Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
IHSG netral ⏱ 8 menit

IHSG Anjlok ke Level 5.900, Net Sell Asing TemBUS Rp82 Triliun di 2026 — Blue Chip Dividen Yield 11-18% Jadi Pelarian

IHSG Anjlok ke Level 5.900, Net Sell Asing TemBUS Rp82 Triliun di 2026 — Blue Chip Dividen Yield 11-18% Jadi Pelarian
Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

IHSG anjlok ke level 5.900 — terendah dalam 2 bulan — dipicu reshuffle Kabinet Merah Putih oleh Presiden Prabowo dan net sell asing Rp241,86 miliar. Akumulasi net sell asing mencapai Rp82 triliun di 2026. Di tengah ketidakpastian, 10 saham blue chip dengan dividen yield 10-18% jadi pelarian investor. Pasar IPO 2026 kolaps 68,2% YoY.

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mengalami tekanan berat di awal Oktober 2026. Pada perdagangan Kamis (1/10), IHSG ditutup melemah 1,02% ke level 6.009,50, sementara secara intraday sempat terkoreksi hingga 1,61% atau turun 98 poin ke level 5.973,16 — terendahnya dalam lebih dari dua bulan terakhir. Untuk pertama kalinya sejak 10 Juli 2026, IHSG menyentuh level 5.900. Penurunan ini digerakkan oleh guncangan reshuffle Kabinet Merah Putih yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto, sekaligus gelombang jual asing yang konsisten. Akumulasi net sell asing di pasar modal RI tembus Rp82 triliun sejak awal tahun 2026.

Gelombang Jual Asing Dorong IHSG ke Level Terendah 2 Bulan

📎 Baca Juga

Pada perdagangan Kamis (1/10/2026), IHSG ditutup melemah 1,02% ke level 6.009,50. Namun, pada sesi siang, IHSG sempat anjlok lebih dalam hingga 1,61% ke level 5.973,16 — angka yang belum pernah terjadi dalam lebih dari dua bulan terakhir.

Level ini mendekati area psikologis penting: 5.900. IHSG akhirnya menyentuh level tersebut untuk pertama kalinya sejak 10 Juli 2026. Faktor utama pelemahan ini adalah pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang melakukan reshuffle Kabinet Merah Putih, yang menciptakan ketidakpastian pasar terkait arah kebijakan ekonomi dan regulasi di sejumlah sektor kunci.

Investor asing tidak tinggal diam. Pada perdagangan Kamis, asing mencatatkan net sell sebesar Rp240,43 miliar di pasar reguler dan tambahan Rp1,43 miliar di pasar negosiasi serta tunai — total Rp241,86 miliar. Ini menandakan tekanan keluar modal asing yang masih berlanjut, terutama menuju saham berkapitalisasi besar.

Secara sektoral, sembilan dari 11 sektor berakhir di zona merah. Sektor Technology tercatat penurunan terdalam sebesar 3,93%, sementara Energy menjadi satu-satunya sektor yang masih bertahan dalam penguatan sebesar 0,31%. Sectors yang lain seperti Consumer Cyclical, Industrials, dan Financials juga melemah secara signifikan.

Total volume perdagangan tercatat 269,81 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp8,01 triliun yang berpindah tangan 1,31 juta kali. Sebanyak 156 saham ditutup menguat, 533 saham melemah, dan 102 saham stagnan — gambaran pasar yang masih tidak seimbang dengan jual mendominasi.

Adapun saham-saham pemberat IHSG antara lain: PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII).

Investor asing mencatatkan penjualan bersih jumbo sebesar Rp777,18 miliar di seluruh pasar, dengan rincian Rp536,70 miliar di pasar reguler dan Rp240,49 miliar di pasar negosiasi dan tunai.

Saham-saham yang paling banyak dijual asing antara lain:

  • PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) — net sell Rp62,77 miliar
  • PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) — net sell Rp29,52 miliar
  • PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) — net sell Rp24,55 miliar
  • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) — net sell Rp19,80 miliar

Net Sell Asing Capai Rp82 Triliun di 2026, Saham Blue Chip Dividen Jadi Pelarian

Angka Rp241,86 miliar hanya untuk satu hari, namun akumulasi net sell asing sejak awal tahun 2026 sudah mencapai Rp82 triliun. Guncangan ini memaksa investor domestik untuk mencari aset yang lebih stabil — dan saham blue chip dengan dividen yield tinggi justru jadi pilihan utama.

