Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
πŸ† Best Score
IHSG netral ⏱ 6 menit

IHSG Rebound ke 6.037, Penutupan Hijau Jumat (2/10) Usai 6 Hari Anjlok; Asing Net Sell Rp 1,27 Triliun

IHSG Rebound ke 6.037, Penutupan Hijau Jumat (2/10) Usai 6 Hari Anjlok; Asing Net Sell Rp 1,27 Triliun
Gedung Bursa Efek Indonesia (IDX Building), CC BY-SA 4.0, Wikimedia Commons

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya ditutup di zona hijau pada Jumat, 2 Oktober 2026, dengan penguatan 0,45% ke level 6.036,88 β€” menghentikan kemunduran enam hari berturut-turut. Namun, meski harga saham menguat, aliran modal asing justru masih mengalir keluar, mencatat net sell Rp 1,27 triliun pada hari terakhir perdagangan, atau Rp 4,32 triliun dalam satu minggu. Kelompok saham teknologi, khususnya GOTO yang baru saja anjlok 12,5% pada Kamis (1/10), kembali menjadi sorotan pasar dengan nilai transaksi Rp 1,74 triliun. Sementara itu, September 2026 menandai bulan tertekan bagi IHSG dengan koreksi 6,96% secara month-on-month, mendorong sejumlah analis untuk melihat peluang akumulasi di sektor perbankan dan sumber daya alam.

Jakarta, Emiten.org - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya ditutup di zona hijau pada Jumat, 2 Oktober 2026, setelah enam hari perdagangan berturut-turut dalam tekanan. Penguatan sebesar 0,45% ke level 6.036,88 ini berhasil memutus kemunduran yang dimulai sejak Jumat lalu (25/9/2026) ketika IHSG masih di kisaran 6.242.

Sepanjang perdagangan Jumat ini, IHSG bergerak dalam rentang 5.979 hingga 6.053. Meski akhirnya menguat, kinerja mingguan masih tertekan β€” IHSG anjlok 3,28% selama lima hari perdagangan terakhir, sementara dari awal September, IHSG turun 6,96% secara month-on-month dari 6.525,47 menjadi 6.071,13 pada akhir September 2026.

Dalam sepekan penuh (25/9–2/10), investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 4,32 triliun. Pada hari Jumat saja, net sell asing mencapai Rp 1,27 triliun β€” menandakan bahwa meski harga IHSG rebound, keyakinan investor internasional masih belum pulih.

Diskontinuitas: IHSG naik, Asing masih jual

πŸ“Ž Baca Juga

Paradoks pasar semakin terasa: IHSG ditutup menguat, namun aliran dana asing justru konsentrasi pada aksi jual. Pola ini memperkuat narasi bahwa rebound harga tidak diikuti oleh aliran modal ke Indonesia. Sebanyak 319 saham ditutup menguat dan 337 saham melemah pada Jumat, sementara 134 saham stagnan. Volume perdagangan mencapai 121,54 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 12,25 triliun.

Aksi jual asing tidak tersebar merata. Jual bersih paling besar terkonsentrasi pada saham-saham ritel dan keuangan β€” khususnya PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sebesar Rp 935,89 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 171,4 miliar, PT Singaraja Putra Tbk (SINI) Rp 85,44 miliar, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 66,03 miliar, dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp 30,47 miliar.

Di sisi lain, investor asing masih menemukan peluang di sejumlah saham. BBCA menjadi saham net buy terbesar dengan Rp 44,19 miliar, diikuti PTBA (Rp 29,13 miliar), ASII (Rp 18,06 miliar), DEWA (Rp 14,59 miliar), dan SMGR (Rp 10,38 miliar). Hal ini menunjukkan asing tidak sepenuhnya menarik diri, melainkan beralih ke saham yang dianggap lebih tahan terhadap tekanan pasar.

GOTO: Dari Anjlok 12,5% Jadi Sorotan Pasar

Saham GOTO menjadi sorotan pasar pada akhir pekan ini. Pada Kamis (1/10), GOTO anjlok 12,5% ke Rp 28 β€” penurunan terbesar di antara seluruh saham LQ45. Namun, pada Jumat, harga saham rebound ke kisaran Rp 30 setelah dibuka kuat dari level Rp 27 di sesi I.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta, menilai valuasi GOTO sudah cukup menarik. Menurutnya, saham GoTo sudah diperdagangkan di bawah satu kali nilai buku (PBV < 1x) sekaligun dengan status profitabel. Kuartal II 2026, GOTO mencatatkan laba bersih Rp 252 miliar β€” naik 47% dari kuartal I sebesar Rp 171 miliar. Pendapatan bersih mencapai Rp 5,7 triliun (tumbuh 31% YoY), sementara EBITDA grup mencapai Rp 1 triliun untuk pertama kalinya, mendukung target EBITDA 2026 sebesar Rp 3,2–3,4 triliun.

Berbeda dengan aksi jual asing, volumenya justru sangat tinggi. Nilai transaksi GOTO mencapai Rp 1,74 triliun dengan volume 65,11 miliar saham β€” paling tinggi dalam lima hari terakhir. Ini menunjukkan minat investor lokal yang kembali mendekati level yang sudah terdiskon.

Senior Equity Research Analyst Phillip Sekuritas Indonesia Edo Ardiansyah memprediksi kisaran harga wajar GOTO sebesar Rp 65–74 per saham, jauh di atas level pasar saat ini. Menariknya, GoTo juga memiliki program buyback saham berupa alokasi maksimal Rp 3,5 triliun untuk periode Juni 2026 hingga Juni 2027, yang dapat memberikan dukungan psikologis maupun fundamental.

September: Bulan Tertekan bagi IHSG

Data Bloomberg menunjukkan IHSG turun 6,96% secara bulanan pada September 2026, dari 6.525,47 menjadi 6.071,13. Penurunan ini terjadi di tengah pengetukan sikap ekspektasi kenaikan suku barga The Fed serta penguatan dolar AS dan tekanan kenaikan harga minyak.

Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada September 2026 menjadi kisaran 3,75%–4,0%, menjadi pemicu utama aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar saham berkembang, termasuk Indonesia. Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 5,75% untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal.

Harga minyak juga menjadi faktor volatilitas. Minyak mentah sempat mencapai US$ 132 per barel sebelum kembali di bawah US$ 100 pada 22 September 2026. Tekanan ini, gabung dengan arus keluar asing, mendorong investor untuk kembali menimbang kembali posisi di pasar saham Indonesia.

Sepanjang September, salah satu sesi perdagangan mencatat foreign net sell sebesar Rp 1,95 triliun β€” dengan BBCA termasuk saham yang paling banyak dilepas. Data ini konsisten dengan pola penurunan IHSG.

Rupiah dan Outlook ke Oktober

Di pasar valuta, rupiah spot ditutup menguat 0,47% ke Rp 17.882 per dolar AS pada Jumat (2/10). Kurs ini relatif stabil meski IHSG masih berada di bawah tekanan jangka pendek. Level support IHSG saat ini berada di kisaran 5.950–6.000, sementara resistance berada di 6.020–6.040. Pasar ditantang untuk menembus resisten ini sebelum berpotensi melanjutkan rebound.

Dari data Yahoo Finance, IHSG (^JKSE) berada di level 6.036,88 β€” jauh di bawah rentang 52 minggunya yang tercatat antara 5.317,91 (terendah) dan 9.174,47 (tertinggi). Volatilitas pasar masih tinggi, dan pengamat menyoroti pentingnya menunggu data ekonomi AS serta kebijakan moneter global.

Untuk saham LQ45, rasio PER dan PBV pada 1 Oktober 2026 menunjukkan adapsi valuasi. BBCA mencatat PER 14,74x dan PBV 1,03x, sedangkan GOTO masih di PER 28x dan PBV 1,00x. Di sisi lain, PT Bank Negara Indonesia (BBNI) mencatat PBV terendah di 0,78x, sementara INKP kembali menjadi saham dengan PBV terendah secara keseluruhan di 0,34x.

Di tengah ketidakpastian global, analis menyarankan investor melakukan akumulasi bertahap pada saham dengan fundamental kuat β€” khususnya sektor perbankan (BBCA, BMRI, BBRI) dan sumber daya alam (PTBA, INCO). Sementara itu, pasar diproyeksikan akan tetap volatile menjelang akhir Oktober 2026, dengan fokus pada perkembangan yield AS dan keputusan FOMC.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org β€” menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter