Pasar saham Indonesia memasuki Oktober 2026 masih berada di zona merah, namun peluang rebound mulai terukir. Setelah menapukkan tekanan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup September di 6.071,13 — turun 0,83% pada hari terakhir perdagangan dan koreksi 7,95% sepanjang September sehingga posisi year-to-date (YTD) tercatat -29,79%. Namun likuiditas baru dan sinyal teknis mengindarkan harapan pada rentang 5.900 hingga 6.500 poin.
Tekanan September yang Masih Terasa
📎 Baca Juga
Pada September 2026, IHSG dilanda tekanan yang bersumber pada yield obligasi AS yang tinggi dan arus dana asing yang konsisten menjual. Koreksi sebesar 7,95% sepanjang bulan menghantarkan indeks ke posisi YTD -29,79%. Di sisi lain, rupiah juga tertekan melemah ke area Rp18.000 per USD, menjadi beban tambahan bagi pasar saham lokal yang justru menggoda likuiditas domestik tetap melemah.
Rentang Proyeksi Oktober: 5.900–6.500
Beberapa analis menyepakati proyeksi rentang IHSG Oktober 2026 berada di antara 5.900 dan 6.500. Rentang ini mencerminkan potensi bargain hunting di zona bawah sekaligus ruang untuk rebound teknis, sekaligus menahan ekspektasi yang berlebihan dari faktor global yang masih menentang.
Tiga Faktor Penentu Arah IHSG Oktober
- Arah kebijakan suku bunga The Fed dan yield UST yang tinggi. Jika The Fed terus menaikkan suku bunga, tekanan suku bunga akan menyebar ke pasar emergen termasuk Indonesia dan berpotensi memperlambat pertumbuhan. — Henry Wibowo, co-founder Alphagate Capital dan mantan Chief Indonesia Strategist JPMorgan
- Pergerakan rupiah di sekitar Rp18.000/USD. Ketahanan level psikologis ini menjadi kunci agar ruang technical rebound IHSG terbuka.
- Arus dana asing bersih masih pada posisi jual. Kick-off trading short selling BEI pada 1 Oktober 2026 (modal minimum Rp50 juta) menambah volatilitas dan dapat memperdalam koreksi pada saham-saham yang overvalued.
Rekomendasi Sektor & Saham: Jangan Sekajar Follow Indeks
Di tengah ketidakpastian, para analis menyarankan investor beralih ke strategi stock picking. Rully Arya Wisnubroto (Mirae Asset) menitikberatkan sektor telco, poultry, perbankan, data center/AI, serta energi & komoditas, dan memberi rekomendasi beli pada PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dengan target harga Rp3.400 per saham. Sementara Budi Frensidy (UI) memproyeksikan IHSG bergerak 5.850–6.400 dengan kecenderungan sideways hingga rebound yang terbatas, menekankan bahwa secara historis kinerja pasar saham di bulan Oktober cenderung positif.
Sentimen Global yang Masih Membayangi
Dari pasar global, bursa saham Asia bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah. Ketegangan geopolitik Amerika Serikat dan Iran — termasuk rencana AS mengerahkan tambahan kapal induk dan pasukan ke Timur Tengah — meningkatkan kekhawatiran eskalasi konflik, berpotensi mengganggu pasokan energi dan mendorong kenaikan harga minyak.
Penutupan 2 Oktober & Data Pekan Ini
Pada perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026, IHSG berhasil membalik arah dan menguat 27,39 poin (0,46%) ke level 6.036,89, setelah sempat melemah 0,32% pada sesi pertama dan kemudian menembus level psikologis 6.000. Indeks LQ45 juga menguat 0,52% ke 595,46. Delapan sektor menguat, dengan teknologi sebagai penguat terbesar (+1,51%), diikuti energi (+1,12%) dan barang konsumen primer (+0,67%), sementara sektor transportasi dan logistik melemah 1,38%. Volume transaksi mencapai 120,6 miliar saham atau nilai Rp12,24 triliun, dengan 332 saham menguat, 357 melemah, dan 274 stagnan.
Investor kini menatap kalender data domestik pekan depan: cadangan devisa (Rabu 7/10), indeks keyakinan konsumen (Kamis 8/10), dan penjualan ritel serta penjualan otomotif (Jumat 9/10) sebagai bahan pertimbangan membaca kondisi ekonomi nasional.
Apa yang Perlu Diingat
- IHSG konsolidasi di sekitar level 6.000; resisten 6.200 dan support 5.900 menjadi batas kunci.
- Short selling resmi berlaku sejak 1 Oktober — siapkan untuk volatilitas bertambah.
- Yield AS dan posisi rupiah di Rp18.000 adalah penggerak utama arah pasar.
- Strategi stock picking di sektor telco, perbankan, dan komoditas lebih cocok dari sekadar mengikuti indeks.
- TLKM menjadi rekomendasi beli spesifik dengan target Rp3.400.