Berdasarkan data perdagangan saham, terdapat 10 emiten berkapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun yang mencatatkan yield sekitar 10% atau lebih. Yield ini dihitung dengan membagi total dividen per saham (DPS) selama 12 bulan terakhir dengan harga saham terkini, dikalikan 100%.

Berikut rincian 10 saham blue chip dengan dividen yield tertinggi:

  1. PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR), yield 18,6%, kapitalisasi pasar Rp11,77 triliun
  2. PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), yield 16,3%, kapitalisasi pasar Rp17,07 triliun
  3. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), yield 11,4%, kapitalisasi pasar Rp389,20 triliun
  4. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), yield 11,3%, kapitalisasi pasar Rp67,72 triliun
  5. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), yield 11,0%, kapitalisasi pasar Rp477,41 triliun
  6. PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA), yield 10,8%, kapitalisasi pasar Rp12,83 triliun
  7. PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), yield 10,7%, kapitalisasi pasar Rp10,38 triliun
  8. PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), yield 10,2%, kapitalisasi pasar Rp39,01 triliun
  9. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), yield 10,0%, kapitalisasi pasar Rp75,17 triliun
  10. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), yield 10,0%, kapitalisasi pasar Rp78,26 triliun

Misalnya, emiten BMRI dengan dividen per saham sebesar Rp476,96 selama 12 bulan terakhir. Nilai tersebut dibagi dengan harga saham saat ini di level Rp4.180 per saham. Sehingga 476,96 (DPS) dibagi dengan 4.180 (harga saham) dikalikan 100% memberikan imbal hasil sebesar 11,41%.

Artinya, yield tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya dividen yang dibagikan, tetapi juga pergerakan harga saham di pasar. Ketika harga saham turun sementara dividen tetap, yield akan meningkat. Sebaliknya, kenaikan harga saham dapat membuat yield terlihat lebih rendah meski nominal dividen tidak berubah.

PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) menempati posisi teratas dengan yield 18,6%. Posisi berikutnya ditempati PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) dengan yield 16,3%.

Dua bank berkapitalisasi pasar besar juga masuk dalam daftar: PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan yield 11,4% dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan 11,0%.

Selain perbankan, terdapat emiten batu bara, pertambangan emas, bauksit, perkebunan kelapa sawit, barang konsumsi, dan industri kesehatan. Keberagaman ini memberi investor pilihan yang lebih luas untuk menyesuaikan saham dividen dengan profil risiko masing-masing.

Sejumlah saham juga berhasil diborong oleh investor asing meski IHSG melemah. Berikut 10 saham net foreign buy terbanyak:

  • PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA) — net buy Rp79,13 miliar
  • PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) — net buy Rp74,69 miliar
  • PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) — net buy Rp57,56 miliar
  • PT Astra International Tbk (ASII) — net buy Rp44,94 miliar
  • PT Timah Tbk (TINS) — net buy Rp40,52 miliar
  • PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) — net buy Rp18,64 miliar
  • PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) — net buy Rp17,50 miliar
  • PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) — net buy Rp15,54 miliar
  • PT Vale Indonesia Tbk (INCO) — net buy Rp15,00 miliar
  • PT Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) — net buy Rp10,25 miliar

Pasar IPO 2026 Kolaps 68%, OJK Tetap Targetkan Rp250 Triliun

Minat perusahaan untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2026 terlihat menurun signifikan. Data BEI menunjukkan jumlah IPO hingga Agustus 2026 turun sekitar 68,2% dibandingkan 22 perusahaan pada Januari–Agustus 2025.

Penghimpunan dana juga anjlok sekitar 79,2% dari Rp10,39 triliun pada periode yang sama tahun lalu, menjadi hanya Rp2,16 triliun pada 2026. Rata-rata dana yang dihimpun setiap emiten turun dari sekitar Rp471,91 miliar pada 2025 menjadi Rp308,76 miliar pada 2026, atau berkurang 34,6%.

Berbagai faktor global memperlambat aktivitas IPO, termasuk meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kondisi pasar yang volatil. Ketidakpastian ini memengaruhi timing perusahaan untuk melaksanakan penawaran umum.

Meskipun demikian, OJK mencatat masih ada tujuh perusahaan dalam pipeline per 6 September 2026 dengan target penghimpunan dana maksimal sekitar Rp4,02 triliun. Namun, beberapa rencana IPO belum mendapat persetujuan karena perusahaan masih perlu meningkatkan kualitas keterbukaan informasi.

OJK menargetkan penghimpunan dana pasar modal sebesar Rp250 triliun pada 2026. Hingga 6 September 2026, telah tercapai Rp148,3 triliun — setara dengan 59,3% dari target.

Di sisi lain, minimnya jumlah IPO tidak berarti saham-saham baru kehilangan minat investor. Sejumlah saham IPO 2026 masih mencatat lonjakan harga yang signifikan setelah debut, meski kondisi belum cukup untuk menunjukkan pemulihan pasar perdana sebagai sumber pendanaan perusahaan.

Daftar Orang Terkaya RI Oktober 2026: Taipan Batu Bara Dominan

Di tengah ketidakpastian pasar, kondisi ini tidak menghentikan dinamika kekayaan para pengusaha nasional. Berdasarkan Forbes, daftar orang terkaya di Indonesia pada Oktober 2026 belum mengalami perubahan besar di puncak.

Dato Low Tuck Kwong yang dikenal sebagai raja batu bara kembali menjadi orang terkaya di Indonesia dengan harta senilai US$16,4 miliar atau setara Rp291,37 triliun. Ia adalah pendiri PT Bayang Resources Tbk (BYAN), perusahaan pertambangan batu bara.

Di posisi kedua, Robert Budi Hartano dengan kekayaan US$15,2 miliar (Rp271,9 triliun), diikuti Prajogo Pangestu di posisi ketiga dengan US$14,8 miliar (Rp263,74 triliun).

Posisi keempat ditempati oleh Anthoni Salim, konglomerat Indofood Group, dengan harta senilai US$10,8 miliar (Rp193,78 triliun). Di posisi kelima ada Dato Sri Tahir, pemilik Mayapada Group, dengan US$9,4 miliar (Rp168,54 triliun).

Keberadaan sektor energi, perbankan, dan tambang sebagai sumber utama kekayaan para taipan nasional ini konsisten. Namun, koreksi pasar saham sepanjang tahun berjalan turut mempengaruhi nilai aset beberapa pengusaha besar di Tanah Air.

10 Saham Terbang Gila-gilaan di 2026, Ada yang Naik 1.148%

Di sela ketidakpastian pasar, sejumlah saham justru mencatat lonjakan yang luar biasa sepanjang 2026. PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) memimpin dengan kenaikan 1.148,6% year-to-date (YTD).

Berikut tiga saham dengan kenaikan YTD tertinggi:

  • PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) — kenaikan 1.148,6% YTD
  • PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR) — kenaikan 558,3% YTD
  • PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) — kenaikan 506,4% YTD

Keberadaan saham-saham data center (MGLV, AGAR) dalam daftar ini mencerminkan tren investasi infrastruktur digital yang sedang berkembang di Indonesia.

PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) juga menunjukkan target ambis: produksi dan penjualan batu bara mencapai 58 juta ton pada 2026, melanjutkan realisasi 2025 yang naik 8,38% YoY ke 54,95 juta ton.

Di sisi lain, PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya (BBRM) baru saja menyelesaikan pembelian satu unit kapal Anchor Handling Tug Supply (AHTS) MP Maverick dengan kapasitas 6.000 BHP dari Great Union China Limited senilai USD12,10 juta. Transaksi ini didanai melalui pinjaman investasi dari Bank IBK sebesar Rp120 miliar.

Proyeksi IHSG Pekan Depan: Sideways di Level 6.000-6.200

Dengan kondisi IHSG yang melemah dan net sell asing yang masih tinggi, analis proyeksikan IHSG akan berada dalam fase sideways pada level 6.000-6.200. Volume perdagangan masih cukup likuid meski arus dana asing konsisten keluar.

