Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
IHSG netral ⏱ 6 menit

IHSG Rebound +0,94% Sepekan, Asing Jual Bersih Rp 3,75 Triliun

IHSG Rebound +0,94% Sepekan, Asing Jual Bersih Rp 3,75 Triliun
Shabira Arsa Ghalda / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

IHSG ditutup menguat 1,04% ke 6.093,76 (+0,94% sepekan), namun asing jual bersih Rp 3,75 triliun. Teknis 6.215/6.000 jadi kunci; inflasi AS, rupiah dekat Rp 18.000, dan evaluasi MSCI 11 November jadi headwind.

Pada pekan perdagangan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat 0,94% sepanjang minggu dan ditutup di level 6.093,76 pada perdagangan Jumat (9 Oktober 2026), setelah sempat anjlok ke 6.036 di pertengahan pekan. Namun, keuntungan teknis ini justru bertolak belakang dengan arus dana asing yang masih mendatarkan jual bersih sebesar Rp 3,75 triliun selama satu pekan. Pasar saham Indonesia kini berada dalam kondisi kontradiksi: technical rebound menguat, sementara sentimen eksternal masih menekan.

Penguatan Teknis IHSG dan Aktivitas Perdagangan Mingguan

📎 Baca Juga

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI Business, IHSG naik 1,04% atau 62,48 poin ke level 6.093,75 pada penutupan perdagangan Jumat. Sepanjang pekan ini, indeks mencatat kenaikan sebesar 0,94%.

Perdagangan Jumat berlangsung dengan rentang level terendah 5.995 dan tertinggi 6.100. Aktivitas perdagangan mencatatkan volume sebanyak 38,38 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 9,95 triliun. Di antara 771 saham yang diperdagangkan, 381 saham menguat, 238 saham melemah, dan 172 saham stagnan.

Asing Borong Tembang-Emas, Tapi Jual Bersih Rp 3,75 Triliun

Di sisi satu, investor asing membukukan net buy sebesar Rp 29,63 miliar di seluruh pasar pada perdagangan Jumat. Namun, secara keseluruhan selama satu pekan, arus keluar asing justru mendominasi dengan net sell Rp 3,75 triliun.

Berikut 10 saham net buy terbesar asing selama sepekan: Ultrajaya Milk (ULTJ) Rp 118,09 miliar, Merdeka Gold Resources (EMAS) Rp 54,38 miliar, Medco Energi (MEDC) Rp 49,52 miliar, Bukit Asam (PTBA) Rp 32,1 miliar, Timah (TINS) Rp 22,71 miliar, Indofood Sukses (INDF) Rp 19,14 miliar, Mitra Adiperkasa (MAPI) Rp 13,64 miliar, Bukit Asam Minerals (BRMS) Rp 9,71 miliar, Dian Swastatika (DSSA) Rp 9,65 miliar, dan Multi Medika (MMIX) Rp 9,61 miliar. Dominasi saham tambang dan komoditas mencerminkan likuiditas masih menyokai sektor ekstraktif.

Titik Pivot Kunci dan Proyeksi Teknis Minggo Depan

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menegaskan IHSG masih berada di bawah rata-rata pergerakan 20 hari (MA20) di kisaran 6.244. Pada bimbingannya, penguatan Jumat belum cukup kuat untuk mengonfirmasi perubahan tren.

Secara teknis, dua level menjadi batas kritis: jika IHSG mampu menembus 6.215, peluang rebound dilanjutkan menuju MA20 di 6.244; sebaliknya, jika kembali turun di bawah 6.000, risiko koreksi lanjutan meningkat dengan support berikutnya di 5.854. Untuk minggu depan, Reza memperkirakan IHSG akan bergerak konsolidatif dengan volatilitas tinggi di rentang 6.000–6.215, dengan resistance terdekat di 6.155 dan 6.215.

Tekanan Makro: The Fed Hawkish, Rupiah Dekat Rp 18.000, Brent di Atas US$ 100

Ekspektasi suku bunga, imbal hasil US Treasury yang naik, tekanan terhadap rupiah yang mendekati Rp 18.000 per dolar AS, serta harga minyak mentah Brent yang bertahan di atas US$ 100 per barel masih menjadi kepala cincang bagi arus dana asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Investor perlu mencermati rangkaian data ekonomi AS: consumer price index (CPI) pada 14 Oktober, producer price index (PPI) pada 15 Oktober, dan data harga impor dan ekspor pada 16 Oktober. Data tersebut berpotensi membentuk kembali ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed, pergerakan dolar AS, dan likuiditas pasar saham global.

Katalis MSCI November 2026: Tiga Skenario yang Perlu Diwaspadai

Evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dijadwalkan pada 11 November 2026 (efektif 1 Desember) menjadi sorotan selanjutnya. Keputusan ini berpotensi mengubah alokasi dana asing ke pasar saham Indonesia, terutama melalui perubahan bobot saham dan Foreign Inclusion Factor (FIF).

Menurut Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta, investor ritel tak sebaiknya mengambil keputusan hanya berdasarkan spekulasi hasil evaluasi. Tiga skenario yang perlu dicermati: (1) MSCI mempertahankan status pasar berkembang dan memberi sinyal positif atas reformasi pasar modal; (2) status tetap, namun pembatasan indeks (freeze) berlanjut; hingga (3) MSCI membuka konsultasi terkait kemungkinan penurunan klasifikasi menjadi pasar perintis (frontier). Di ketiga skenario, investor disarankan menurunkan konsentrasi pada saham sensitif aliran asing, menjaga likuiditas, dan mengutamakan fundamental emiten.

Amman Mineral: Doplikan Tekanan Jual dengan Fase Produksi Paling Menguntungkan

Di tengah tekanan jual asing, sejumlah saham tambang justru diborong, termasuk Amman Mineral (AMMN) yang naik 4,01% ke Rp 4.410 per saham pada Jumat. Analis CGS International Sekuritas Joanne Ong menilai AMMN memasuki fase produksi paling menguntungkan di tambang Batu Hijau, NTB, didorong peningkatan kadar bijih, optimalisasi smelter, dan meredanya belanja modal.

Proyeksi Jaya dipertahankan: penjualan katoda tembaga AMMN diperkirakan naik 63% secara tahunan ke 124.000 ton pada 2026, sementara penjualan emas murni melonjak 113% ke 243.000 ons troi. Smelter tembaga dan precious metals refinery (PMR) telah beroperasi penuh sejak Juli 2026, dengan kapasitas pengolahan melebihi dua kali lipat menjadi 85 juta ton per tahun. Untuk 2026-2028, CGS memproyeksikan CAGR pendapatan 10% dan CAGR earnings per share (EPS) sebesar 29%, sementara rasio net gearing turun dari 1,1x pada 2025 ke 0,3x pada 2028. Rekomendasi analis tetap “Add” dengan target harga Rp 7.000 per saham (P/E 19,6x atas proyeksi laba 2027), meski risiko regulasi, operasional, dan perpanjangan IUPK pasca-2030 perlu diwaspadai.

Kesimpulan

IHSG rebound +0,94% mingguan, tetapi asing masih jual bersih Rp 3,75 triliun — pasar butuh dorongan dari dalam negeri dan pelonggaran sentimen eksternal. Titik 6.215 menjadi batas kepercayaan bullish, sementara 6.000 berperan sebagai gerbang peringatan. Data inflasi AS (CPI/PPI awal lusa) dan keputusan MSCI 11 November 2026 adalah dua katalis utama yang akan menentukan arah pasar hingga akhir Oktober.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter