Pasar saham Indonesia mengalami tekanan kuat pada Senin (28 September 2026), dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,70 persen hingga mencapai level 6.198 pada pukul 10.03 WIB. Penurunan yang cukup signifikan ini disertai melemahnya mata uang rupiah yang berhadapan dengan Dolar Amerika Serikat (AS) di level Rp1.735 per USD.
Menurut laporan Shafinaz Nachiar dalam edisi Profit, CNBC Indonesia, penurunan IHSG dan Rupiah dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal dan internasional. Salah satu pemicunya adalah mulai berlaknyanya aturan baru terkait batas minimal harga saham (batas minimal harga saham Rp1) yang baru saja diberlakukan di Pasar Modal Indonesia. Aturan ini dinilai memberi dampak volatilitas bagi perdagangan saham, terutama pada emiten dengan kapitalisasi pasar kecil.
Tekanan dari Pasar Komoditas Global
Dari sisi pasar komoditas, harga minyak mentah justru menguat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak tawaran damai dari Iran. Lonjakan harga minyak ini menekan tekanan inflasi impor dan secara tidak langsung memicu kekhawatiran mengenai kebijakan moneter global yang lebih ketat. Sementara itu, harga batu bara melemah dan berada di bawah ambang USD 145 AS per ton, sementara harga emas kembali tertekan dan menyentuh level terendah dalam tujuh minggu terakhir.
IHSG dari Puncak ke Koreksi
Konteks penurunan IHSG ini semakin membumiak ketika dikaitkan dengan pergerakan beberapa sesi sebelumnya. Laporan video CNBC Indonesia menunjukkan bahwa IHSG bahkan sempat berada di level 8.500-an pada perdagangan sebelumnya, menandakan ambisi untuk menguji rekor tertinggi. Namun, sentimen berbalik drastis ketika IHSG ditutup ambles lebih dari 2 persen dan kembali ke level 6.800, sebelum kini terus mendalam ke 6.198. Koreksi sebesar lebih dari 2.300 poin dari puncak baru saja terjadi menunjukkan volatilitas yang cukup ekstrem.
BRI Tetap Solid di Tengah Ketidakstabilan
Di tengah ketidakstabilan pasar yang meluas, kinerja sektor keuangan tetap menjadi andalan. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp34,77 triliun per Agustus 2026, naik 6,63 persen secara tahunan (year on year/yoY), menurut laporan keuangan terbaru yang dilaporkan oleh Mentari Puspadini di CNBC Indonesia.
Pada sisi pendapatan, bisnis kredit dan pelayanan keuangan ini tetap tumbuh kuat. Pendapatan bunga perseroan pada kuartal kedelapan (8M26) tercatat sebesar Rp109,66 triliun, tumbuh 0,22 persen YoY. Di sisi lain, beban bunga BRI justru berhasil diturunkan 6,70 persen YoY menjadi Rp32,41 triliun, sehingga pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) tumbuh 3,44 persen YoY sebesar Rp77,25 triliun.
Kredit dan DPK Tumbuh Kuat
Penyaluran kredit perusahaan BRI juga menunjukkan pertumbuhan yang solid. Bank pelat merah ini berhasil menyalurkan kredit perusahaan sebesar Rp1.446,98 triliun, tumbuh 13,66 persen YoY. Menurut data Bank Indonesia (BI), kinerja kredit ini sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata perbankan nasional yang hanya tumbuh 13,65 persen hingga Agustus 2026.
Di sisi Dana Pihak Ketiga (DPK), BBRI berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp1.655,84 triliun, naik 12,59 persen YoY. Pertumbuhan DPK ini memberikan likuiditas kuat untuk mendukung aktivitas kredit dan operasional bank. Total aset BBRI pada Agustus 2026 tercatat sebesar Rp2.127 triliun, yang terdiri dari ekuitas sebesar Rp302,43 triliun dan liabilitas sebesar Rp1.825 triliun.
Apa Artinya untuk Pasar dan Investor?
Gejala ketidakstabilan ini menegaskan pentingnya diversifikasi portofolio dan penggunaan instrumen hedging. Bagi investor, volatilitas IHSG yang turun ke level 6.198 dan Rupiah yang melemah ke Rp1.735 per USD menandakan perlunya eksposur yang lebih selektif terhadap sektor defensif seperti keuangan dan utilitas. Sementara itu, kinerja keuangan yang kuat dari bank-bank besar seperti BRI memberi sinyal bahwa sektor keuangan domestik masih memiliki fundamental yang kuat untuk menyokong pasar.
