Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir minggunya di zona hijau kuat. Setelah sempat retray ke level terendah 5.995,82 di tengah koreksi tengah pekan, IHSG ditutup melonjak 1,04% atau naik 62,47 poin ke 6.093,75 pada Jumat (9/10/2026). Penguatan ini membawa IHSG naik 0,94% sepanjang minggu, menandai pemulihan sekaligus sinyal bahwa tekanan jual sementara mereda.
Total volume perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai 38,38 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 9,95 triliun. Sebanyak 381 saham menguat, 238 saham melemah, dan 172 saham stagnan. Investor asing membukukan beli bersih (net buy) sebesar Rp 29,63 miliar di seluruh pasar.
Penguatan hari Jumat ini bertepatan dengan peluncuran berita yang cukup signifikan dari sektor properti teknologi â Indosat (ISAT) bersama F5 meluncurkan Indosat Intelligence Suite, platform kecerdasan buatan (AI) yang mengintegrasikan lebih dari 300 model AI terbuka dan tertutup. Meskipun demikian, saham ISAT sendiri ditutup turun 0,93% dan masuk sektor top losers LQ45, menunjukkan pasar masih menilai secara sekaligus sebelum merespons aksi menguntungkan pada inovasi AI.
IHSG Rebound 1,04% ke 6.093,75 Setelah Koreksi Tengah Pekan
đ Baca Juga
- Pasca-Bencana MSCI: BEI Gencarkan Reformasi Transparansi, IHSG dan Rupiah Tetap di Ambang Krisis
- IHSG Anjlok 40% YTD, MSCI Siapkan Downgrade ke Standalone Market â Pasar Saham Indonesia di Bawah Tekanan Berat
- IHSG Dibanting MSCI: Proyeksi 4.989â7.082 hingga Akhir 2026 & Strategi Rotasi Portofolio
Pergerakan IHSG pada pertama-tiga hari perdagangan pekan ini cenderung bergejolak. Pada Selasa (6/10), IHSG melesat 1,21% ke 6.192. Namun, sentimen eksternal yang tekanan pun kembali menurunkan indeks â pada Rabu (7/10) IHSG terkoreksi ke 6.146, lalu sempat kehilangan momentum dan mendekati 6.036.
Di tengah ketidakpastian luar negeri, IHSG akhirnya memulihkan diri pada perdagangan Jumat. Indeks berhasil melewati level kunci 6.000 dan ditutup di 6.093,75, naik 62,47 poin (+1,04%). Seluruh sepuluh indeks sektoral berhasil mencatat kenaikan, kecuali satu â sektor properti yang melemah 0,16%.
Dari sisi pasar uang, rupiah ditutup menguat pada Rp 17.899 per dolar AS pada hari yang sama, sejalan dengan pemulihan IHSG. Namun, tekanan tetap ada: rupiah sempat mendekati level psikologis Rp 18.000 dalam sepekan, dan masih berada di bawah payahannya terhadap dolar yang digerakkan kebijakan moneter AS.
Beli Bersih Asing Rp 29,63 Miliar, Ini 10 Saham yang Ditopang
Meskipun IHSG naik kuat, arah dana asing justru tidak merata â terlihat jelas transaksi net sell di saham teknologi dan keuangan besar, sekaligus net buy di sektor komoditas dan energi. Investor asing membukukan net buy sebesar Rp 29,63 miliar di seluruh pasar.
Riau investasi asing dialirkan ke sektor komoditas dan infrastruktur, termasuk:
- PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI): Rp 67,05 miliar
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS): Rp 17,33 miliar
- PT Archi Indonesia Tbk (ARCI): Rp 15,96 miliar
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA): Rp 12,92 miliar
- PT Singaraja Putra Tbk (SINI): Rp 12,75 miliar
- PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA): Rp 12,61 miliar
- PT Gudang Garam Tbk (GGRM): Rp 12,28 miliar
- PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA): Rp 10,16 miliar
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI): Rp 8,55 miliar
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN): Rp 7,91 miliar
Di sisi lain, saham teknologi dan perbankan masuk daftar net sell terbesar, termasuk:
- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO): Rp 154,63 miliar
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): Rp 80,41 miliar
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM): Rp 46,49 miliar
- PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK): Rp 23,13 miliar
- PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI): Rp 20,13 miliar
Tiga Sektor Penggerak: Komoditas, Industri, Infrastruktur
Sepuluh indeks sektoral IHSG seluruhnya berada di zona hijau pada Jumat, dengan tiga sektor menjadi penggerak utama:
- Sektor Barang Baku (Komoditas): naik 1,67% â penguatan tertinggi, didorong harga komoditas global dan likuiditas asing masuk ke saham tambang
- Sektor Perindustrian: naik 1,51% â mendukung momentum IHSG secara internal
- Sektor Infrastruktur: naik 1,15% â sejalan dengan optimisme atas proyek infrastruktur nasional
Di antara saham LQ45, top gainers hari ini adalah INDY (+6,08%), HRTA (+4,81%), dan AMMN (+4,01%). Di pihak lain, top losers tercatat untuk PGAS (-1,39%), MEDC (-1,04%), dan ISAT (-0,93%).
Indosat Luncurkan Indosat Intelligence Suite Bersama F5 untuk Ekspansi AI Asia
Di tengah peluncuran saham dan performa pasar, PT Indosat Tbk (ISAT) secara resmi meluncurkan Indosat Intelligence Suite â platform kecerdasan buatan (AI) bertujuan untuk wilayah Asia. Kemitraan ini melibatkan F5, perusahaan teknologi asal Amerika Serikat.
Platform ini mengintegrasikan lebih dari 300 model AI terbuka dan tertutup dalam satu antarmuka, termasuk model Sahabat-AI yang dihosting oleh Indosat, model AI global, serta berbagai model AI lokal. Pengguna dapat memilih model AI sesuai kebutuhan bisnis tanpa harus membangun infrastruktur dari awal.
"Kebutuhan perusahaan terhadap AI kini tidak lagi terbatas pada akses ke model, tetapi juga kemampuan untuk menerapkannya secara aman dalam operasional bisnis," kata Vikram Sinha, Presiden Direktur dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison, dalam keterangan resmi.
Dari sisi pengelolaan biaya, platform menawarkan skema Pay as You Go, Unified Enterprise Credit, dan Dedicated Capacity. Sistem juga dilengkapi dengan autentikasi permintaan, pencatatan penggunaan yang dapat diaudit, dan pengaturan kebijakan privasi data.
Saat peluncuran, Indosat Intelligence Suite ditargetkan menjangkau 50 bisnis dan organisasi di wilayah Asia, dengan akses awal melalui harga promosi khusus.
Outlook Teknikal: IHSG Di Bawah MA20, Rentang 6.000â6.215
Berdasarkan senarai Reza Diofanda, Analis BRI Danareksa Sekuritas, pergerakan IHSG masih tergolong di bawah rata-rata pergerakan 20 hari (MA20) di kisaran 6.244. Dengan demikian, penguatan Jumat belum cukup kuat untuk menguatkan sebagai konfirmasi perubahan tren naik.
Dari sisi teknikal, ia menempatkan target dan dukungan sebagai berikut:
- Resistance terdekat: 6.155 dan 6.215
- Jika mampu menembus 6.215 â IHSG berpotensi melanjutkan rebound ke MA20 di 6.244
- Support kunci: 6.000
- Jika turun di bawah 6.000 â tekanan jual berisiko meningkat, dengan support berikutnya di 5.854
Untuk pekan depan, Reza memproyeksikan IHSG akan bergerak konsolidatif dengan volatilitas tinggi dalam rentang 6.000â6.215.
Tekanan Eksternal: Fed Hawkish, Imbal Hasil AS, dan Minyak Brent di Atas $100
Meski IHSG rebound kuat, tekanan eksternal tetap menjadi jagoan utama. Menurut Reza, tiga faktor eksternal masih mendominasi sentimen pasar:
- Kebijakan hawkish The Fed: sikap agresif The Federal Reserve menekan aliran dana ke pasar saham negara berkembang
- Kenaikan imbal hasil US Treasury: meningkatkan risiko inflasi global dan menyukai dolar AS
- Tekanan rupiah: sempat mendekati level Rp 18.000 per dolar AS â zona kritis bagi pasar modal
- Harga minyak Brent: bertahan di atas US$ 100 per barel, menambah beban inflasi import
Pekan depan, investor akan mencermati rangkaian data ekonomi AS yang berpotensi memengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed dan arus dana asing:
- US Consumer Price Index (CPI) â Selasa, 14 Oktober 2026
- US Producer Price Index (PPI) â Rabu, 15 Oktober 2022026
- Data impor dan ekspor AS â Kamis, 16 Oktober 2026
Data-data ini akan menjadi gerbang utama bagi arah IHSG ke akhir Oktober.
Rupiah dan Likuiditas Pasar: Kapasitas dan Risiko
Sepanjang pekan, rupiah ditutup menguat di Rp 17.899 per dolar AS pada Jumat, melewati titik lemah terbaru di kawasan Rp 18.000. Pemulihan ini sekaligus melegakan tekanan pasar modal lokal dan sekaligus memberi napas bagi investor asing untuk beli.
Sementara itu, volume transaksi saham di BEI mencapai Rp 9,95 triliun dalam 38,38 miliar lembar, menunjukkan likuiditas pasar tetap cukup sehat meski volatilitas tinggi terus ada.
