Menjelang momentum dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada Oktober 2026, pasar modal dan nilai tukar rupiah tengah merasakan tekanan terberat sejak krisis pascapemilu. Hal ini muncul ketika MSCI (Morgan Stanley Capital International), lembaga pemeringkat indeks pasar modal global, membuka ruang konsultasi untuk menurunkan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Dampaknya langsung terasa: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung anjlok 8,01% saat perdagangan Jumat (16 Oktober 2026) dibuka, sementara nilai tukar rupiah mencium level terjauh Rp18.049 per dolar AS.
Investor, termasuk investor asing, berbondong-bondong keluar dari pasar dalam penjualan yang cukup meluas. Tekanan ini semakin memperparah likuiditas dan menimbulkan ketidakpastian akan likuiditas yang berkelanjutan hingga akhir tahun.
Dampak Langsung Ancaman Downgrade MSCI
📎 Baca Juga
IHSG langsung dilakukan trading halt sehari pertama perdagangan Jumat (16/10) setelah anjlok 8,01%. Menurut laporan Bloomberg pada pukul 11.50 WIB Jumat pagi, rupiah juga anjlok 0,62% ke Rp18.049 per dolar AS. Pada saat penutupan perdagangan, IHSG berada di level 5.185, turun 678,68 poin atau 11,57%.
Indeks sektor pasar modal juga meluas, dengan LQ45 anjlok 13,82% ke level 509 dan KOMPAS100 turun 13,57% ke level 658. Bank-bank besar (big caps) menempati posisi paling rentan, menjadi pemberat utama IHSG.
Tekanan pada Rupiah: Retak Level 18.000
Rupiah kembali menembus batas 18.000 dan kini berada di Rp18.027 per dolar AS, melemah 0,50% secara harian pada Jumat (16/10). Dipicu sentimen MSCI yang masih menggema, tekanan ini semakin memperparah likuiditas pasar dan biaya pinjaman di pasar domestik.
Syafruddin Karimi, ekonom Universitas Andalas, memperingatkan bahwa jika sentimen MSCI bertahan, indeks dolar AS (DXY) dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap tinggi, serta arus keluar modal asing berlanjut, rupiah berisiko bergerak ke kisaran Rp18.200–Rp18.500 per dolar AS. Konsolidasi ini ditambah dengan kenaikan imbal hasil dan lonjakan harga minyak yang memperbesar defisit.
Faktor Eksternal dan Internal yang Memperparah
Beberapa faktor eksternal dan internal telah memperparah kondisi ini:
• Nilai tukar dolar AS (DXY) tinggi — Kebijakan moneter AS yang ketat menjadi daya tarik bagi investor asing untuk kembali ke aset denominasi dolar AS, sekaligus menekan permintaan akan mata uang sekunder seperti rupiah.
• Kenaikan imbal hasil obligasi AS — Obligasi pemerintah AS yang memberikan imbal hasil lebih tinggi relatif menarik mengalihkan alokasi modal ke pasar berkembang, termasuk pasar saham Indonesia.
• Lonjakan harga minyak — Tekanan pada harga energi global memperlebar defisit neraca pembayaran Indonesia dan menekan tekanan pada mata uang rupiah.
• Arus keluar modal asing — Kehilangan aliran modal asing yang berkelanjutan selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, didorong oleh kebijakan fiskal yang dianggap belum menjamin investor.
Bank Indonesia, yang sudah lama menjadi penyeimbang pasar, memiliki ruang kebijakan terbatas. Suku bunga Deposit Facility Bank Indonesia berada di kisaran 4,75%, sedangkan Lending Facility 6,50%. Jika tekanan berkelanjutan, BI mungkin perlu meninjak sesuai kebijakan yang sudah diumumkan.
Proyeksi dan Outlook untuk Akhir Tahun 2026
Laporan pasar keuangan menunjukkan bahwa tekanan dari faktor eksternal dan internal masih akan menekan pasar surat utang domestik hingga akhir tahun. Dengan nilai tukar mencium 18.000-an, biaya impor bahan baku dan energi semakin naik, berpotensi memicu tekanan pada likuiditas pasar dan inflasi struktural.
Investor perlu waspada terhadap volatilitas yang tinggi. Pasar ini tidak lagi didasari fundamental emiten yang sehat, melainkan spekulasi sentimen makro. Sebelum usulan MSCI terkait penurunan status pasar Indonesia, sudah berembus kabar akan ada sanksi kepada pelaku transaksi pasar saham yang melanggar. Hal ini menambah kekhawatiran investor asing dan lokal akan likuiditas yang terus menyusut.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan analitis. Investor harus melakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan investasi.
Penulis: Amalia Nur Fitri (dilaporkan dari laporan pasar Kontan.co.id, 17 Oktober 2026)
