Jakarta, Emiten.org — Pasar modal Indonesia tak berhasil keluar dari tekanan modal keluar global pada akhir pekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,82% ke level 6.247,07 pada perdagangan Jumat, 25 September 2026, setelah imbal hasil obligasi AS melonjak ke level tertinggi dua dekade dan ekspektasi The Fed naikkan suku bunga kembali mendominasi arus likuiditas. Rupiah, yang sempat terjepit melemah hingga Rp17.935 per dolar AS, berhasil memulihkan sebagian kerugian dan ditutup tipis di zona penguatan Rp17.880, sementara investor asing mencatatkan penjualan bersih agresif yang mencapai Rp1,49 triliun dalam dua sesi terakhir.
IHSG Akhiri Pekan di Bawah Tekanan, Zona Merah Bertahan
📎 Baca Juga
IHSG menutup perdagangan pekan di zona merah dengan 51,54 poin (-0,82%) ke posisi 6.247,07. Dari sisi breadth, sepanjang hari tercatat 587 saham melemah, 254 saham tak bergerak, dan hanya 122 saham yang berhasil menguat.
Mengutip Stockbit, volume perdagangan tercatat semakin meningkat mencapai 23,93 miliar lembar. Total lot yang diperdagangkan mencapai 239,26 juta lot dengan nilai transaksi menembus Rp8.139 triliun.
Pelemahan IHSG hari ini terbebani oleh sektor jasa akademik dan pendidikan yang anjlok 10,26%, disusul sektor industri yang turun 1,9%, dan sektor properti yang -1,4%. Di antara saham pemberat yang mendorong IHSG turun, tercatat PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Di sisi lain, penopang koreksi yang relatif terbatas antara lain PT Fortune Indonesia Tbk (FORU), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG).
Yield AS Rekor ke 5,48% dan 5,20%, Fed Perluas Kemungkinan Kenaikan Suku Bunga Lagi
Mentari pekan ini seluruhnya dibawa oleh guncangan pasar global. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor panjang melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari 22 tahun. Yield Treasury 30 tahun mencapai 5,48%, tertinggi sejak Juni 2004, sementara yield 10 tahun menyentuh 5,20%, paling tinggi dalam hampir dua dekade.
Lonjakan yield ini mencerminkan gabungan tiga faktor: inflasi yang masih dinilai terlalu tinggi, perekonomian AS yang tetap kuat, dan proyeksi belanja pemerintah yang meningkat. Data ekonomi minggu ini justru memperkuat narasi kekhawatiran. Klaim pengangguran awal AS turun ke 197.000 orang pada pekan lalu, lebih rendah dari perkiraan pasar sebanyak 201.000, menandakan pasar tenaga kerja AS masih cukup ketat. Di sisi lain, inflasi PCE (ukuran inflasi favorit The Fed) Agustus mencatat 3,7%, jauh di atas target The Fed sebesar 2%.
Dua pejabat Federal Reserve membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan. Presiden Philadelphia Fed Anna Paulson menyebut inflasi masih "membandel" dan membuka peluang pengetatan lanjutan, sementara Presiden New York Fed John Williams menilai kenaikan suku bensa lagi di akhir 2026 merupakan langkah yang masuk akal. The Fed telah menaikkan suku bensa acuan 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00% pada pertemuan sebelumnya.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bensa 25 basis poin pada pertemuan The Fed Oktober 2026 mencapai 68,6%, naik dari 55,4% pada pekan sebelumnya. Tekanan ini juga disokong oleh kenaikan harga minyak hampir 4% setelah serangan rudal kelompok Houthi terhadap Arab Saudi yang memunculkan kekhawatiran gangguan pasokan energi. Akibatnya, suku bunga KPR 30 tahun AS kini berada di kisaran 7%, atau satu poin persentase lebih tinggi dibandingkan sebelum Konflik Iran-Israel.
Jual Asing dan Dolar AS Tekan Rupiah dan IHSG
Tekanan yield global menyalurkan dampaknya langsung ke pasar modal dan mata uang berkembang, termasuk Indonesia. Pada perdagangan Kamis, 24 September, investor asing mencatatkan penjualan bersih jumbo sebesar Rp1,49 triliun di seluruh pasar, yang terdiri dari Rp1,42 triliun di pasar reguler dan Rp71,85 miliar di pasar negosiasi serta tunai. Arus jual likuidasi agresif ini menjadi pendorong utama IHSG kembali menguji level terendah beberapa pekan terakhir.
Sepanjang hari Jumat, rupiah berada dalam tekanan. Mata uang Garuda dibuka melemah 0,08% di level Rp17.900, lalu terperosot hingga Rp17.935 per dolar AS. Tekanan itu kemudian mereda menjelang penutupan, sehingga rupiah mampu memulihkan posisi dan kembali ke Rp17.880 — penguatan tipis 0,03% dari posisi perdagangan sebelumnya. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,12% ke 101,169 dan memberi ruang bagi rupiah untuk bangkit.
Di sisi lain, pasar saham Asia-Pasifik bergerak variatif pada Jumat. Nikkei 225 Jepang naik 0,25%, Topix naik 0,40%, sementara S&P/ASX 200 Australia turun 0,48%, mencerminkan ketidakpastian investor terhadap arah pasar global.
BI dan Kemenkeu Siaga Jaga Stabilitas Rupiah
Di tengah gelombang tekanan global, Bank Indonesia (BI) memastikan akan tetap hadir di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah guna menyesuaikan dengan fundamental ekonomi. "Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental dan memastikan mekanisme pasar berjalan baik," ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangan resmi, dikutip Jumat, 25 September 2026.
BI juga memperkuat strategi operasi moneter yang berorientasi pada mekanisme pasar atau pro-market. Kebijakan tersebut dilakukan untuk mengelola struktur suku bensa di pasar uang sekaligus meningkatkan efektivitas stabilisasi nilai tukar. Koordinasi dan komunikasi dengan Kementerian Keuangan serta pelaku pasar juga terus diperkuat; langkah ini diarahkan untuk mendorong aliran modal asing sekaligus mengelola kebutuhan valuta asing di dalam negeri.
BEI Stop Lelang Saham Sendiri Jelang Demutualisasi
Di sela-sela tekanan pasar, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah struktural penting. BEI secara resmi membatalkan Rencana Pelelangan Saham PT Bursa Efek Indonesia untuk Oktober 2026, sesuai pengumuman nomor Peng-00076/BEI.ANG/09-2026 tertanggal 25 September 2026. Pada rencana lelang tersebut, terdapat 11 lembar saham Bursa yang sebelumnya akan dilelang secara terbuka pada Kamis, 1 Oktober 2026, pukul 14.00 WIB.
"Dengan ini kami umumkan bahwa Bursa membatalkan Pelelangan Saham PT Bursa Efek Indonesia Bulan Oktober 2026 dan kami menginformasikan bahwa untuk selanjutnya Bursa tidak akan menyelenggarakan Pelelangan Saham PT Bursa Efek Indonesia," kutip keterbukaan informasi BEI.
Keputusan ini erat kaitannya dengan rencana demutualisasi BEI yang sedang digerakkan. Demutualisasi menjadi bagian dari mandat Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) dan didasarkan pada POJK 13 Tahun 2026. Dalam aturan tersebut, tiga lembagi negara dapat menjadi pemegang saham BEI, yakni Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan BPI Danantara. BEI telah menjadwalkan RUPSLB pada 28 Oktober 2026 untuk memperoleh persetujuan terkait perubahan anggaran dasar guna pelaksanaan demutualisasi.
