Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
πŸ† Best Score
IHSG netral ⏱ 8 menit

IHSG Rebound 0,46% ke 6.036,88: Buyback Rp4,9T & Rupiah Temani, Asing Net Sell Rp1,27T

IHSG Rebound 0,46% ke 6.036,88: Buyback Rp4,9T & Rupiah Temani, Asing Net Sell Rp1,27T
Gedung Bursa Efek Indonesia, CC BY-SA 4.0, Wikimedia Commons

IHSG menutup menguat 0,46% ke 6.036,88 pada Jumat (2/10/2026) setelah enam hari tekanan dan koreksi 3,28% seminggu. Investor asing tetap jual Rp 1,27 triliun (Rp 4,32 triliun sepekan), namun rebound didorong buyback 6 emiten hingga Rp 4,9 triliun dan penguatan rupiah ke Rp 17.882. Rotasi sektor: teknologi +1,51%, energi +1,12%, sementara perindustrian -1,70% dan transportasi -1,38%. GOTO tetap top gainer sekaligus saham net sell terbesar asing (Rp 935,89 miliar).

Jakarta, 3 Oktober 2026 β€” Pasca enam sesi berturut-turut di bawah tekanan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya menutup hijau pada Jumat (2/10/2026), ditutup menguat 0,46% ke posisi 6.036,88. Keuntungan 27,38 poin ini menghilangkan sebagian tekanan dari koreksi 3,28% yang terakumulasi selama seminggu. Namun momentum ini tidak diikuti aliran dana asing: investor asing mencatat net sell sebesar Rp 1,27 triliun pada Jumat, atau Rp 4,32 triliun dalam tujuh hari terakhir. IHSG justru selamat dari dasar 5.979 dan naik ke puncak 6.053 berkat dua penyeimbang dari dalam negeri β€” gelombang buyback saham hingga Rp 4,9 triliun dan penguatan rupiah ke kisaran Rp 17.882 per dolar AS.

IHSG Rebound 0,46% di Tengah Asing Masih Jual Rp 1,27 Triliun

πŸ“Ž Baca Juga

Pada sesi terakhir pekan ini, IHSG bergerak dalam rentang sempit 5.979 hingga 6.053 sebelum ditutup di 6.036,88. Total volume perdagangan saham di BEI mencapai 121,54 miliar lembar (atau sekitar 121,09 miliar saham) dengan nilai transaksi Rp 12,25 triliun. Rasio partisipasi relatif tersebar: 319 saham naik, 337 saham turun, dan 134 saham stagnan.

Indeks LQ45 pun mengikuti, naik 0,52% ke 595. Di antara raksasa LQ45, GoTo (GOTO) tetap menjadi top gainer dengan melonjak 7,14%, sementara PT Bukit Asam (PTBA) naik 4,26% dan Adaro Energy (ADRO) turut menguat. GOTO sekaligus menjadi saham net sell terbesar asing pada hari itu β€” sebuah kontraparik yang patut dicatat.

Berikut 10 saham net sell terbesar asing pada Jumat (2/10/2026), lengkap dengan jumlah jual bersihnya:

  1. GoTo (GOTO) β€” Rp 935,89 miliar
  2. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) β€” Rp 171,4 miliar
  3. Singaraja Putra (SINI) β€” Rp 85,44 miliar
  4. Bank Mandiri (BMRI) β€” Rp 66,03 miliar
  5. Telkom Indonesia (TLKM) β€” Rp 30,47 miliar
  6. MNC Digital Entertainment (MSIN) β€” Rp 29,97 miliar
  7. Sinergi Inti Andalan Prima (INET) β€” Rp 28,78 miliar
  8. Adaro Andalan Indonesia (AADI) β€” Rp 21,95 miliar
  9. Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) β€” Rp 20,81 miliar
  10. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) β€” Rp 16,25 miliar

Rotasi Sektor: Teknologi & Energi Naik, Perindustrian & Transportasi Turun

Rotasi sektoral menambah warna pada rebound IHSG. Sektor yang paling kuat adalah teknologi (+1,51%), diikuti energi (+1,12%) dan barang konsumen non-siklikal (+0,67%). Di sisi lain, tekanan terlihat pada sektor perindustrian (-1,70%), transportasi & utilitas (-1,38%), dan infrastruktur (-0,90%). Pola ini konsisten dengan aliran asing yang keluar dari saham konsumsi dan infrastruktur, sementara likuiditas dalam negeri dan dukungan buyback mendorong saham teknologi dan energi.

