Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
IHSG positif ⏱ 5 menit

IHSG Menguat 1,5% ke 6.375, RDG BI Tetap 5,75% vs Net Sell Asing Rp102 Triliun YTD

IHSG Menguat 1,5% ke 6.375, RDG BI Tetap 5,75% vs Net Sell Asing Rp102 Triliun YTD
Wikimedia Commons / CC BY-SA 4.0 / File:Gedung-bursa-efek-1 (1).jpg

IHSG ditutup menguat 1,5% ke level 6.374,9 pada Rabu 23 September 2026, merespons keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan BI Rate di 5,75%. Meski demikian, investor asing masih melakukan net sell sebesar Rp460,7 miliar per hari, menghadaskan total net sell sebesar Rp102,9 triliun secara year-to-date di pasar reguler. Arah baik mulai terlihat pada kuartal III dengan inflow bersih pertama ke pasar saham sebesar Rp2,9 triliun. Yield SUN 10 tahun sudah mencapai 7,17% dan proyeksi bisa mencapai 7,45% akhir tahun, sementara utang pemerintah tembus Rp506 triliun per 31 Agustus 2026.

Jakarta, Emiten.org - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyelesaikan perdagangan Rabu, 23 September 2026 dengan penguatan kuat sebesar 97,8 poin atau 1,5% ke level 6.374,9. RALLY ini bertepatan dengan keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang menemui akhir pekan ini, yaitu mempertahankan BI Rate pada 5,75%. Keputusan yang selaras dengan ekspektasi pasar ini menjadi pendorong utama sentimen domestik, meski tekanan jual asing masih menyelimuti pasar.

Dengan total nilai transaksi mencapai Rp12,8 triliun dan 464 saham naik dibanding 200 saham turun, IHSG berhasil melaju meski investor asing kembali mencatatkan net sell bersih Rp460,7 miliar. Total net sell asing di pasar reguler sudah mencapai Rp102,9 triliun sejak Januari 2026 — angka yang belum berhasil berbalik meski pasar menunjukkan optimisme domestik.

RDG BI Tetap 5,75%, Spread dengan Fed Sempit

📎 Baca Juga

Keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan BI Rate di 5,75% pada RDG September 2026 sejatinya sudah disepakati pasar. Namun, langkah BI tetap penting karena mencegah tekanan lebih lanjut terhadap nilai tukar dan biaya utang. Dari sisi global, The Fed baru saja menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4%.

Sebagai akibatnya, spread antara BI Rate dan Federal Funds Rate (FFR) AS semakin sempit — turun dari 2% menjadi 1,75%. Spread ini memang memendek selama 2026 sebagai BI menurunkan suku bunga bertahap sejak kenaikan agresif awal tahun. Averaging Spread 3 tahun terakhir berada di kisaran 0,75%–1,25%, jauh di bawah level saat ini.

Bank Indonesia sengaja mempertahankan spread yang relatif lebar (1,75%) guna menarik aliran modal asing dan mendukung stabilitas Rupiah, yang pada Rabu diperdagangkan di Rp17.795 per dolar AS atau menguat 0,31% dari penutupan sebelumnya. Nilai tukar ini relatif stabil meski tekanan global masih ada, mendukung sentimen pasar modal domestik.

Net Sell Asing Masih Rp102 Triliun, Tapi Q3 Tunjukkan Bala Kota

Investor asing kembali melakukan jual bersih di pasar reguler, dengan total Rp460,7 miliar pada hari Rabu. Saham-saham bank besar menjadi sasaran utama jual: BBRI terjual bersih Rp187,6 miliar, BMRI Rp128,7 miliar, dan TLKM Rp124,6 miliar. Ketiga saham ini perannya sentral dalam pasar modal Indonesia sehingga likuiditas dan volatilitasnya tinggi.

Secara kumulatif, net sell asing di pasar reguler tahun 2026 telah mencapai Rp102,9 triliun. Ini adalah angka yang tidak mengunggkitkan dengan penguatan IHSG, menunjukkan bahwa kekuatan beli berasal dari dalam negeri — institusional dan ritel lokal yang mengisi celah jual asing.

Akan tetapi, ada sinyal cahaya di kuartal III. Berdasarkan data Menteri Keuangan Suahhasil Nazara, pasar saham mencatat net inflow Rp2,9 triliun dari investor asing pada Kuartal III 2026 (hingga 11 September), mengakhirkan streak net outflow setiap kuartal sebelumnya. Meski secara year-to-date pasar saham masih mencatat outflow Rp70,7 triliun, hal ini menandakan pergeseran sentimental yang penting.

Fokus aliran modal asing kini beralih ke instrumen lain. Pasar Surat Berharga Negara (SBN) dicatat mencatat net inflow Rp40,8 triliun YTD, sementara Sukuk Rupiah Bank Indonesia (SRBI) membukukan inflow mencapai Rp171,6 triliun sepanjang tahun. Total aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia tahun 2026 capai Rp141,6 triliun.

Yield SUN 7,17%, Tekanan pada Utang Pemerintah Rp506 Triliun

Di tengah kekuatan IHSG, tekanan di pasar surat utang tetap tinggi. Yield SUN tenor 10 tahun di pasar sekunder berada di sekitar 7,17%, sementara proyeksi akhir tahun dapat mencapai 7,15%–7,45%. Untuk tenor lima tahun, yield diperkirakan berada di 7,00%–7,25%.

Level kritis berada di 7,50% — di atasnya, biaya refinancing pemerintah dan premi risiko Indonesia akan semakin tertekan. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai tekanan ini datang dari yield US Treasury (UST) 10 tahun yang berada di sekitar 5% dan Rupiah yang masih bertengger di kisaran Rp17.700 per dolar AS.

Beban utang pemerintah tidak dapat diabaarkan. Pemerintah telah menariklah Rp506 triliun utang per 31 Agustus 2026, terdiri dari SBN senilai Rp527,4 triliun dan pinjaman bersih negatif Rp21,4 triliun. Realisasi ini masih berada dalam jalur yang direncanakan, namun tekanan akan bertambah di kuartal IV dengan agenda penerbitan yang lebih besar.

Daya tahan investor domestik terlihat pada lelang SUN sebelumnya. Lelang 1 September menerima penawaran Rp65,97 triliun, sementara lelang 15 September menerima Rp60,96 triliun. Meski incoming bid cukup besar, Yusuf menilai: “Likuiditasnya masih ada, tetapi pemerintah tidak bisa mengharapkan permintaan besar dengan yield yang terlalu rendah.” Ini berarti pemerintah harus menawarkan imbal hasil yang kompetitif, menambah tekanan pada APBN di kuartal berikutnya.

Outlook IHSG dan Rekomendasi Saham

Dari sudut pandang teknikal, IHSG tetap berada di bawah Moving Average 5 hari (MA5), dengan Stochastic RSI yang sudah berada di area oversold. Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang 6.300–6.400 pada perdagangan Kamis, 24 September 2026. MNC Sekuritas menargetkan uji coba lebih dulu di area 6.208–6.258 dengan resisten terdekat di 6.387–6.418.

Semua sektor saham menguat pada penutupan Rabu ini, dengan sektor barang baku mencatat penguatan tertinggi sebesar 3,4%. Diikuti oleh energi (+2,59%), barang konsumen non-primer (+2,49%), perindustrian (+2,2%), dan properti (+1,9%). Sementara sektor kesehatan hanya naik 0,01%.

Untuk perdagangan Kamis, MNC Sekuritas memberikan rekomendasi saham: CUAN, EMAS, INDY, dan VKTR. Faktor eksternal yang mendukung antara lain penurunan harga minyak ke sekitar US$90 per barel dan sinyal diplomatik AS-Iran yang meredakan ketegangan pasokan.

FAQ

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Berapa level IHSG penutupan pada Rabu 23 September 2026?

IHSG menutup di level 6.374,9 pada Rabu 23 September 2026, naik 97,8 poin atau 1,5% dari penutupan sebelumnya. Total nilai transaksi mencapai Rp12,8 triliun, dengan 464 saham naik dan 200 saham turun.

Apa penyebab IHSG menguat meski net sell asing masih tinggi?

Penguatan didorong oleh keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan BI Rate di 5,75%, yang selaras dengan ekspektasi pasar. Keputusan ini menciptakan sinyal kebijakan moneter yang konsisten dan menstabilkan Rupiah. Kekuatan beli berasal dari dalam negeri — institusional dan ritel lokal yang mengisi celah jual asing sebesar Rp460,7 miliar pada hari itu.

Berapa total net sell asing di pasar saham YTD 2026?

Net sell asing di pasar reguler BEI tahun 2026 mencapai Rp102,9 triliun secara year-to-date. Saham-saham dengan net sell terbesar hari ini adalah BBRI (Rp187,6 miliar), BMRI (Rp128,7 miliar), dan TLKM (Rp124,6 miliar). Di sisi lain, MDKA dan TINS menjadi saham dengan net buy terbesar.

Bagaimana kondisi yield SUN dan utang pemerintah?

Yield SUN tenor 10 tahun berada di 7,17% di pasar sekunder, dengan proyeksi bisa mencapai 7,45% akhir tahun. Utang pemerintah mencapai Rp506 triliun per 31 Agustus 2026. Level yield 7,50% menjadi batas kritis — di atasnya biaya refinancing dan premi risiko akan bertambah tekanan.

Apa proyeksi IHSG dan rekomendasi saham untuk perdagangan Kamis 24 September 2026?

Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak di rentang 6.300–6.400, sementara MNC Sekuritas menargetkan area penguatan di 6.387–6.418. Rekomendasi saham untuk perdagangan Kamis: CUAN, EMAS, INDY, dan VKTR.

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter