Jakarta, Emiten.org - Pasar keuangan Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada akhir September 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat 0,46% atau 27,38 poin ke level 6.036,89 pada perdagangan Jumat (2/10/2026), memutus kemunduran yang berlangsung selama empat hari berturut-turut. Rupiah juga memulihkan nilai di Rp17.868 per dolar AS, sementara saham strategis seperti GOTO pulih signifikan setelah lima hari tekanan penuh.
\n\nRebound ini terjadi meskipun tekanan dari yield US Treasury 10 Tahun yang sudah mencapai 5,27% (tertinggi dalam 19 tahun) masih terasa. Kekuatan pasar domestik, termasuk kebijakan Bank Indonesia (BI) yang inovatif dan likuiditas yang kembali membaik, menjadi pemicu utama.
\n\nIHSG dan Rupiah Pulih di Akhir September
📎 Baca Juga
IHSG dibuka di posisi 6.018,08 pada Jumat pagi, lalu menguat dan menyentuh level tertinggi harian di 6.053,23. Namun, tekanan jual akhir pekan menurunkan indeks ke terendah di 5.979,98 sebelum akhirnya ditutup di 6.036,89.
\n\nMengutip data IDX, penguatan IHSG disokong oleh 319 saham yang menguat, 337 saham melemah, dan 134 saham stagnan. Volume perdagangan tercatat 121,54 miliar saham dengan nilai transaksi Rp12,26 triliun dan 1,62 juta kali transaksi berubah tangan.
\n\nLima hari sebelumnya (25-29 September), IHSG sempat tertekan kuat. Berdasarkan data Yahoo Finance, indeks melemah dari 6.147,86 (25/9) ke 6.009,50 (30/9), sebelum pulih di perdagangan terakhir September. Titik terendah dalam periode tersebut berada di level 5.979,98 — jauh di bawah rentang 52-minggu antara 5.317,91 dan 9.174,47.
\n\nSecara spesifik, sektor energi, konsumer primer, teknologi, dan finansial menjadi penopang utama rebound IHSG. Saham-saham paling berkontribusi antara lain: PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Astra International Tbk (ASII), PT GOTO Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), dan PT Buni Resources Minerals Tbk (BRMS).
\n\nDi pasar valuta, rupiah berhasil menguat ke Rp17.868 per dolar AS, mengatasi tekanan empat hari sebelumnya yang sempat mendorongnya melewati level psikologis Rp18.000. Penguatan ini sejalan dengan melemahnya indeks dolar AS (DXY) ke 101,877 (-0,23%), yang ditimbulkan oleh penantian pasar terhadap data tenaga kerja AS (NFP) dan pelonggaran tekanan yield obligasi.
