Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
IHSG negatif ⏱ 6 menit

IHSG Anjlok 4,35% Sepekan, Era Saham Gocap Rp1 dan Net Sell Asing Raih Rekor Rp78 Triliun

IHSG Anjlok 4,35% Sepekan, Era Saham Gocap Rp1 dan Net Sell Asing Raih Rekor Rp78 Triliun
Wikimedia Commons (Gedung-bursa-efek-1)

Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi membuka batas harga saham gocap minimal Rp1 pada Senin (28/9/2026), sekaligus menjadi pemicu IHSG anjlok 1,51% ke level 6.147,85. Dalam seminggu terakhir, IHSG terjun 4,35% ditarik oleh kebijakan baru BEI dan sentimen asing yang beralih jual, dengan net sell asing mencapai rekor Rp78 triliun. Di sisi lain, rupiah juga melemah menuju level Rp18.000 per dolar AS, dipicu oleh kenaikan harga minyak Brent hingga US$107,3 dan yield US Treasury 10 tahun mencapai 5,2%.

Jakarta, 28 September 2026 — Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi membuka "era saham gocap" pada Senin (28/9/2026), mengizinkan saham-saham berharga rendah untuk diperdagangkan di bawah Rp50, hingga mencapai level minimum Rp1. Namun, langkah regulatif ini justru beriringan dengan penurunan IHSG yang mencatatkan koreksi kuat dalam seminggu terakhir, mengukuhkan tekanan penjual pasca rekor net sell asing.

Pada perdagangan Senin ini, IHSG ditutup melemah 1,51 persen ke posisi 6.147,85, setelah sempat tertekan kuat hingga menyentuh intra hari 6.140,34. Dari data Yahoo Finance (^JKSE), IHSG turun dari 6.441,16 pada Selasa (22/9) ke 6.147,86 pada Senin (28/9), yang berarti koreksi sekitar 4,55 persen dalam seminggu, konsisten dengan laporan 4,35 persen yang dilaporkan media pasar. Selama sesi perdagangan Senin, sebanyak 532 saham melemah, hanya 180 saham menguat, dan 81 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp12,58 triliun dengan volume 37,37 miliar lembar saham.

Ditetapkan pada 21 September: Era Saham Rp1 Resmi Berlaku

📎 Baca Juga

Direksi BEI menetapkan Keputusan Nomor Kep-00136/BEI/09-2026 tentang Perubahan Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas pada 21 September 2026. Keputusan ini secara resmi membuka batas harga saham (floor price) yang sebelumnya tidak boleh di bawah Rp50, dan menggantinya dengan batas minimum Rp1. Dengan demikian, saham yang selama ini "terjebak" di harga Rp50 kini bisa jatuh hingga ke level Rp1 jika ada tekanan jual kuat.

BEI menjelaskan, pembukaan batas saham gocap ini dilengkapi dengan sistem auto rejection baik ARA (Auto Reject Atas) maupun ARB (Auto Reject Bawah), sehingga pembentukan harga tetap terkontrol. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan bahwa beban saham gocap terhadap IHSG relatif kecil, sekaligus menampik bahwa kebijakan ini menjadi katalis utama penurunan IHSG.

"Bobot dari saham-saham yang sudah lama berada di harga Rp50 itu terhadap IHSG tidak terlalu besar," kata Jeffrey kepada awak media, Senin (28/9/2026). Menurutnya, koreksi IHSG belakangan ini lebih dipengaruhi oleh faktor global yang volatil.

23 Saham Gocap Langsung Auto Reject Bawah

Dengan dibukanya batas harga saham gocap, setidaknya 23 saham langsung jatuh ke zona Auto Reject Bawah (ARB) pada perdagangan perdananya. Semuanya anjlok tepat 14 persen ke harga Rp43 per lembar, dengan antrean jual besar yang menahan pembentukan harga di level terendah. Berikut daftar 23 saham ARB berdasarkan data Bloomberg:

