Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
πŸ† Best Score
IHSG negatif ⏱ 7 menit

IHSG Anjlok 3,28% Sepekan, Asing Jual Rp4,32 Triliun; Rupiah Tembus Rp18.000, BI Tetap 5,75%

IHSG Anjlok 3,28% Sepekan, Asing Jual Rp4,32 Triliun; Rupiah Tembus Rp18.000, BI Tetap 5,75%
Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Pasar keuangan Indonesia berada di bawah tekanan berat selama satu minggu penuh. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 3,28% dalam sepekan dan menyentuh level terendah 6.036,88. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp4,32 triliun, dengan BBRI dan TLKM sebagai saham paling banyak dilepas. Rupiah sempat tembus level psikologis penting Rp18.000 per USD hingga mencapai Rp18.019 di harga intraday, namun pulih ke Rp17.882 di penutupan Jumat (2/10/2026). Tekanan berasal dari yield US Treasury 10 Tahun yang mencapai 5,27% (tertinggi dalam 19 tahun) dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang terus mendatangkan. Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 5,75% sekaligus memperluas alat operasi moneter untuk mendukung likuiditas pasar.

Jakarta, Emiten.org - Pasar keuangan Indonesia tidak kunjung bisa keluar dari tekanan selama satu minggu penuh. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 3,28% dalam lima hari perdagangan dan menyentuh level terendah 6.036,88 pada penutupan Jumat (2/10/2026). Meskipun IHSG berhasil rebound 0,45% pada perdagangan terakhir, tekanan tidak tertandingi. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp4,32 triliun selama sepekan, sementara rupiah sempat tembus level psikologis penting Rp18.000 per dolar AS hingga mencapai Rp18.019 di harga intraday. Kejadian ini semua beriringan dengan yield US Treasury 10 Tahun yang mencapai 5,27% (tertinggi dalam 19 tahun) dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang masih menyesatkan pasar global.

IHSG Anjlok 3,28% Selama Lima Hari Perdagangan

πŸ“Ž Baca Juga

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI Business, IHSG pada perdagangan Jumat (2/10/2026) ditutup rebound 0,45% ke level 6.036,88 setelah berada di rentang 5.979 hingga 6.053. Meski demikian, dalam lima hari perdagangan terakhir, IHSG masih terkoreksi sekitar 3,28% β€” tandanya, tekanan jual tetap mendominasi pekan ini.

Pada sesi I Selasa (29/9), IHSG sempat anjlok hingga 2% ke level 6.079 sebelum pulih ke 6.135 di penutupan. Tekanan ini tak hanya datang dari satu sektor β€” seluruh delapan indeks sektoral BEI bergerak di zona merah. IDX-Techno menjadi sektor dengan penurunan terdalam yakni 2,94%, diikuti IDX-Cyclic yang turun 1,32% dan IDX-Property yang melemah 1,02%.

Pada perdagangan Jumat, volume perdagangan mencapai 121,54 miliar saham dengan nilai transaksi Rp12,25 triliun. Sebanyak 319 saham ditutup menguat, 337 saham melemah, dan 134 saham stagnan β€” gambaran pasar yang masih tidak seimbang dengan jual dominan.

Asing Jual Rp4,32 Triliun Sepekan, BBRI dan TLKM Teratas

Secara keseluruhan, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp4,32 triliun selama seluruh pekan ini di seluruh pasar. Pada perdagangan Jumat saja, asing masih melakukan jual bersih Rp1,27 triliun β€” menandakan tekanan keluar modal asing yang masih berlanjut.

Berikut 10 saham net sell terbesar asing sepekan:

  • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) β€” Rp862,03 miliar
  • PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) β€” Rp566,0 miliar
  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) β€” Rp291,83 miliar
  • PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) β€” Rp126,8 miliar
  • PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) β€” Rp122,44 miliar
  • PT Astra International Tbk (ASII) β€” Rp115,72 miliar
  • PT Darma Henwa Tbk (DEWA) β€” Rp98,23 miliar
  • PT Indosat Tbk (ISAT) β€” Rp83,15 miliar
  • PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) β€” Rp82,5 miliar
  • PT Bukit Asam Tbk (PTBA) β€” Rp78,38 miliar

Di sisi lain, pada Jumat saham-saham yang paling dibeli asing meliputi BBCA (Rp44,19 miliar), PTBA (Rp29,13 miliar), dan ASII (Rp18,06 miliar). Pola ini mengindikasikan perputaran likuiditas antar-sektor dan kesempatan beli di tengah volatilitas tinggi.

Rupiah TemBUS Rp18.000, Pulih ke Rp17.882 di Penutupan

Rupiah juga mengalami tekanan berat selama pekan ini. Pada perdagangan Selasa (29/9), rupiah bahkan tembus melewati level psikologis penting Rp18.000 per dolar AS hingga mencapai Rp18.019 di harga intraday, sebelum memulihkan diri dan ditutup di Rp17.960 (terapresiasi 0,03%).

Pada Jumat (2/10), rupiah spot ditutup di level Rp17.882 per dolar AS β€” menguat 0,47% dari penutupan sebelumnya di Rp17.966. Rupiah berdasarkan kurs JISDOR juga menguat 0,22% secara harian menjadi Rp17.898. Dalam sepekan, rupiah spot menguat total 0,12% dan JISDOR menguat 0,1%.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.750-Rp18.050 per dolar AS pada pekan depan, tergantung dari data eksternal yang akan dirilis.

BI Pertahankan 5,75%, Perluas Alat Operasi Moneter

Bank Indonesia (BI) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 22-23 September 2026 memutuskan mempertahankan BI Rate di 5,75% β€” keputusan ketiga berturut-turut setelah penahanan pada RDG Juli dan Agustus. Suku bunga Deposit Facility tetap 4,75% dan Lending Facility tetap 6,50%.

Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan kebijakan ini sejalan dengan proyeksi inflasi 2026 yang terkendali di dalam sasaran 2,5% Β±1%. Sebagai langkah pendukung, BI juga memperluas penggunaan surat berharga yang dapat digunakan sebagai underlying operasi moneter, termasuk obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi. Langkah ini membuka ruang yang lebih besar bagi perbankan untuk mengelola likuiditas sekaligus mendorong aktivitas pasar keuangan.

Sepanjang September 2026, BI juga terus mendukung adopsi infrastruktur pembayaran digital. Gubernur Damayanti mengungkapkan bahwa hingga kini, penggunaan QRIS telah mencapai sekitar 67 juta orang β€” setara dengan satu dari empat penduduk Indonesia β€” sebagai bagian dari transformasi keuangan nasional.

Yield AS 5,27% dan Ekspektasi Fed Masih Menekan

Tekanan pasar global tidak kunjung reda. Yield US Treasury 10 Tahun mencapai 5,27% pada Sept 29 β€” tertinggi dalam 19 tahun terakhir dan naik hampir 50 basis poin sepanjang September 2026. Kombinasi ini memicu arus modal keluar (capital outflow) yang menekan saham dan mata uang emerging markets, termasuk Indonesia.

Ekspektasi The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga lagi sempat memberi tekanan. Namun, ekonom Ibrahim Assuaibi menyatakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober 2026 kini hanya sekitar 26%, turun tajam dari 69% pada pekan sebelumnya. Hal ini setengahnya didorong oleh data inflasi AS yang lebih rendah serta proyeksi lapangan kerja yang melemah β€” NFP September diperkirakan menambah sekitar 90.000 lagangan kerja, turun dari 162.000 pada Agustus.

Analis Teknikal: IHSG Konsolidasi Bearish, Range 6.000-6.200

Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai penguatan IHSG pada perdagangan Jumat masih mencerminkan technical rebound setelah tekanan jual yang signifikan. Secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan bearish.

Reza menjelaskan bahwa area 6.000 menjadi support psikologis penting yang perlu diwaspadai. Jika level tersebut terlanggar ke bawah, IHSG berpotensi melanjutkan koreksi ke bawah. Di sisi lain, level resistance IHSG berada di kisaran 6.185-6.240.