Buyback Jadi Penyeimbang: 6 Emiten Alihkan Rp 4,9 Triliun

Berbeda dengan tekanan jual asing, emiten dalam negeri justru aktif membeli kembali saham. Menurut Kontan (2/10/2026), setidaknya enam emiten menyiapkan aksi pembelian kembali (buyback) menjelang akhir 2026, dengan total alokasi dana mencapai Rp 4,9 triliun. Berikut rinciannya:

  • PT United Tractors (UNTR) β€” Rp 2 triliun (anak usaha ASII)
  • PT Merdeka Battery Materials (MBMA) β€” Rp 1,38 triliun
  • PT Sarana Menara Nusantara (TOWR) β€” Rp 500 miliar
  • PT Kalbe Farma (KLBF) β€” Rp 500 miliar
  • PT Astra Agro Lestari (AALI) β€” Rp 400 miliar (anak usaha ASII)
  • PT Harum Energy (HRUM) β€” Rp 120 miliar

Jumlah dana buyback bervariasi luas, dari Rp 120 miliar (HRUM) hingga Rp 2 triliun (UNTR). Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, menjelaskan efektivitas buyback ditentukan dua faktor: (1) besaran dana dibanding market capitalization dan likuiditas perdagangan harian; dan (2) keseriusan emiten dalam merealisasikan rencana yang diumumkan. Menurutnya, buyback paling efektif saat harga saham berada di bawah nilai intrinsik dan perusahaan memiliki kas berlebih yang tidak dibutuhkan untuk ekspansi produktif.

“Pendekatan yang lebih tahan lama adalah memperbaiki margin, menjaga pertumbuhan laba secara konsisten, dan membagikan dividen secara berkelanjutan,” kata Wafi kepada Kontan. Intinya, buyback bukan pengganti fundamental β€” tapi saat pasar terjepit tekanan jual asing, ia berperan sebagai pelindung psikologis dan likuiditas bagi investor ritel.

Rupiah dan Yield AS: Tekanan Eksternal yang Masih Terukur

Di sisi lain, penguatan rupiah menjadi sorotan. Rupiah spot ditutup menguat 0,44%–0,47% ke kisaran Rp 17.882–17.913 per dolar AS pada Jumat. Tekanan eksternal tetap terukur: imbal hasil surat berharga pemerintah AS (US Treasury) 10 tahun sempat melonjak ke 5,3% pada Kamis (1/10) β€” level tertinggi sejak 2002 β€” sebelum sedikit merosot di akhir pekan. Kombinasi rupiah yang kuat dan dana buyback dalam negeri memberi IHSG ruang untuk rebound meski aliran modal asing masih mengalir keluar.

FAQ

Berapa level penutupan IHSG pada Jumat (2/10/2026)?

IHSG ditutup menguat 0,46% ke level 6.036,88. Sesi perdagangan berada dalam rentang 5.979 hingga 6.053, dengan volume 121,54 miliar lembar dan nilai transaksi Rp 12,25 triliun (319 saham naik, 337 turun, 134 stagnan).

Apa alasan IHSG naik meski asing jual Rp 1,27 triliun?

Rebound didorong oleh aliran dana domestik serta gelombang buyback saham dari enam emiten yang mengalokasikan Rp 4,9 triliun, dan didukung penguatan rupiah ke Rp 17.882 per USD.

Berapa total dana buyback dan emiten mana saja yang ikut?

Totalnya Rp 4,9 triliun, tersebar pada UNTR (Rp 2 triliun), MBMA (Rp 1,38 triliun), TOWR (Rp 500 miliar), KLBF (Rp 500 miliar), AALI (Rp 400 miliar), dan HRUM (Rp 120 miliar).

Rupiah menguat atau melemah, dan ke berapa?

Rupiah spot menguat 0,44%–0,47% ke Rp 17.882–17.913 per dolar AS pada Jumat, sekaligus menahan tekanan impor dan sekaligus mendukung sektor korporat.

Rotasi sektor menguntungkan siapa saja?

Sektor teknologi (+1,51%) dan energi (+1,12%) paling kuat, sementara perindustrian (-1,70%), transportasi (-1,38%), dan infrastruktur (-0,90%) tertekan.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org β€” menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter