Jakarta, 9 Oktober 2026 -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,04 persen menyentuh level 6.094,35 pada perdagangan Jumat, memulihkan sebagian kerugian dari koreksi 1,88 persen di sesi sebelumnya. Rebound ini ditarik kuatnya sektor industri (+2,03 persen), material dasar (+1,8 persen), dan infrastruktur (+1,3 persen). Di tengah lautan tekanan pasar global yang masih berlanjut -- dari yield obligasi AS hingga ketegangan Timur Tengah -- kebijaman Bank Indonesia (BI) justru menjadi poin baling-baling mengamplang: tak mendongakkan BI Rate, melainkan memakai insentif biaya hedging untuk menambahalir modal asing mencapai US$8 miliar.
Sementara itu, Bank Mandiri (BMRI) membuka gelagar baru di pasar emas digital. Bank ini mendapatkan lisensi bullion dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), lalu mengintegrasikan layanan beli-jual emas langsung dalam aplikasi super-app Livin' by Mandiri yang sudah terdaftar 42,1 juta pengguna. Kehadirian dua berita institusional -- IHSG rebound dan ekspansi emas Mandiri -- menjadi sinyal bahwa pasar modal Indonesia masih berdaya tahan, meski dikelilingi risiko eksternal yang belum reda.
IHSG Rebound 1,04% Setelah Dua Hari Anjlok, Dipimpin Sektor Industri dan Material
đ Baca Juga
- Pasca-Bencana MSCI: BEI Gencarkan Reformasi Transparansi, IHSG dan Rupiah Tetap di Ambang Krisis
- IHSG Anjlok 40% YTD, MSCI Siapkan Downgrade ke Standalone Market â Pasar Saham Indonesia di Bawah Tekanan Berat
- IHSG Dibanting MSCI: Proyeksi 4.989â7.082 hingga Akhir 2026 & Strategi Rotasi Portofolio
IHSG dibuka kuat di level 6.058,42, sempat merajut naik ke puncak 6.112,88, lalu menutup di 6.094,35 -- naik 63,07 poin atau +1,04 persen. Pemulihan ini berlangsung setelah IHSG anjlok 1,88 persen ke 6.031,28 pada Kamis (8/10), yang kemarin juga merupakan akhir dari tren penurunan dua hari berturut-turut sejak puncak 6.192,93 pada Senin (6/10/2026).
Data historis IHSG (harga penutupan, dari Yahoo Finance):
- 6 Oktober 2026: 6.192,93 (+1,21%)
- 7 Oktober 2026: 6.146,72 (-0,75%)
- 8 Oktober 2026: 6.031,28 (-1,88%)
- 9 Oktober 2026: 6.094,35 (+1,04%)
Dari segi likuiditas, volume perdagangan tercatat 303,55 juta lot saham dengan nilyai transaksi mencapai Rp6.847,74 miliar (sekitar Rp6,85 triliun). Sektor yang mendominasi bullish movement antara lain industri (+2,03%), material dasar (+1,8%), dan infrastruktur (+1,3%).
Saham-saham penguat IHSG pada Jumat: Bank Central Asia (BBCA), Amman Mineral (AMMN), Telkom Indonesia (TLKM), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Mora Telematika (MORA). Di sisi lain, saham yang menekan indeks meliputi Bayan Resources (BYAN), GoTo (GOTO), Golden Energy Mines (GEMS), Energi Mega (ENRG), dan Maha Properti (MPRO).
BI Tak Ikuti The Fed, Pakai Insentif Hedging Imbas Rp8 Miliar dan Stimulus KLM
Di tengah tekanan yield obligasi AS yang sempat merebak ke level tertinggi sejak April 2002, Bank Indonesia pada Jumat (9/10) tetap menahan kadar suku bunga acuan (BI Rate). Gubernur BI Destry Damayanti menjelaskan keputusan ini didasarkan pada pendekatan forward-looking: BI sudah lebih dulu menaikkan suku bunga pada Mei-Juni 2026 sebagai antisipasi, dan kini beralih ke instrumen non-tradisional untuk mengelola aliran modal.