NoSaham (Kode)Nama PerusahaanHargaAntrean Jual (lot)
1GOTOPT GoTo Gojek Tokopedia TbkRp43>1 miliar
2DADAPT Diamond Citra Propertindo TbkRp435,76 juta
3WMUUPT Widodo Makmur Unggas TbkRp434 juta+
4KPIGPT MNC Tourism Indonesia TbkRp433,31 juta
5PADIPT Minna Padi Investama Sekuritas TbkRp432,72 juta
6CPROPT Central Proteina Prima TbkRp431,69 juta
7ATLAPT Atlantis Subsea Indonesia TbkRp431,62 juta
8BABPPT Bank MNC Internasional TbkRp431,45 juta
9MAXIPT Maxindo Karya Anugerah TbkRp431,25 juta
10REALPT Repower Asia Indonesia TbkRp431,17 juta
11BCAPPT MNC Kapital Indonesia TbkRp43915 ribu
12NETVPT MDTV Media Technologies TbkRp43878 ribu
13BBKPPT Bank KB Indonesia TbkRp43688 ribu
14EPACPT Megalestari Epack Sentosaraya TbkRp43504 ribu
15BSBKPT Wulandari Bangun Laksana TbkRp43485 ribu
16ASHAPT Cilacap Samudera Fishing Industry TbkRp43371 ribu
17MDLNPT Modernland Realty TbkRp43305 ribu
18HDITPT Hensel Davest Indonesia TbkRp43264 ribu
19HOKIPT Buyung Poetra Sembada TbkRp43216 ribu
20WEGEPT Wijaya Karya Bangunan Gedung TbkRp43316 ribu
21PNBSPT Bank Panin Dubai Syariah TbkRp43140 ribu
22RBMSPT Ristia Bintang Mahkotasejati TbkRp4348 ribu
23WOWSPT Ginting Jaya Energi TbkRp43104 ribu

Di antasanya, GOTO (GoTo Gojek Tokopedia) dan DADA menjadi saham paling diborong penjual dengan antrean jual di titik ARB masing-masing mencapai lebih dari 1 miliar lot dan 5,76 juta lot. Sementara itu, saham-saham bank seperti BBCA turun 1,20 persen, menjadi pemberat tambahan di sektor keuangan.

Net Sell Asing Meroket Rekor Rp78 Triliun

Krisis sentimen tidak hanya datang dari regulasi domestik. Data menunjukkan investor asing mencatat net sell (jual bersih) sebesar Rp78 triliun dalam periode terbaru — rekor tertinggi dalam sejarah pasar saham Indonesia.

Rangkaian outflow ini berlanjut sejak awal pekan. Selama perdagangan Senin (28/9), Phintraco Sekuritas menyebutkan bahwa IHSG melemah lebih dari 1 persen dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah yang kembali dan melemahnya nilai tukar rupiah. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa tekanan jual didominasi oleh aksi jual asing di saham-saham bank, energi, dan teknologi.

Rupiah Dekat ke Rp18.000, Dipaksa Tekanan Eksternal

Seraya IHSG runtuh, rupiah juga semakin terserang tekanan eksternal. Pada Senin (28/9), rupiah di pasar spot melemah 0,46 persen ke posisi Rp17.975 per US$. Di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), rupiah bahkan tembus Rp18.013 — paling lemah sejak 2023.

Beberapa faktor eksternal yang memicu pelemahan rupiah:

  • Harga minyak Brent meroket ke US$107,3 per barel, dipolitisasi ketidakpastian konflik Timur Tengah antara AS dan Iran.
  • Yield US Treasury 10 tahun naik ke 5,2 persen, menambah menarik likuiditas ke aset tunai Amerika Serikat.
  • Indeks dolar AS menguat ke 101,11, memperketat tekanan terhadap mata uang sekelas emerging market.

Dari dalam negeri, inflasi September diperkirakan naik ke 3,3 persen, naik dari 3,19 persen bulan sebelumnya, dipicu oleh kenaikan harga energi. Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan akan memantau situasi dan menggenjot ekspor untuk meningkatkan devisa negara.

BEI: Kebijakan Gocap Bukan Penyebab Utama Koreksi

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, secara tegas menampik bahwa pembukaan batas saham gocap menjadi penyebab utama koreksi IHSG. Ia menjelaskan, bobot saham-saham yang selama ini terjebak di harga Rp50 memang relatif kecil terhadap komposit indeks IHSG.

"Koreksi IHSG belakangan ini disebabkan oleh faktor-faktor yang beragam di tengah situasi ekonomi global yang masih volatil," ujarnya. Menurut Jeffrey, pasar relatif menyambut baik rencana penghapusan batas harga saham gocap sebelumnya.

Analis Pasar dari Phintraco Sekuritas sekaligus mengamini — pelemahan IHSG lebih dipengaruhi oleh guncangan harga minyak, tekanan yield AS, dan aksi jual asing, ketimbang satu-satunya faktor kebijakan floor price.

Apa Artinya untuk Investor?

Bagi investor individu, pembukaan batas saham gocap menciptakan peluang maupun ancaman. Di satu sisi, saham-saham berharga rendah yang longkah ke Rp1 bisa menjadi poin masuk murah bagi trader agresif. Namun, volatilitas yang ditingkatkan dan likuiditas pasca-penjualan massal berarti risiko juga naik tajam.

Sementara itu, dari data historis Yahoo Finance, IHSG berada di ambang kritis. Jika dukum dari level 6.147 ke level terendah terbaru, support psikologis berikutnya bisa berada di sekitar 6.000. Namun, JP Morgan secara masih mempertahankan target IHSG di 7.000 pada akhir 2026 — menunjukkan bahwa sebagian besar analis melihat koreksi saat ini sebagai koreksi teknis, bukan tren jangka panjang.

Kesimpulan: Tekanan Gabungan Regulasi dan Eksternal

Pembukaan era saham gocap Rp1 oleh BEI pada Senin (28/9) berpotesi menambah volatilitas pasar, namun penyebab utama koreksi IHSG yang mencapai 4,35 persen dalam seminggu lebih kompleks. Kombinasi antara:

  • Net sell asing rekor Rp78 triliun;
  • Pelemahan rupiah menuju Rp18.000;
  • Kenaikan harga minyak Brent ke US$107,3;
  • Kenaikan yield US Treasury ke 5,2 persen;
  • Ketidakpastian geopolitik Timur Tengah;
  • Dan faktor teknis pasar saham berharga rendah.

Semua faktor ini bersinggungan, menciptakan lingkungan pasar yang sangat menantang. BEI secara eksplisit menampik kebijakan gocap sebagai katalis utama. Investor diimbau untuk tetap waspada dan tidak hanya fokus pada satu sisi kebijakan.

FAQ

Berapa IHSG ditutup pada Senin, 28 September 2026?

IHSG ditutup melemah 1,51 persen ke posisi 6.147,85, dengan intraday low mencapai 6.140,34.

Berapa IHSG turun dalam seminggu terakhir?

Dari data Yahoo Finance, IHSG turun sekitar 4,55 persen minggu lalu (dari ~6.441 pada 22/9 ke ~6.148 pada 28/9), konsisten dengan laporan koreksi 4,35 persen.

Berapa jumlah saham gocap yang jatuh ke zona ARB?

Setidaknya 23 saham langsung jatuh ke zona Auto Reject Bawah (ARB), semuanya turun 14 persen ke harga Rp43.

Berapa net sell asing di pasar saham Indonesia?

Investor asing mencatat net sell sebesar Rp78 triliun — rekor tertinggi dalam sejarah pasar saham Indonesia.

Seberapa lemah rupiah terhadap dolar AS?

Rupiah melemah ke Rp17.975 di pasar spot dan tembus Rp18.013 di pasar NDF, paling lemah sejak 2023.

Target IHSG apa yang ditetapkan JP Morgan untuk akhir 2026?

JP Morgan mempertahankan target IHSG di 7.000 pada akhir 2026, menunjukkan bahwa koreksi saat ini dianggap sebagai koreksi teknis bukan tren jangka panjang.

Berapa harga minyak Brent saat ini?

Harga minyak Brent mencapai US$107,3 per barel, didorong oleh ketidakpastian konflik Timur Tengah.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter