Jakarta, 14 Oktober 2026 — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rebounced kuat 0,82% ke level 5.974,28 pada Rabu ini, menghapus sebagian dari tekanan yang terjadi pada Selasa. Dengan demikian, IHSG kembali di atas level 5.950 setelah dua sesi berturut-turut berada di bawah level psikologis 6.000. Pendorong utama kenaikan ini adalah sektor teknologi yang melonjak 2,43% dan sektor properti yang naik 2,11%, sementara seluruh indeks sektoral berhasil mencatat penguatan.
Pada akhir sesi I, tercatat 391 saham naik, 227 saham turun, dan 170 saham stagnan. Volume perdagangan mencapai 18,13 miliar saham dengan nilai transaksi Rp6,23 triliun. Sentimen positif ini tampak juga dari investor asing yang tetap membeli, meski secara agregat IHSG masih berada di bawah level 6.000.
IHSG Rebound 0,82% ke 5.974, Sektor Teknologi dan Properti Driver
📎 Baca Juga
Kenaikan IHSG sebesar 48,31 poin atau 0,82% ini didorong oleh penguatan seluruh indeks sektoral. Sektor teknologi menjadi pemetor terkuat dengan kenaikan 2,43%, diiku olah oleh properti (+2,11%) dan perindustrian (+1,37%). Kinerja ini mencerminkan optimisme investor terhadap prospek pertumbuhan sektor riil dan infrastruktur, meskipun tekanan pasar global yang masih ada.
BRPT (Barito Pacific) membuktikan sebagai top gainer LQ45 dengan kenaikan 11,83%. Saham ini masih dalam proses pemulihan setelah beberapa sesi tertekan. Di posisi kedua, MAPI (Mitra Adiperkasa) naik 7,64% ke Rp1.550 per saham, didorong oleh aksi beli oleh Samudra Investment Pte Ltd. Di ketiga, WIFI (Solusi Sinergi Digital) tumbuh 3,76%.
Di sisi lain, top losers LQ45 hari ini adalah SCMA (Surya Citra Media) (-1,70%), AMRT (Sumber Alfaria Trijaya) (-1,20%), dan INDY (Indika Energy) (-1,13%). Tekanan pada saham konsumsi dan media mencerminkan kekhawatiran investor terhadap margin dan konsumsi domestik yang melemah.
BRPT dan MAPI Top Gainers, Samudra Investment Borong 187 Juta Saham
Investor asing asal Singapura, Samudra Investment Pte Ltd, kembali memperluas kepemilikan di PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). Pada Jumat (9/10/2026), Samudra membeli 187.448.100 saham seharga Rp1.523 per saham, yang setara dengan Rp285,28 miliar. Dengan transaksi ini, partisipasi Samudra di MAPI naik dari 30% menjadi 31,13%.
Manajemen MAPI menjelaskan bahwa tujuan transaksi ini bersifat investitif dan tidak terkait dengan aksi pengambilalihan pengendali. Pacific Universal Investments Pte Ltd tetap melaksanakan mandatory tender offer (MTO) untuk menguasai saham yang tersisa.
Dari sisi fundamental, kinerja MAPI pada semester I-2026 sangat solid. Pendapatan bersih mencapai Rp24,16 triliun, naik 23,36% YoY. Laba bersih mencapai Rp1,22 triliun, tumbuh 26,49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (Rp960,92 miliar). Sejak Januari, saham MAPI telah menguat 33,05%, sementara analis MNC Sekuritas Catherine Florencia memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp1.700.
Catherine menambahkan bahwa kekuatan MAPI didorong oleh segement kelas atas yang resilien, tren active lifestyle di Indonesia yang masih tumbuh, dan ekspor ke pasar Vietnam dan Thailand yang solid. Meski daya beli domestik melemah, MAPI diuntungkan oleh pendapatan dolar AS yang berfungsi sebagai natural hedge terhadap tekanan rupiah.
Rupiah dan Dolar AS Leher Cecair, Dukung Pasar Ekuitas
Pada pukul 12.13 WIB, rupiah spot berada di Rp17.887 per dolar AS, menguat 0,07% dari posisi sehari sebelumnya (Rp17.900). Penguatan ini sejalan dengan indeks dolar AS yang turun ke 102,10 dari 102,18 pada sesi sebelumnya.
Di pasar Asia, mayarakat mata uang menguat terhadap dolar AS. Won Korea naik 0,43%, Rupee India 0,40%, Yen Jepang 0,10%, sementara Rupiah dan Ringgit Malaysia sama-sama naik 0,07%. Penguatan mata uang regional ini menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi pasar ekuitas dan mengurangi beban utang ekspor untuk emiten- emiten Indonesia.
Surat Utang Korporasi Rp139 Triliun, Tekanan Bunga Tinggi Tertahan
Penerbitan surat utang korporasi nasional mencapai Rp139,65 triliun pada Januari–September 2026, turun 12,75% YoY dari Rp160,06 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Menurut PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), kenaikan imbal hasil acuan dan biaya bunga yang lebih tinggi menjadi faktor utama penurunan ini.
Dari sisi komposisi instrumen, penerbitan obligasi dan sukuk mencapai Rp132,4 triliun (turun 16,81% dari Rp159,1 triliun). Di sisi lain, penerbitan medium-term notes (MTN) tumbuh drastis dari Rp0,8 triliun menjadi Rp7,1 triliun, menunjukkan preferensi emiten untuk struktur pinjaman berjangka pendek. Penerbitan perpetual mencapai Rp220 miliar.
Secara sektoral, penerbitan surat utang terbesar berasal dari sektor kehutanan, pulp, dan kertas (Rp21,2 triliun), diiku oleh pembiayaan konsumen otomotif (Rp18,4 triliun), layanan publik terkait pemerintah (Rp16,7 triliun), pertambangan (Rp14,7 triliun), dan perbankan (Rp14 triliun). Pefindo memproyeksikan target akhir tahun sebesar Rp175,77 triliun, dengan rentang Rp154 triliun hingga Rp196,86 triliun. Pendanaan dukung datang dari refinancing sebesar Rp43,56 triliun yang jatuh tempo pada kuartal IV-2026.
