Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
IHSG negatif ⏱ 6-8 menit

IHSG dan Rupiah Turun Tertekan Yield AS, BI Pertahankan BI Rate 5,75%, Luncurkan Short Selling

IHSG dan Rupiah Turun Tertekan Yield AS, BI Pertahankan BI Rate 5,75%, Luncurkan Short Selling
File:Gedung-bursa-efek-1 (1).jpg, Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

IHSG ditutup melemah 1,20% ke 6.298,61 di zona merah, sementara rupiah melemah ke Rp17.885. Yield AS meroket ke level tertinggi sejak 2007. BI tetap jaga BI Rate 5,75% dan luncurkan kebijakan short selling pada saham likuid LQ45.

Jakarta, Emiten.org — Pasar keuangan Indonesia berada di ambang tekanan yang semakin terasa pada Kamis, 24 September 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,20% ke level 6.298,61, sementara rupiah melemah ke posisi Rp17.885 per dolar AS dan bahkan sempat menyentuh level Rp17.900. Tekanan berasal dari lonjakan imbal hasil obligasi AS ke level tertinggi hampir dua dekade, yang memicu penguatan dolar AS dan aliran keluar modal dari pasar emerging markets. Di tengah gejolak global ini, Bank Indonesia (BI) tetap mempertahkan BI Rate di 5,75% untuk ketiga pertemuan berturut-turut, sekaligus meluncurkan kebijakan baru untuk menstabilkan pasar: short selling pada saham likuid dan penetapan harga saham minimum Rp1.

IHSG Ditutup di Zona Merah, Hanya 198 Saham Menguat

📎 Baca Juga

IHSG membuka melemah tipis di 6.364,98, lalu sempat menyentuh level tertinggi hari ini di 6.368,57 pada awal perdagangan. Tekanan jual menguasai pergerakan sejak pagi, sehingga indeks berakhir di 6.298,61 — turun 76,31 poin atau 1,20% dari penutupan sebelumnya di 6.374,91.

Dari data Stockbit, sepanjang perdagangan tercatat sekitar 25,3 miliar saham atau 253 juta lot berpindah tangan, dengan nilai transaksi sekitar Rp9,69 triliun. Volume ini setara 145% dari rata-rata harian sebesar 17,44 miliar saham, menandakan likuiditas tetap tersedia meski IHSG tertekan.

Secara sektoral, hanya 198 saham yang mampu menguat, sementara 487 saham melemah dan 278 saham tak bergerak. Tiga sektor tertekan adalah material dasar (-1,6%), real estate (-1,2%), dan utilities (-1,1%), menurut data Refinitiv. Di antara saham pemberat IHSG, lima blue chip paling menekankan indeks: PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).

Di sisi lain, sejumlah saham kecil yang justru melewati zona merah meliputi Fortune Indonesia Tbk (FORU), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Yulie Sekuritas Indonesia Tbk (YULE), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG).

Yield AS Meroket ke Level Tertinggi Sejak 2007

Anak buah tekanan global datang dari lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang menembus level tertinggi hampir dua dekade. Yield Treasury 10 tahun melonjak 15 basis poin menjadi 5,11% — level tertinggi sejak 2007 — dan sempat menyentuh 5,14% dalam perdagangan.

Kenaikan yield ini dipicu oleh data S&P Global yang menunjukkan aktivitas bisnis AS pada September tumbuh dengan laju tercepat sejak Juli 2021, sekaligus kenaikan biaya input akibat lonjakan harga energi. Kombinasi pertumbuhan yang kuat dan inflasi yang masih tinggi memperkuat spekulasi bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga lagi.

Secara rinci, yield Treasury 30 tahun naik 11 basis poin menjadi 5,4% — rekor intraday tertinggi sejak 2007 dan rekor penutupan tertinggi sejak 2004. Yield 2 tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed, melompat 16 basis poin hingga 4,9%, tertinggi sejak 2024. Yield 5 tahun juga berhasil menembus 5% untuk pertama kalinya sejak 2007 setelah lelang obligasi rutin.

Kenaikan imbal hasil ini menjadi kabar buruk bagi Indonesia karena meningkatkan beban biaya pinjaman di berbagai sektor, sekaligus menarik aliran modal ke aset yang lebih aman di AS. Dampaknya dapat terlihat pada kenaikan yield SBN yang kemungkinan akan diikuti, menambah beban utang pemerintah yang pada 31 Agustus 2026 mencapai Rp506 triliun.

Rupiah Melemah, BI Pertahankan Stabilitas dengan BI Rate 5,75%

Di pasar valuta, rupiah gagal keluar dari tekanan pada perdagangan Kamis. Rupiah ditutup di Rp17.885 per dolar AS, melemah 0,51% dari penutupan sebelumnya di Rp17.795. Mata uang Garuda sempat membawa dolar AS menembus level Rp17.900 sebelum memperbaiki posisi menjelang penutupan.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menyampaikan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS di tengah kekhawatiran inflasi global dan outlook fiskal AS.

