IHSG ditutup menguatkan tekanan di Senin (12/10/2026) dengan anjlok 2,59% ke level 5.936,14 — tembus di bawah level psikologis 6.000. Penurunan sebesar 157,61 poin ini menjadi yang terdalam sejak akhir September, menandai pembukaan pekan yang membuka dengan spekulasi jual masih mendominasi. Seluruh indeks sektoral ikut melemah, sementara rupiah juga menutup melemah ke Rp17.913 per dolar AS. Dengan harga minyak Brent yang masih berada di atas ambang US$100 per barel dan ketegangan militer yang memuncak di Timur Tengah, pasar saham Indonesia kini berada di medan yang tidak menentu, menunggu sinyal dari data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pada Rabu (14/10) mendatang.
Runtuh di Bawah 6.000: Data Penutupan IHSG Senin
📎 Baca Juga
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI Business, IHSG ditutup anjlok 2,59% ke level 5.936,14 pada Senin (12/10/2026). Penurunan sebesar 157,61 poin ini mendorong indeks turun di bawah level psikologis 6.000 — level yang selama ini menjadi pembinaan arah pergerakan pasar.
Total volume perdagangan saham di BEI hari ini mencapai 61,92 miliar lembar dengan nilai transaksi mencapai Rp 13,49 triliun. Secara kuantitatif, sebanyak 602 saham yang turun jadi pemberat indeks, 114 saham yang menguat, dan 77 saham yang stagnan. Rasio ini (602 vs 114) menunjukkan domina-asi jual yang cukup kuat di pasar.
Sumber: Kontan, 12 Oktober 2026
Kuantum-Kuantum Sektor: Siapa yang Paling Dipukul?
Masih menurut laporan Kontan, seluruh indeks sektoral ikut melemah, namun dengan intensitas yang bervariasi. Berikut ini rincian sektor yang turun paling dalam hingga paling sedikit:
- Energi — 5,88%: Tertekan kuat, kaitannya langsung dengan harga minyak yang melemahkan sentimen sektor tambang dan energi.
- Perindustrian — 5,20%: Tembus koreksi kuat, mencerminkan kekhawatiran akan beban energi dan rantai pasok.
- Infrastruktur — 4,72%: Tertekan, sejalan dengan tekanan pasca-investasi dan cost of capital yang tinggi.
- Transportasi — 3,44%: Dipukul oleh ekspektasi biaya bahan bakar dan ketegangan geopolitik.
- Barang Baku — 2,96%: Tekanan dari fluktuasi komoditas internasional.
- Teknologi — 2,88%: Turun seiring sentimen risk-off global.
- Barang Konsumer Non-Primer — 2,23%: Perlahan melemah.
- Properti & Real Estate — 1,34%: Relatif tahan, namun tetap turun.
- Keuangan — 0,98%: Sektor defensif ini relatif lebih kuat, namun tetap melemah.
- Barang Konsumer Primer — 0,93%: Hampir stagnan.
- Kesehatan — 0,77%: Sektor utility ini paling tahan dari jual kuat.
Sumber: Kontan, 12 Oktober 2026
LQ45: CUAN dan GOTO Bom, INKP dan CPIN Bertahan
Di antara 45 saham LQ45, beberapa nama menonjol sebagai top loser. Menurut data Kontan, top losers di LQ45 adalah:
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) — anjlok 14,94% ke Rp 655 per saham
- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) — turun 10,00% ke Rp 27 per saham
- PT XL SMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) — turun signifikan
Di sisi lain, top gainers di LQ45 memberi sedikit kebangkitan di tengah apokalipsis pasar:
- PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) — naik 4,83% ke Rp 8.675 per saham
- PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) — naik 2,03% ke Rp 3.020 per saham
- PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk — naik signifikan, didorong oleh sektor agrikultur yang relatif tahan
Sumber: Kontan, 12 Oktober 2026
Rupiah dan Dolar AS: Valuta di bawah Tekanan
Turunnya IHSG tak berdiri sendiri. Rupiah juga menutup melemah pada Senin ini. Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.913 per dolar AS — melemah 0,08% dari penutupan Jumat (9/10) di Rp 17.899 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga berada di Rp 17.899 per dolar AS, melemah 0,08% dibandingkan posisi Rp 17.884 akhir pekan lalu.
Menurut Direktur Riset ACCM Glenn Yin, dipelirkan oleh Reuters, investor asing mencatatkan penjualan bersih saham sekitar Rp 2,45 triliun (setara US$ 136,87 juta) sepanjang pekan lalu, meskipun IHSG berhasil menguat di akhir pekan. Tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan mahalnya harga minyak membuat pasar keuangan Indonesia rentan terhadap tekanan.
Di pasar valuta asing regional, won Korea Selatan malah menguat hingga 1.332,16 per dolar AS — level terkuat sejak Oktober 2024. Menurut Christopher Wong, Strategist valuta asing OCBC, penguatan won didorong oleh arus transaksi termasuk penjualan dolar AS oleh eksportir, sekaligus menurunya imbal hasil obligasi AS dan harga minyak.
Sumber: Kontan, 12 Oktober 2026
Tiga Ghost Menekan IHSG: Minyak, Konflik, dan CPI
Menurut riset Phintraco Sekuritas, tekanan terhadap IHSG berasal dari tiga faktor eksternal yang saling berkaitungan:
1. Harga Minyak Brent di Atas US$100 per Barel
Harga minyak Brent masih bertahan di atas US$ 100 per barel. Angka ini menimbulkan dua masalah bagi pasar keuangan Indonesia: pertama, meningkatkan biaya impor dan tekanan inflasi; kedua, mendatangkan pertanyaan apakah arus modal asing akan keluar dari pasar obligasi Indonesia ke pasar aset safe-haven lain.
2. Konflik Houthi vs Arab Saudi di Yaman
Ketegangan militer yang memuncak antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman menjadi sumber ketegangan geopolitik yang menambah volatilitas energi. Menurut laporan yang dilaporkan oleh sejumlah sumber pasar, serangan Udara yang dilaporkan pada akhir pekan ini memicu koreksi harga minyak, namun tetap menambah ketidakpastian pasar global.
3. Rilis Data CPI AS — 3,6% YoY Diprediksi untuk September
Investor juga menantikan rilis data indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) Amerika Serikat untuk September pada Rabu (14/10). Konsensus pasar memperkirakan inflasi tahunan AS naik menjadi 3,6% dari 3,4% pada Agustus. Jika hasilnya lebih tinggi dari perkiraan, dolar AS bisa semakin kuat dan tekanan terhadap pasar berkembang seperti Indonesia akan semakin berlanjut.
Sumber: Kontan, 12 Oktober 2026
Teknikal dan Dukungan Berikutnya: Di Mana IHSG Bisa Bertahan?
Dari sisi teknikal, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan menguji area support di kisaran 5.800–5.900 pada perdagangan Selasa (13/10). Beberapa sinyal teknikal yang memunculkan kekhawatiran:
- MACD: Histogram negatif yang semakin melebar, menunjukkan tekanan jual yang masih kuat.
- Stochastic RSI: Pola death cross yang membentuk sinyal downtrend berlanjut.
- Level 6.000: Menjadi batas psikologis krusial — agar tekanan jual mereda, IHSG perlu kembali menembus level ini.
Jika support 5.800–5.900 gagal bertahan, risiko pelemahan lanjutan masih perlu diwaspadai. Sebaliknya, jika IHSG mampu mencapai level 6.000 kembali, peluang pemulihan terbuka — meski tetap bergantung pada aliran modal asing dan data eksternal yang akan datang.
Sumber: Kontan, 12 Oktober 2026
