Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
IHSG negatif ⏱ 5 menit

IHSG Anjlok ke Zona Merah, Pasar Ditarik Konflik Timur Tengah dan Tunggu Kebijakan BI Rate

IHSG Anjlok ke Zona Merah, Pasar Ditarik Konflik Timur Tengah dan Tunggu Kebijakan BI Rate
File:Gedung-bursa-efek-1 (1).jpg, Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

IHSG mengalami koreksi kuat sejak 14 September 2026, turun sekitar 4,5% dari 6.534,69 —6.241,89, dengan pemicu utama eskalasi konflik Timur Tengah, lemahnya sektor energi (‐3,9%), dan tekanan harga minyak yang masih tinggi. Rupiah melemah ke Rp17.850/USD. BI menahan suku bunga acuan di 5,75% dalam RDG pertama di bawah Gubernur baru Destry Damayanti. Di tengah tekanan, IDX mengumumkan reformasi struktural: minimum saham turun dari Rp50.000 ke Rp1.000 per saham, mulai 28 September 2026.

Jakarta, 26 September 2026 — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level terendah dalam lima sesi perdagangan terakhir, setelah mengalami penurunan konsisten sepanjang minggu. Pada perdagangan Selasa, 22 September 2026, IHSG ditutup di 6.277,04,-an, melemah 107,68 poin atau 1,69% dari penutupan sebelumnya, sehingga kembali masuk ke dalam zona merah untuk sesi kedua berturutnya. Sementara itu, rupiah juga tertekan melemah ke Rp17.850 per dolar Amerika Serikat.

Mengutip data Yahoo Finance, IHSG membuka minggu ini di level 6.534,69 pada Senin (14 September 2026) dan secara konsisten melemah sepanjang minggu. Hingga perdagangan Jumat (25 September 2026), harga pasar IHSG berada di 6.241,89, down 0,9% dari penutupan sebelumnya. Dengan demikian, IHSG telah kehilangan sekitar 293 poin atau 4,5% dalam tempo satu minggu, jauh di bawah level tertinggi 52-minggunya yang berada di 9.174,47.

IHSG Anjlok 4% dalam Seminggu, 556 Saham Menunjung Beban

📎 Baca Juga

Penurunan IHSG tidak bisa disegelimbangkan dengan sebuah faktor tunggal. Pada Selasa, 22 September 2026, IHSG justru dibuka kuat di level 6.392,34 dan sempat mendaki ke puncak harian di 6.423,84, namun justru berbalik melemah dan turun konsisten sepanjang sesi perdagangan. Indeks menyentuh intraday terendah di 6.258,44 sebelum akhirnya ditutup di 6.277,04.

Sesuai laporan Emiten.org, sepanjang perdagangan tercatat 556 saham turun, hanya 148 saham yang naik, sementara 259 saham tak bergerak — rasio losers-to-winners yang cukup ekstrim. Volume transaksi IHSG mencapai sekitar 32,18 miliar lembar dengan nilai transaksi sebesar Rp14,39 triliun dan frekuensi perdagangan mencapai sekitar 2,16 juta kali.

Dari sisi sektor, tiga sektor paling tertekan. Sektor energi anjlok 3,9% menjadi penyumbang terbesar kejatuhan IHSG. Diikuti oleh sektor properti yang turun 2%, dan sektor utilitas yang melemah 1,5%. Kombinasi tekanan ini menekan IHSG konsisten di bawah zona merah sejak akhir pekan lalu.

Konflik Timur Tengah dan Minyak Mentah Tekan Pasar Modal Global

Tekanan pasar Indonesia sekaligus terlihat dalam perbandingan dengan pasar Asia lain. Analis DOO Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa IHSG justru underperform dibandingkan bursa-bursa Asia. Pada hari yang sama (22 September), NIKKEI naik 1,38% dan HSI naik 0,13%, sementara IHSG justru melemah 1,69%.

Pemicu utama adalah eskalasi konflik Timur Tengah yang memicu kenaikan harga komoditas, khususnya minyak mentah. Data Yahoo Finance menunjukkan harga minyak mentah Brent berada di kisaran US$92,44 per barel pada Jumat (25 September 2026), turun 2,29% dari penutupan sebelumnya, namun masih jauh di atas levels sebelumnya dan berada jauh di bawah puncak 52-minguannya yang mencapai US$119,48. Rentang 52 minggu minyak berada di US$54,98 — US$119,48.

Rangkaian geopolitik ini memperkaya kekhawatiran inflasi dan memperkuat posisi para penjual asing. Emiten.org melaporkan bahwa asing net sell mencapai Rp1,7 triliun pada September 2026, meski reksadana tetap menambah posisi (TIPS naik 20%), mencerminkan paradoks IHSG di tengah tekanan yield AS dan rupiah yang menuju Rp18.000.

BI Rate Tetap di 5,75%, Pasar Menanti Sinyal Gubernur Baru

Bank Indonesia mengadakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pertama di bawah kepemimpinan Gubernur baru, Destry Damayanti, pada 23 September 2026. Dalam sidang tersebut, BI memutuskan untuk menahan suku bunga acuan (BI Rate) pada 5,75%.

Keputusan ini konsisten dengan langkah pada Agustus 2026, di mana BI juga menahan suku bunga di 5,75% untuk menstabilkan perekonomian di tengah tekanan inflasi dan tekanan eksternal. Pasar sebelumnya mengharapkan kemungkinan kenaikan suku bunga sebagai respons terhadap tekanan inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga komoditas.

Dengan tekanan inflasi yang masih terasa dan IHSG terus mengalami koreksi, pasar kini menantikan sinyal lebih lanjut dari Kepala Gubernur BI, Destry Damayanti, mengenai arah kebijikan moneter di minggu-minggu ke depan.

Rupiah Melemah, IHSG Underperform vs Pasar Asia

Tekanan tidak hanya terlihat pada IHSG, tetapi juga pada mata uang rupiah. Pada perdagangan Selasa, 22 September 2026, rupiah melemah ke Rp17.850 per dolar Amerika Serikat. Hingga Jumat (25 September), rupiah berada di kisaran Rp17.912/USD, berada di tengah rentang 52-minggunya yang meluas dari Rp15.636 hingga Rp18.222.

Keuangan melemah memicu kekhawatiran akan meningkatnya biaya impor, terutama untuk sektor energi dan bahan makanan yang sensitif. Posisi ini berbeda dengan performa bursa saham regional: sementara IHSG melemah, NIKKEI naik 1,38% dan HSI naik 0,13% dalam periode yang sama, menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia sedang mengalami tekanan yang lebih kuat dibandingkan tetangganya di kawasan Asia.

Reformasi IDX: Minimum Saham Turun ke Rp1, IPO Pipeline Bernas Baharu

Di tengah tekanan pasar, Dewan Perusahaan IDX justru menggencarkan langkah reformasi struktural untuk meningkatkan likuiditas dan partisipasi pasar. Pada Jumat, 25 September 2026, IDX mengumumkan bahwa harga minimum saham akan diturunkan dari Rp50.000 ke Rp1.000 per saham, mulai Senin, 28 September 2026.

“Seluruh anggota bursa sudah siap untuk mengimplementasikan penghapusan harga minimum Rp50.000 pada perdagangan Senin, 28 September 2026,” kata Presiden Direktur IDX Jeffrey Hendrik kepada wartawan di kantor IDX, Jakarta, sebagaimana dilaporkan ANTARA News.

Jeffrey menjelaskan bahwa langkah ini diharapkan akan meningkatkan likuiditas dan memberikan price discovery yang lebih baik, khususnya untuk saham yang telah lama berada di level Rp50.000 tanpa likuiditas. “Kami berharap ini akan meningkatkan likuiditas dan memberikan price discovery yang lebih baik bagi saham yang sudah lama berada di Rp50.000 dan tidak memiliki likuiditas,” ujarnya.

Perubahan ini akan diikuti dengan penyesuaian batas auto-rejection untuk efek saham dan Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA) yang diperdagangkan di pasar reguler dan pasar tunai. Sehubungan dengan dinamika pasar, IDX juga melaporkan bahwa 7 perusahaan sedang dalam pipeline untuk IPO, dengan 4 di antaranya berasal dari sektor kesehatan. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah dan BI untuk menggencarkan pasar modal Indonesia, termasuk melalui reformasi struktural seperti demutualisasi BEI yang telah diumumkan sebelumnya.

Hari ini, pasar akan terus memantau reaksi terhadap kabar politik global, kebijakan domestik, dan sikap para investor asing — faktor-faktor yang menentukan arah konsolidasi IHSG di sesi-sesi mendatang.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter