Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
IHSG negatif ⏱ 6 menit

IHSG Anjlok 1,88% ke 6.031, Asing Lepas Rp867 Miliar — Bank dan Tambang Terasa

IHSG Anjlok 1,88% ke 6.031, Asing Lepas Rp867 Miliar — Bank dan Tambang Terasa
Foto: Bursa Efek Indonesia, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Pada perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026, IHSG ditutup melemah 1,88% ke level 6.031,28 seiring investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp867,27 miliar. Penjualan paling besar tertuang pada saham bank (BBRI Rp207,29 M, BMRI Rp190,63 M) dan sektor tambang (AMMN, ANTM, TLKM, UNTR). Tekanan juga disokongkan oleh retraksi pasar global (Nasdaq turun 1,25%, S&P 500 turun 0,47%). Di tengah melemahnya pasar, jejak investor strategis Danantara tetap terasa — dari investasi minyak AS lewat ENRG (yang justru anjlok 5%) hingga rencana akuisisi saham 5-10% BEI yang OJK katakan 'belum siap'.

Jakarta, 9 Oktober 2026 — Pada perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam sebesar 1,88% ke level 6.031,28. Penurunan ini terjadi di tengah aliran keluar modal asing yang signifikan, dengan investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp867,27 miliar di seluruh pasar. Data ini menandai kembalinya tekanan jual di pasar modal Indonesia setelah sempat rebound di sesi pertama Jumat.

Rinciannya, sepanjang perdagangan Kamis, total nilai transaksi mencapai Rp12,79 triliun dari 1,95 juta kali transaksi dengan volume 632 juta lot. Secara sektoral, 497 saham melemah, 119 tak bergerak, dan hanya 171 saham yang berhasil ditutup menguat. Tekanan jual asing konsentrasi pada saham bank dan tambang, sekaligus disokong oleh risk-off sentiment yang menyelimbiri pasar global.

Asing Lepas Rp867 Miliar, Bank dan Tambang Jadi Sasaran Terbesar

📎 Baca Juga

Dalam perdagangan Kamis, penjualan bersih asing mencapai Rp867,27 miliar, dengan komponen Rp848,28 miliar dari pasar reguler dan tambahan Rp19 miliar dari pasar negosiasi dan tunai. Sepuluh saham dengan net foreign sell terbesar, dilansir Stockbit, adalah saham-saham infrastruktur dan keuangan andalan pasar:

1PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI)-Rp207,29 miliar
2PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI)-Rp190,63 miliar
3PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN)-Rp64,01 miliar
4PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM)-Rp55,91 miliar
5PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM)-Rp51,27 miliar
6PT United Tractors Tbk. (UNTR)-Rp48,87 miliar
7PT Bumi Resources Tbk. (BUMI)-Rp45,31 miliar
8PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA)-Rp44,21 miliar
9PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI)-Rp38,48 miliar
10PT Barito Pacific Tbk. (BRPT)-Rp26,86 miliar

Berdasarkan laporan pasar, sektor Industrial turun terdalam sebesar 2,86%, mengikuti jejak melemahkan saham-saham tambang dan infrastruktur. Sebaliknya, sektor Health berhasil bertahan di zona hijau dengan penguatan 0,70%. Sembilan dari sebelas sektor bertahan tutup di zona merah.

Retraksi Pasar Global Menyalip IHSG

Keuhan pasar modal Indonesia sejalan dengan tren risk-off yang tengah menyelimbiri pasar global. Di Wall Street, Dow Jones melesat 0,10% ke level 51.231, namun S&P 500 turun 0,47% ke 7.765 dan Nasdaq melemah lebih dalam sebesar 1,25% ke 27.193. Tekanan ini konsisten dengan penguatan dolar dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.

Dampaknya terlihat pada indeks pass-trough. ETF EIDO (kelompok saham Indonesia) turun 1,60%, sementara MSCI Indonesia melemah 1,96%. Di dalam negeri, tiga saham blue-chip yang paling menyumbang penurunan indeks adalah BBRI, BMRI, dan BBCA — yang semuanya masuk dalam daftar 10 saham dengan penurunan terbesar terhadap IHSG.

Namun perdagangan Jumat (9/10) menunjukkan tanda-tanda pemulihan wajar. IHSG rebound 0,35% ke level 6.052,51 pada sesi I, meski asing masih mencatat net sell sebesar Rp32,05 miliar (beli Rp1,20 triliun vs jual Rp1,24 triliun).