Indikator teknikal menunjukkan bahwa Stochastic RSI telah membentuk golden cross di area oversold, namun histogram MACD masih berada di area negatif. Alrich, analis lain, memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam kisaran 6.000-6.200 pada perdagangan pekan depan.

Ikuti pula rilis data domestik penting: pada 7 Oktober data cadangan devisa, pada 8 Oktober indeks keyakinan konsumen, dan pada 9 Oktober data penjualan ritel serta penjualan mobil.

FAQ

Q: Berapa level IHSG pada Jumat 2 Oktober 2026?
A: IHSG ditutup rebound 0,45% ke level 6.036,88 pada perdagangan Jumat (2/10/2026). Namun, dalam lima hari perdagangan, IHSG masih anjlok 3,28%.

Q: Berapa jumlah net sell asing selama sepekan?
A: Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp4,32 triliun selama seluruh pekan di seluruh pasar. Pada Jumat saja, asing masih menjual bersih sebesar Rp1,27 triliun.

Q: Apakah Rupiah sudah melewati level Rp18.000?
A: Ya, pada Selasa 29 September 2026, Rupiah sempat tembus melewati level Rp18.000 per dolar AS hingga mencapai Rp18.019 di intraday. Namun, Rupiah berhasil memulihkan diri dan ditutup di Rp17.960.

Q: Berapa proyeksi Rupiah untuk pekan depan?
A: Menurut pengamat Ibrahim Assuaibi, rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.750-Rp18.050 per dolar AS pada pekan depan, tergantung dari berbagai faktor eksternal dan data domestik.

Q: Apakah BI akan menaikkan suku bunga lagi?
A: Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 5,75% pada RDG September 2026 β€” keputusan ketiga berturut-turut. Gubernur Destry Damayanti menegaskan kebijakan ini sejalan dengan proyeksi inflasi yang terkendali.

Q: Bagaimana perkiraan IHSG secara teknikal?
A: Analis BRI Danareksa menilai IHSG dalam fase konsolidasi bearish. Support psikologis berada di level 6.000, sementara resistance di kisaran 6.185-6.240. Proyeksi perdagangan pekan depan berada di rentang 6.000-6.200.

Q: Berapa ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed untuk Oktober?
A: Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober hanya sekitar 26%, turun tajam dari 69% pada pekan sebelumnya. Data inflasi AS yang lebih rendah dan proyeksi NFP yang melemah menurunkan ekspektasi kebijakan ketat.

Q: Saham apa saja yang paling banyak dijual asing?
A: BBRI (Rp862 miliar) dan TLKM (Rp566 miliar) adalah dua saham dengan net sell terbesar asing selama sepekan. Diikuti BBCA (Rp292 miliar) dan MDKA (Rp127 miliar).

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org β€” menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter
Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260929142056-17-771810/ihsg-sempat-anjlok-2-analis-ungkap-biang-kerok-arahnya, https://www.cnbcindonesia.com/market/20260929145546-17-771838/rupiah-berhasil-menguat-dolar-as-parkir-di-level-rp17960, https://www.cnbcindonesia.com/market/20260929152450-17-771854/bank-asing-proyeksi-rupiah-bakal-segini-di-akhir-2026, https://www.cnbcindonesia.com/market/20260929153357-17-771866/ekonom-bilang-dolar-bisa-rp18200-waspada-3-faktor-ini, https://investasi.kontan.co.id/news/asing-net-sell-jumbo-rp-432-triliun-sepekan-cek-saham-yang-banyak-dijual-asing, https://investasi.kontan.co.id/news/bbca-dan-ptba-teratas-simak-saham-net-buy-terbesar-asing-jumat-210, https://investasi.kontan.co.id/news/rupiah-kembali-menguat-simak-proyeksi-nilai-tukar-pekan-depan, https://investasi.kontan.co.id/news/ihsg-berpotensi-sideways-pekan-depan-investor-cermati-saham-energi