Strategi baru BI berupa insentif biaya hedging yang tersebar capai 30 persen untuk pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan 25 persen untuk transaksi swap. Hasilnya, Indonesia berhasil mencatatkan inflow modal asing sebesar US$8 miliar serta "durian runtuh" sebesar 200 juta yen. Dompati, selain insentif hedging, BI juga menerapkan Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang memberi pengurangan Giro Wajib Minimum (GWM) hingga 2 persen bagi bank yang tidak berlebihan menempatkan dana di surat berharga dan tetap menyalurkan kredit.
Inisiatif ini muncul setelah pelajaran dari penerbitan SRBI sebelumnya, yang pernah mencapai yield hingga 7,6 persen -- level yang justru memicu kenaikan biaya dana dan menyebar ke seluruh pasar keuangan. "Kita belajar dari situ, kita ingin dapat inflow tanpa harus menaikkan yield SRBI atau BI Rate," ujar Destry. Pendekatan ini menjaga inflasi dan stabilitas rupiah tetap terjaga, sementara rupiah sempat kuat ke level psikologis Rp17.500 pada September lalu.
Bank Mandiri Dapat Lisensi Bullion OJK, Kuatkan Bisnis Emas di Livin' by Mandiri
Dalam momentum HUT ke-28 Bank Mandiri, bank ini tidak hanya berhasil mengalirkan dividen total Rp50,63 triliun, tetapi juga meraih lisensi bullion dari OJK. Dengan lisensi ini, Mandiri mengintegrasikan transaksi emas digital langsung di Livin' by Mandiri -- tempat pengguna bisa membuka tabungan emas, beli-jual emas fisik, melakukan pencicilan, deposito, hingga menarik emas melalui ATM Emas Mandiri tanpa harus keluar dari aplikasi.
Berdasarkan data, hingga Agustus 2026, pengguna Livin' by Mandiri telah mencapai 42,1 juta orang. Layanan baru ini mendukung roadmap OJK untuk menguatin ekosistem bullion di Indonesia. Harga emas kini menguat ke US$4.213,60 per ounce (data Yahoo Finance, 9 Oktober 2026), naik dari US$4.157 pada hari sebelumnya dan US$4.141 tiga hari sebelumnya -- momentum yang sempurna bagi ekspansi bisnis emas Mandiri.
Bank Mandiri juga menyiapkan fitur KSM Emas (Kredit Serbaguna Mandiri Emas) dengan bunga ringan serta rencana Multiguna Emas untuk pinjaman tunai dengan agunan emas, sebagai langkah memperluas akses kepemilikan aset emas yang aman dan fleksibel.
Tekanan Global Belum Reisa: Trump Tunda Serangan Iran, Minyak US$104, IMF Peringatkan
Sehari setelah pasar sempat gemetar karena Presiden AS Donald Trump menyatakan siap menyerang Iran, Trump justru menyatakan pada Jumat bahwa tidak akan menyerang sebelum pemilihan paruh waktu pada 3 November 2026. Sikap ini menenangkan pasar, bersamaan dengan krisis minyak yang masih meluas. Harga minyak Brent naik lebih dari 4 persen hingga menembus US$104 per barel, wajar jika pasokan di Laut Persia terganggu akibat ancaman terhadap pengiriman melalui Selat Hormuz.
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva memperingatkan bahwa harga energi berpotensi tetap tinggi hingga US$100 per barel hingga 2027, meski konflik di kawasan Teluk segera berakhir. Produksi dan distribusi membutuhkan waktu pemulihan, sementara ketergantungan terhadap pasokan gas alam dari Laut Teluk juga menimbulkan risiko pasokan untuk Asia dan Eropa.
Di sisi kebijakan moneter Eropa, Risalah rapat ECB Kamis lalu menunjukkan para pembuat kebijakan masih melihat risiko inflasi cenderung meningkat. ECB mempertahankan seluruh pilihan kebijakan tanpa memberi kepastian langkah berikutnya. Suku bunga deposito Eropa bertahan di 2,5 persen, sementara suku operasi pembiayaan utama (MRO) di 2,65 persen. Ketidakpastian geopolitik, termasuk konflik AS-Iran dan perang Rusia-Ukraina, menjadi bagian pertimbangan terhadap prospek harga.