Investor disarankan untuk cermati data ekonomi domestik yang akan dirilis, termasuk data cadangan devisa, indeks keyakinan konsumen, dan data penjualan ritel. Sementara itu, saham blue chip dengan dividen yield tinggi tetap menjadi pilihan yang relatif aman di tengah ketidakpastian pasar.

Untuk investasi jangka pendek, disarankan menjaga eksposur terhadap sektor Technology dan Consumer yang masih rentan mengkoreksi lebih jauh. Di sisi lain, sektor Energy dan Utilities yang relatif lebih stabil bisa menjadi alternatif untuk dipelajari lebih lanjut.

FAQ

Q: Berapa level IHSG pada perdagangan Kamis 1 Oktober 2026?
A: IHSG ditutup melemah 1,02% ke level 6.009,50 pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Secara intraday, IHSG sempat terkoreksi 1,61% ke level 5.973,16 — terendahnya dalam lebih dari dua bulan terakhir.

Q: Berapa jumlah net sell asing selama hari dan akumulasi di 2026?
A: Pada perdagangan Kamis (1/10), investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp240,43 miliar di pasar reguler dan Rp1,43 miliar di pasar negosiasi serta tunai, total Rp241,86 miliar. Akumulasi net sell asing sejak awal 2026 sudah mencapai Rp82 triliun.

Q: Saham blue chip mana yang memiliki dividen yield tertinggi?
A: 10 saham blue chip dengan yield di atas 10%: BSSR (18,6%), PSAB (16,3%), BMRI (11,4%), UNVR (11,3%), BBRI (11,0%), CITA (10,8%), SIDO (10,7%), TAPG (10,2%), ADRO (10,0%), dan AADI (10,0%).

Q: Bagaimana progres IPO di pasar modal RI pada 2026?
A: Jumlah IPO hingga Agustus 2026 turun 68,2% YoY dari 22 perusahaan di 2025. Dana penghimpunan anjlok 79,2% dari Rp10,39 triliun (2025) menjadi Rp2,16 triliun (2026). OJK menargetkan total penghimpunan dana Rp250 triliun, telah mencapai Rp148,3 triliun per September 2026.

Q: Siapa orang terkaya di Indonesia pada Oktober 2026?
A: Dato Low Tuck Kwong (pendiri BYAN) tetap menjadi orang terkaya dengan kekayaan US$16,4 miliar (Rp291,37 triliun), diikuti oleh Robert Budi Hartano (US$15,2 miliar) dan Prajogo Pangestu (US$14,8 miliar).

Q: Saham apa yang dibeli asing meski IHSG melemah?
A: 10 saham net foreign buy terbanyak: DSSA (Rp79,13B), ENRG (Rp74,69B), TLKM (Rp57,56B), ASII (Rp44,94B), TINS (Rp40,52B), BRIS (Rp18,64B), EMAS (Rp17,50B), VKTR (Rp15,54B), INCO (Rp15,00B), dan ULTJ (Rp10,25B).

Q: Bagaimana proyeksi IHSG untuk pekan depan?
A: IHSG diproyeksi sideways pada level 6.000-6.200. Investor disarankan mencermati data ekonomi domestik dan tetap waspada terhadap ketidakpastian global yang masih menekan pasar.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter
Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/market/20261004081348-17-773110/perusahaan-mau-ipo-makin-sepi-di-pasar-modal-ri-ini-penyebabnya, https://www.cnbcindonesia.com/market/20261004115950-17-773134/catat-ini-10-emitem-paling-jor-joran-kasih-imbal-hasil-tertinggi, https://www.cnbcindonesia.com/market/20261002072528-17-772710/ihsg-anjlok-102-asing-malah-serok-10-saham-ini, https://www.cnbcindonesia.com/market/20261001145407-17-772542/ihsg-jeblok-ke-level-5900-kala-reshuffle-terendah-dalam-2-bulan, https://www.cnbcindonesia.com/research/20261003082255-128-773016/10-saham-terbang-gila-gilaan-di-2026-ada-yang-naik-1148, https://www.cnbcindonesia.com/market/20261004105401-17-773130/daftar-orang-terkaya-ri-oktober-2026-mesin-uangnya-terungkap, https://query1.finance.yahoo.com/v8/finance/chart/%5EJKSE