif menguat. Namum, dampaknya terhadap IHSG pada periode awal diperkirakan belum signifikan karena partisipasi investor masih relatif kecil," katanya. Ia menambahkan bahwa dalam jangka panjang, short selling dapat meningkatkan likuiditas dan membantu pembentukan harga yang lebih efisien, namun investor perlu memahami risiko yang lebih tinggi karena kerugian teoritis dapat terus membesar ketika harga naik.
Faktor Eksternal dan Domestik: Tekanan Ganda yang Menyusahkan Pasar
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengidentifikasi dua dimensi tekanan pasar yang sedang membebani IHSG: internasional dan domestik.
Secara eksternal, tekanan berasal dari tiga faktor utama:
- Yield US Treasury yang masih tinggi â menimbulkan aliran kembali ke aset safe-haven dan mengurangi minat terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang
- Tekanan pada rupiah â menambah beban inflasi impor dan menurunkan daya beli pasar domestik
- Ketidakpastian geopolitik â terutama terkait ketegangan perdagangan dan konflik regional yang masih berlangsung
Di sisi domestik, pasar sedang mencermati reshuffle kabinet yang kembali memunculkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan pemerintah ke depan. "Terkait reshuffle kabinet, dampaknya terhadap pasar sangat bergantung pada persepsi investor terhadap figur yang ditunjuk dan kontinuitas kebijakan ekonomi," kata Nafan. "Dalam jangka pendek, reshuffle dapat meningkatkan volatilitas karena pasar perlu menilai kembali arah kebijakan, koordinasi antarkementerian, serta implikasinya terhadap program fiskal dan ekonomi."
Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menambahkan: "IHSG masih tertekan oleh rupiah, yield US Treasury yang tinggi, dan ketidakpastian geopolitik."
Namun, ada pula beberapa sentimen positif yang muncul. Harga minyak yang turun ke sekitar US$96 per barel menjadi salah satu katalis positif. Selain itu, komentar Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams bahwa belum ada urgensi untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat turut meredam kekhawatiran terhadap arah kebijakan The Fed.
Analisis Teknikal: Support dan Resistance Kritis
Dari perspektif teknikal, beberapa analis telah mengidentifikasi level-level penting yang perlu diawasi pasar:
- Support utama: 6.019 â level Fibonacci yang menjadi titik penting; jika gagal ditempatkan, IHSG berpotensi menguji support berikutnya di 5.854
- Resistance utama: 6.185â6.240 â area yang perlu ditembus untuk membuka peluang technical rebound
- Rentang konsolidasi: 6.000â6.200 â proyeksi Reza Diofanda (BRI Danareksa Sekuritas)
William Hartanto, Founder WH-Project, memaparkan bahwa IHSG masih berada dalam kondisi strong bearish. Setelah sempat menyentuh level 5.973,16 di perdagangan Kamis, IHSG berhasil memulihkan sebagian pelemahan namun tetap berada di bawah level psikologis 6.000. Ia memproyeksikan IHSG masih berpotensi melemah dalam rentang 5.966â6.080 untuk perdagangan Jumat (2/10/2026).
Indikator MACD masih menampilkan sinyal bearish, yang berarti sinyal rebound belum terkonfirmasi secara teknis. Kombinasi tekanan jual asing, kemungkinan tambahan volatilitas dari short selling, dan faktor eksternal yang belum mereda menempatkan IHSG pada kondisi fragarancuh di porsi kritikal antara support 6.019 dan resistance 6.185.
Outlook: Fokus Pada Data Ekonomi Domestik dan Arus Likuiditas Asing
Perhatian pasar kini tertuju pada kedua data ekonomi kunci yang akan dirilis pekan ini:
- Inflasi September 2026 â yang diperkirakan naik tipis, menjadi acuan kebijakan Bank Indonesia
- Neraca perdagangan Agustus 2026 â konsensus menilai surplus mungkin mencapai US$630 juta
Kedua data tersebut akan menjadi indikator penting untuk membaca kondisi eksternal, daya beli domestik, dan ruang kebijakan Bank Indonesia di tengah rupiah yang masih berada pada level lemah. Menurut Reza Diofanda, kombinasi data ekonomi domestik dan sikap The Fed akan menjadi faktor penentu apakah IHSG dapat memutus siklus penurunannya atau harus menghadapi fase konsolidasi yang lebih dalam.
Faktor risiko yang perlu diwaspadkan pada perdagangan mendatang meliputi ketidakpastian reshuffle kabinet, fluktuasi yield AS, dan reaksi pasar terhadap short selling yang baru diluncurkan. Di sisi lain, pelaku pasar juga akan memantau rilis laporan keuangan kuartal III 2026 dari berbagai emiten blue chip yang dapat menjadi pelita bagi pasar jika pengungkapannya melebihi ekspektasi.