Outlook: IHSG dan Rupiah Depan pada Jadual BI dan Fed, Data Konsumsi AS
Sentimen pasar pada hari ini (9/10) dipengaruhi oleh tiga faktor: perkembangan konsumsi domestik, ketahanan pasar tenaga kerja AS, dan risiko harga energi global. Dari dalam negeri, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September ditunjukkan di angka 118,1, sedikit turun dari 118,5 pada Agustus -- posisi di atas 100 yang berarti konsumen tetap optimis, namun penurunannya mengindikasikan pemulihan daya beli belum sepenuhnya merata.
Di pasar valuta, rupiah ditutup menguat tipis dengan dolar AS berada di sekitar Rp17.875 pada perdagangan Jumat ini (data Yahoo Finance, 7 Oktober: Rp17.877,50 -- konsolidasi dari level tertekan Rp17.980 pada 28 September). Yield AS 10 tahun turun tipis ke 5,231 persen pada 8 Oktober (dari 5,277 persen pada 7 Oktober), memberi sedikit napas bagi IHSG dan rupiah. Namun tekanan tetap ada hingga IMF menilai harga minyak sekitar US$100 per barel hingga 2027, yang bisa memicu inflasi impor dan tekanan rupiah.
Nagihnya, IHSG rebound 1,04% ke 6.094,35 menunjukkan daya tahan pasar modal Indonesia. Dengan BI yang bertindak cerdas melalui insentif non-suku bunga, dan emiten-emiten unggulan seperti Bank Mandiri yang terus inovasi -- pasca-rencanaan IPO terbuka mencapai Rp26,47 triliun -- pasar saham Indonesia terlihat cukup andalkan menghadapi gejolangan global yang dinamis.
FAQ
IHSG menutup di level 6.094,35, naik 63,07 poin atau +1,04 persen dari penutupan sebelumnya (6.031,28 pada 8 Oktober 2026), memulihkan sebagian dari koreksi 1,88 persen sehari sebelumnya.
Dengan kebijakan insentif hedging (30% untuk DNDF, 25% untuk swap), Indonesia berhasil mencatatkan inflow modal asing sebesar US$8 miliar pada periode terkait, ditambah "durian runtuh" sebesar 200 juta yen, tanpa perlu menaikkan BI Rate.
Selain insentif biaya hedging, BI menerapkan Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) dengan memberi pengurangan Giro Wajib Minimum (GWM) hingga 2 persen bagi perbankan yang tidak berlebihan menempatkan dana di surat berharga dan tetap menyalurkan kredit.
Bank Mandiri mendapatkan lisensi bullion dari OJK dan mengintegrasikan layanan beli-jual emas digital langsung di Livin' by Mandiri (42,1 juta pengguna). Fitur termasuk tabungan emas, transaksi emas fisik, ATM Emas, dan rencana KSM Emas untuk pembiayaan dengan agunan emas.
Dengan tak mendongakkan BI Rate, BI menghindari kompresi likuiditas dan tekanan biaya dana. Sebaliknya, insentif hedging memberi alternatif yang lebih efisien untuk menarik aliran modal asing, sekaligus menjaga inflasi dan stabilitas rupiah tetap terjaga. Rupiah sempat kuat ke level Rp17.500 pada September 2026.
Tiga risiko utama: (1) ketegangan Timur Tengah -- Trump menunda serangan Iran hingga paling lambat 3 November 2026, (2) harga minyak Brent yang tembus US$104 per barel akibat ancaman pasokan di Selat Hormuz, dan (3) peringatan IMF bahwa harga energi dapat tetap tinggi hingga US$100 per barel hingga 2027.
Sector andal: industri (+2,03%), material dasar (+1,8%), infrastruktur (+1,3%). Saham pemenang IHSG antara lain BBCA, AMMN, TLKM, BBRI, dan MORA, sementara BYAN, GOTO, GEMS, ENRG, dan MPRO menjadi tekanan penurun.
