Pada Jumat, 9 Oktober 2026, pasar saham Indonesia bersiap pulih dari laju koreksi tajam yang terjadi sehari sebelumnya. IHSG yang dilacak IDX ditutup naik 1,04% ke 6.094, menguat 62,48 poin, mengikuti pemulihan sebagian dari koreksi 1,87% ke 6.031 pada Kamis (8/10). Indeks LQ45 dan KOMPAS100 juga menguat masing-masing 1,34% dan 1,35%, menandakan seluruh rangkaian saham blue chip mengikuti aliran pemulihan pasca tekanan eksternal.
Koreksi 1,87% dan Bayangan MSCI
đ Baca Juga
- Pasca-Bencana MSCI: BEI Gencarkan Reformasi Transparansi, IHSG dan Rupiah Tetap di Ambang Krisis
- IHSG Anjlok 40% YTD, MSCI Siapkan Downgrade ke Standalone Market â Pasar Saham Indonesia di Bawah Tekanan Berat
- IHSG Dibanting MSCI: Proyeksi 4.989â7.082 hingga Akhir 2026 & Strategi Rotasi Portofolio
Koreksi kuat pada Kamis lalu dipicu oleh sentimen eksternal dan kekhawatiran terhadap review klasifikasi pasar yang akan dilakukan penyedia indeks global MSCI pada November 2026. Sejumlah petinggi pasar menyoroti risiko downgrade Indonesia dari kategori emerging market ke frontier market, yang jika terjadi berpotensi memicu aksi jual berkelanjutan. Namun, rebound Jumat menunjukkan pasar domestik mampu menelan laju tekanan asalkan sentimen dinilai bersifat sementara.
Danantara Siapkan Dana US$1 Miliar untuk Beli di Waktu Tekanan
Di sisi lain, Danantara (Sovereign Wealth Fund Indonesia) membuka peluang untuk menambah eksposur saham domestik ketika pasar tertekan. Head of public investment Danantara Investment Management, Rani Piputri, menyatakan lembaga sudah menginvestasikan sekitar US$3 miliar pada saham dan obligasi, baik di pasar domestik maupun internasional, dan berencana mengalokasikan tambahan US$1 miliar hingga akhir tahun 2026.
Menurut Rani, Danantara akan mempertimbangkan membeli saham ketika tekanan pasar disebabkan oleh sentimen eksternal yang bersifat sementara. “Jika terjadi krisis di pasar dan kami menilai krisis tersebut hanya didasarkan pada sentimen eksternal yang sangat sementara, maka kami mungkin akan masuk ke pasar,” ujarnya kepada Reuters, Jumat (9/10/2026). Ia menegaskan pembelian sebelumnya didasari nilai investasi, bukan sekadar untuk menstabilkan pasar.
Bobot portofolio Danantara menempatkan 65% pada saham, 30% pada fixed income, dan 5% pada dana lindung nilai, dengan sekitar seperempat alokasi dialokasikan ke Indonesia. Target imbal hasil lembaga ditetapkan 200–300 basis poin di atas biaya modal, yang berada di kisaran 5,35% per Juni 2026.
Rights Issue BRIS dan Tekanan pada Likuiditas Saham
Sentimen korporat juga menjadi sorotan, terutama pada Bank Syariah Indonesia (BRIS). Emiten berpotensi turun 4,24% sejak awal September 2026 hingga ditutup di Rp1.355, seiring munculnya kabar rencana penerbitan maksimal 6,8 miliar saham Seri B melalui rights issue (HMETD) untuk memperkuat permodalan. Penambahan pasokan saham berpotensi membebani sektoral, sehingga analis menyoroti risiko dilusi dan volatilitas emiten kebanggaan BUMN syariah ke depan.
Dasar Riil Kuat: Pertumbuhan Ekonomi 5,2%, IKK Optimis
Di balik fluktuasi pasar, landasan makro Indonesia tetap solid. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 oleh Asian Development Bank (Asian Development Outlook, September 2026) dicantumkan 5,2% secara riil, menempatkan Indonesia di peringkat ke-11 dari 18 perekonomian Asia — di atas Singapura (5,0%) dan Malaysia (4,9%).
Secara konsumen, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September 2026 turun tipis ke 118,1 dari 118,5, namun masih berada di zona optimis, menandakan kekuatan konsumsi domestik tetap. Di sisi aset, kelolaan reksadana OJK pada September 2026 mencatatkan Rp641,10 triliun, memberi ruang bagi pasar modal menampung aliran dana kembali bila IHSG koreksi lebih dalam.
Penutup: Tekanan Sementara, Peluang Struktural
Rebound IHSG pada Jumat ini, didampingi strategi beli-Danantara, dan dukungan makro yang relatif kuat, menegaskan bahwa tekanan pasar saham Indonesia pada September–Oktober 2026 cenderung bersifat sentimen eksternal. Namun, investor tetap dihimbau memantau dinamika review MSCI serta rencana rights issue BRIS sebagai faktor volatilitas berikutnya.
