Pada perdagangan Kamis (15/10/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah sebesar 1,33 persen ke level 5.863 poin, tertekan oleh tekanan jual bersih investor asing dan sentimen pasar yang masih lemah. Di sisi lain, rupiah juga mengalami tekanan yang sama, melemah ke Rp17.938 per dolar AS pada sore hari tersebut. Kombinasi tekanan pasar global dan domestik ini menyebabkan seluruh indeks sektoral IHSG berada di zona merah.
IHSG Anjlok, Seluruh Sektor Merah
đ Baca Juga
- Pasca-Bencana MSCI: BEI Gencarkan Reformasi Transparansi, IHSG dan Rupiah Tetap di Ambang Krisis
- IHSG Anjlok 40% YTD, MSCI Siapkan Downgrade ke Standalone Market â Pasar Saham Indonesia di Bawah Tekanan Berat
- IHSG Dibanting MSCI: Proyeksi 4.989â7.082 hingga Akhir 2026 & Strategi Rotasi Portofolio
IHSG ditutup di level 5.863, turun 79,24 poin atau minus 1,33 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Dari 795 saham yang diperdagangkan, hanya 108 saham yang menguat sementara 567 saham terkoreksi dan 120 saham stagnan, menunjukkan dominasi penjual di pasar.
Investor melakukan transaksi sebesar Rp13,44 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 35,24 miliar lembar. Seluruh indeks sektoral melemah, dipimpin oleh sektor barang konsumen non primer yang anjlok 2,96 persen.
Di sisi lain, mengutip laporan real-time dari CNBC Indonesia, IHSG sempat tercatat lebih dalam pada level 5.823,87, turun 119,16 poin atau 2 persen. Indeks ini dibuka di level 5.917,13 dan sempat menyentuh titik tertinggi harian di 5.917,70 sebelum akhirnya anjlok tajam.
Mengutip data Refinitiv, pelemahan IHSG didorong kuat oleh sektor infrastruktur yang anjlok 4,8 persen, sektor energi turun 3,7 persen, dan sektor material dasar turun 3 persen. Saham-saham pemborong IHSG meliputi PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), sementara saham penopang meliputi PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA) dan PT United Tractors Tbk (UNTR).
Rupiah Meletih di Tengah Tekanan Asing
Rupiah membukukan tekanan terpisah namun sejalan dengan IHSG. Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.938 per dolar AS pada Kamis sore, melemah 35 poin atau 0,20 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan keadaan pasar yang melemah. "Rupiah melemah terhadap dolar AS hari ini walau dolar AS dan imbal hasil US Treasury yang berbalik turun setelah rilis data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Menurut Lukman, pelemahan rupiah mencerminkan sentimen pasar yang masih lemah. Tekanan risk-off di pasar domestik dan berlanjutnya aksi jual bersih investor asing masih terus membebani rupiah.
Pergerakan mata uang di kawasanAsia pun bervariasi terhadap dolar AS. Yuan China naik 0,06 persen, ringgit Malaysia 0,07 persen, dan yen Jepang 0,38 persen. Sementara itu, peso Filipina melemah 0,27 persen dan won Korea Selatan terdepresiasi 0,20 persen.
Gelombang Jual Global Menyapu Pasar Asia dan Amerika
Tekanan pasar tidak hanya terlihat di Indonesia. Mayoritas bursa saham di kawasan Asia juga berada di zona merah.
Di antara bursa Asia, indeks Hang Seng Composite di Hong Kong melemah 1,03 persen, Straits Times Singapura minus 0,49 persen, Shanghai Composite China turun 1,59 persen, dan Nikkei 225 Jepang anjlok hingga 4,90 persen.
Bursa Amerika Serikat juga tercatat dominan merah. S&P 500 melemah 1,11 persen, NASDAQ Composite minus 1,88 persen, dan Dow Jones turun 0,09 persen. Bursa Eropa justru menunjukkan performa campur, dengan DAX Jerman turun 0,27 persen sementara FTSE 100 Inggris naik 0,46 persen.
Faktor Risk-Off: Inflasi AS dan Konflik Geopolitik
Guntingnya IHSG dan rupiah dipicu oleh gabungan faktor eksternal yang menimbulkan tekanan risk-off di pasar keuangan global.
Data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan menjadi salah satu pemicu utama. Inflasi Amerika Serikat mencapai 3,7 persen secara tahunan pada September 2026, melebihi ekspektasi pasar sebesar 3,6 persen. Lonjakan ini dipicu oleh kenaikan harga energi, dengan harga bensin melonjak 34,2 persen secara tahunan.
Kenaikan inflasi ini mendorong indeks dolar AS naik ke 102,555, hampir menyentuh level tertingginya sejak April 2025. Tekanan dolar kuat ini berpotensi memicu aliran modal keluar dari pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sementara itu, konflik militer Houthi-Saudi di Yaman kembali memunculkan kekhawatirann pasar terhadap harga minyak dan ketegangan geopolitik. Kelompok Houthi mengancam akan menyerang lagi fasilitas bandara dan pengolahan minyak Arab Saudi, sesaat setelah serangan yang dilaporkan merusak kompleks perusahaan minyak raksaka Saudi Aramco di Dhahran.
Menteri Keuangan Sri Muhaimin "Meneng" sebelumnya menyampaikan bahwa Bank Indonesia siap mengambil langkah untuk menstabilkan rupiah, termasuk melalui intervensi pasar dan likuiditas SBN, sekaligaim harga dolar AS masih mendominasi tekanan jual asing.