Danantara Kintir di Pasar — ENRG Anjlok 5%, Rencana Sahak BEI Ditunda

Di tengah tekanan jual, jejak investor strategis BPI Danantara konsisten terasa di pasar. Sehari pasca mengumumkan kerja sama bisnis dengan Danantara, saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) — emiten grup Bakrie — anjlok 5% ke Rp1.1005. Transaksi minyak dan gas AS senilai US$200 juta (sekitar Rp3,6 triliun) dilakukan melalui pembelian saham preferen konversi HighPeak Energy, Inc. (kantor pusat Fort Worth, Texas), yang fokus eksplorasi hidrokarbon di Midland Basin, West Texas.

Dalam keterbukaan informasi BEI, volume transaksi ENRG mencapai 46,94 juta lembar dengan frekuensi 6.330 kali senilai Rp48,28 miliar. Manajemen ENRG menegaskan pertumbuhan tetap fokus pada kombinasi ekspansi organik dan anorganik, namun pasar menilai keraguan terhadap rencana investasi tersebut.

Separately, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membuka suara terkait rencana Danantara yang hendak mengambil porsi saham 5-10% Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam proses demutualisasi. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, menyatakan infrastruktur bursa belum siap dan anggaran dasar BEI masih saja bersifat mutual, sehingga tidak memungkinkan pembagian kepada pihak non-anggota. RUPS BEI yang dijadwalkan 28 Oktober 2026 menjadi prasyarat utama agar proses demutualisasi dapat berjalan.

Aktivitas Korporat Lanjut di Tengah Tekanan Pasar

Beberapa halaman lalu, PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA) menyetujui stock split 1:2 pada 18 September 2026. Dengan aksi ini, satu saham bernominal Rp50 akan menjadi dua saham senilai Rp25. Modal dasar tetap Rp480 miliar, namun jumlah saham naik dari 9,6 miliar menjadi 19,2 miliar lembar. Perdagangan saham lama di pasar reguler dan negosiasi berakhir 13 Oktober, dengan perdagangan nilai nominal baru dimulai 14 Oktober.

Di lain sisi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) merombak total struktur pemilik dan direksinya usai masuknya pengendali baru PT Headwell Bintang Energi Hijau. Emiten yang sebelumnya berfokus distributor perangkat telekomunikasi kini beralih ke manufaktur baja dan budidaya udang, melalui private placement PMTHMETD senilai Rp1,024 triliun. Neraca proforma proforma grup mencapai aset Rp1,60 triliun, liabilitas Rp628 miliar, dan ekuitas Rp976,5 miliar (rasio 0,64x).

Sementara itu, PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) melanjutkan program eksplorasi di kuartal III 2026 dengan 113 titik pengeboran, total kedalaman 23.420 meter dan biaya Rp42,86 miliar. Tujuh puluh enam titik dilakukan di kompleks produksi utama Tanjung Enim (Rp33,04 miliar), 17 titik di Ombilin (Rp6,86 miliar), dan 20 titik di Peranap (Rp2,96 miliar). Cadangan total PTBA sebesar 1.504 juta ton dan sumber daya 3.096 juta ton tetap menjadi sasaran penguatan.

Langkah lanjut, BSA Logistics Indonesia (WBSA) memperkuat armada melalui penambahan lima set tugboat dan barge yang diperoleh dari Buana Cipta Mandala dan Amnor Shipyard senilai Rp48 miliar. Investasi ini didanai lewat pinjaman berjangka Bank OCBC NISP senilai Rp75 miliar dengan tenor 60 bulan, yang ditandatangani 14 September 2026.

Kesimpulan dan Pentingnya Likuiditas

Pola penjualan asing yang konsentrasi pada sektor keuangan (bank) dan tambang, disertai dengan retraksi pasar global, menunjukkan pasar butuh dukungan psikologi dan mekanis untuk menstabilkan IHSG. Peran Danantara yang semakin agresif — baik di dunia perusahaan (ENRG) maupun infrastruktur pasar (BEI) — menambah dinamika, meski nilai investasinya masih dipertanyakan oleh pasar. Di saat yang sama, aksi korporat lain seperti stock split PBSA dan PMTHMETD MKNT menegaskan bahwa fundamental emiten perannya penting.

Investor diharapkan memantau dua faktor kunci: (1) arah aliran kas asing di sesi mendatang, dan (2) hasil RUPS BEI 28 Oktober yang akan menentukan roadmap demutualisasi dan keikutsertaan Danantara.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter
Sumber: CNBC Indonesia, Wikimedia Commons