Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melanjutkan kenaikan tiga hari berturut-turut pada perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026, dengan tertutup di level 6.192,92 — naik 74,06 poin atau +1,21%.
Mengutip data RTI Infokom yang dilaporkan CNN Indonesia, total nilai transaksi mencapai Rp12,34 triliun dengan volume perdagangan 48,22 miliar saham. Pada sesi penutupan, 489 saham menguat, 183 saham melemah, dan 120 saham stagnan.
IHSG berada dalam zona hijau sepanjang perdagangan, bergerak di rentang terendah 6.120 dan tertinggi 6.216. Momentum penguatan ini konsisten dengan sesi pertama pagi yang melihat IHSG melonjak 1,26% ke level 6.196,09, sebagaimana dilaporkan Kontan.
Pergerakan ini didorong oleh sentimen positif dari pasar regional. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,2%, Nikkei Jepang menguat 0,7%, dan Hang Seng Hong Kong naik 0,78%. Kontrak berjangka S&P 500 AS juga menguat 0,1%, mendorong likuiditas global yang mendukung pasar saham Asia termasuk Indonesia.
Bank Dunia Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi RI 2026 ke 5,2%
📎 Baca Juga
Dukungan utama bagi sentimen pasar saham Indonesia datang dari optimisme pertumbuhan ekonomi nasional. Bank Dunia (World Bank) dilaporkan oleh Bisnis.com pada Selasa (6/10) telah naikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026 menjadi 5,2%, melebihi target pemerintah yang ditetapkan di rangka kerangka makroekonomi.
Berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 200 perusahaan multinasional di sembilan negara, lebih dari 86 persen perusahaan asal Amerika Serikat (AS) yang sudah beroperasi di Indonesia berencana meningkatkan investasinya. Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, Carolyn Turk, menyampaikan hal ini dalam 14th US-Indonesia Investment Summit.
“Lebih dari 86 persen perusahaan AS yang sudah beroperasi di Indonesia merancang untuk meningkatkan investasi mereka. Jadi, itu sangat bagus,” ujar Carolyn Turk. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang konsisten berada di sekitar 5% selama satu dekade menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan investor. Indonesia juga dinilai tumbuh lebih cepat dibandingkan kawasan Asia Tenggara dan Pasifik secara keseluruhan.
Indonesia diakui memiliki fondasi yang kuat, termasuk kebebasan berinvestasi, stabilitas makroekonomi, pasar modal yang berkembang, tenaga kerja produktif, dan sumber daya alam yang melimpid. Bank of America yang mewakili kepentingan perusahaan asing juga menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi di atas 5% selama bertahun-tahun memberikan pondasi yang sangat baik bagi kelangsungan inovasi dan ekspansi bisnis.
Paket Stimulus Rp31 Triliun: Dukungan Langsung untuk Daya Beli
Di sisi lain, pemerintah juga sedang menyiapkan paket stimulus ekonomi yang meluas. Berdasarkan data dari Bisnis.com, total paket stimulus yang diumumkan mencapai Rp31 triliun, meliputi berbagai bentuk bantuan mulai dari Bantuan Subsidi Upah (BSU), bantuan beras hingga insentif energi.
Paling menonjol adalah program BSU Rp900.000 bagi 13,3 juta buruh, yang akan disalurkan mulai Oktober 2026. Setiap pekerja berhak menerima Rp300.000 per bulan selama tiga bulan — total Rp900.000. Dikutip CNN Indonesia, alokasi anggaran untuk program ini diperkirakan hampir Rp12 triliun. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa skema ini ditujukan untuk pekerja dengan penghasilan maksimal Rp3,5 juta per bulan.
Paket stimulus ini sekaligus menjadi pelopor pertumbuhan konsumsi domestik, yang menjadi asasema pasar saham sektor konsumsi dan keuangan. Program bantuan satu ini kemungkinan akan mendorong rotasi likuiditas yang mendukung valuta saham perbankan dan jasa keuangan.
Sektor Energi dan Pertambangan Unggul, Ditutup oleh Foreign Net Sell
Walaupun IHSG naik kuat, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp629,87 miliar pada perdagangan Selasa. Namun, tidak berarti tidak ada aliran dana masuk. Kontan melaporkan daftar 10 saham dengan net buy terbesar dari asing, dan mayoritas berasal dari sektor energi dan pertambangan:
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA): Rp58,91 miliar
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): Rp45,8 miliar
- PT Timah Tbk (TINS): Rp38,24 miliar
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM): Rp35,76 miliar
- PT Bukit Asam Tbk (PTBA): Rp26,91 miliar
- PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG): Rp20,85 miliar
- PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC): Rp14,34 miliar
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS): Rp11,27 miliar
- PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI): Rp10,37 miliar
- PT Indika Energy Tbk (INDY): Rp4,35 miliar
Sectoral analysis menunjukkan bahwa seluruh 11 indeks sektoral menguat, dengan sektor paling kuat adalah IDX-Transportasi (+3,33%), IDX-Technology (+2,59%), dan IDX-Energy (+2,33%). Di antara saham LQ45, GoTo (GOTO) melonjak 6,90% ke Rp31, Darma Henwa (DEWA) naik 7,51% ke Rp372, dan Indika Energy (INDY) tumbuh 4,28% ke Rp2.680. Di sisi lain, saham-saham keuangan seperti Telkom Indonesia (TLKM) turun 0,87% ke Rp2.270.
Rupiah Stabil di Tengah Tekanan Eksternal
Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.889 per dolar AS pada Selasa sore, menguat tipis 0,10% seiring koreksi indeks dolar AS. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah didukung oleh penurunan yield US Treasury menjelang rilis FOMC minutes, sekaligus menguatnya meyakinkan pasar regional. Namun, rupiah masih berada dalam tekanan penuh mengantisipasi kenaikan suku bunga The Fed yang belum pasti.
Apa yang Diharapkan di Hari Rabu?
Analis pasar menilai IHSG masih berada dalam zona hijau dengan potensi lanjutan pada hari Rabu (7/10). Fokus utama akan pada lanjutan sentimen Asia pasca libur China dan data ekonomi mingguan yang akan dirilis. Beberapa saham yang direkomendasikan untuk diikuti adalah dari sektor energi, teknologi, dan kepemilikan pemerintah yang masih mendapat dukungan net buy asing.
| No | Saham | Net Buy Asing (Rp) |
|---|---|---|
| 1 | Chandra Asri Pacific (TPIA) | 58,91 Milyar |
| 2 | BRI (BBRI) | 45,8 Milyar |
| 3 | Timah (TINS) | 38,24 Milyar |
| 4 | Aneka Tambang (ANTM) | 35,76 Milyar |
| 5 | Bukit Asam (PTBA) | 26,91 Milyar |