Menghadapi kondisi ini, BI tetap mempertahankan BI Rate di 5,75% pada pertemuan RDG 22-23 September 2026. Gubernur BI Destry Damayanti menyatakan bahwa suku bunga saat ini "cukup" untuk mendukung dan menjaga stabilitas di tengah era suku bunga global yang tinggi ( higher for longer ).

Keputusan ini selaras dengan proyeksi inflasi 2026 yang masih terkendali. BPS mencatat inflasi Agustus 2026 sebesar 3,19% secara tahunan — berada dalam target BI sebesar 2,5% ± 1%. Cadangan devisa BI juga kuat pada level US$146,5 miliar, setara dengan 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

BI telah menahan suku bunga tiga pertemuan berturut-turut sejak Juli 2026, setelah menaikkan secara kumulatif sebesar 100 basis poin sepanjang Mei-Juni 2026 (dari 4,75% pada 20 Mei, naik ke 5,25% pada 9 Juni, lalu 5,50%, dan akhirnya 5,75% pada 18 Juni).

Domestik: Kredit 13,65%, Short Selling, dan Transaksi Saham Petinggi

Di tengah ketegangan global, sektor keuangan domestik tetap tampil robust. Bank Indonesia mencatat kredit perbankan pada Agustus 2026 tumbuh sebesar 13,65% secara tahunan (yoy), naik dari 13,58% pada Juli 2026. Pertumbuhan didukung oleh kredit investasi (+25,11% yoy), kredit modal kerja (+11,45% yoy), dan kredit konsumsi (+5,07% yoy).

Ketahanan perbankan juga terjaga kuat. Rasio kecukupan modal (CAR) perbankan pada Juli 2026 tercatat tinggi sebesar 23,84%. Rasio kredit bermasalah (NPL) tetap rendah di level 2,10% (bruto) dan 0,81% (neto). Rasio AL/DPK juga stabil di 23,04% pada Agustus 2026. Berdasarkan kelompok penggunaan, DPK perbankan tumbuh 10,94% (yoy). Insentif KLM yang diperoleh bank tercatat sebesar Rp461,2 triliun pada awal September 2026.

BI memproyeksikan pertumbuhan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8-12%.

BEI Luncurkan Short Selling pada Saham Likuid LQ45

Di sisi pasar saham, Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan langkah baru untuk meningkatkan likuiditas dan mencegah manipulasi. Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi menyampaikan bahwa short selling akan diterapkan secara terbatas pada saham dengan tingkat likuiditas tinggi dari kelompok LQ45. Lima saham akan menjadi kandidat awal, merepresentasikan sektor-sektor yang berbeda.

"Yang penting adalah ketika ada short selling itu jangan sampai terjadi trading manipulation, cornering yang menggerakkan harga pasar oleh segelintik orang. Makanya kita pilih saham-saham yang likuid," ujar Iding. Cornering atau penindihan pasokan pada saham tertentu memang menjadi kekhawatiran sejalan dengan lonjakan harga saham kecil-kecil seperti ASPI, SINI, dan IDEA yang baru saja disuspensi.

BEI juga menetapkan harga saham minimum Rp1, yang berlaku efektif mulai 28 September 2026, menggantikan batasan minimum sebelumnya sebesar Rp50.

Petinggi Saratoga Borong 784.100 Saham SRTG

Di tengah volatilitas, aksi beli langsung Komisaris PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) Edwin Soeryadjaya mencuri perhatian. Menurut keterbukaan informasi BEI, Edwin Soeryadjaya menambah kepemilikan saham sebanyak 784.100 lembar dalam dua transaksi: 330.000 lembar di Rp1.779 per saham pada 22 September 2026, dan 454.100 lembar di Rp1.791 per saham pada 23 September 2026. Total nilai transaksi sekitar Rp1,4 miliar.

Dengan pembelian ini, kepemilikan saham Edwin naik dari 4.876.599.190 lembar (35,9503%) menjadi 4.877.383.290 lembar (35,9561%). Transaksi dilakukan dengan tujuan investasi dan secara langsung.

Empat Faktor yang Perlu Dipantau

Menjelang perdagangan Selasa, beberapa faktor perlu mendapat pengawasan ketat:

  1. Kunjungan Presiden China Xi Jinping ke AS — Pertemuan kuncinya dapat memicu fluktuasi likuiditas pasar global dan mengubah sentimenta perdagangan.
  2. Rilis data uang beredar (M2) dan aturan perdagangan saham baru — Aturan short selling dan harga minimum Rp1 yang akan diterapkan pada 28 September 2026 akan menjadi uji pertama kebijakan pasar.
  3. Respons pasar terhadap suspensi ASPI, SINI, dan IDEA — Suspensi ini memberi pelaku pasar waktu untuk menilai kembali valuasi, namun perlu memantau apakah harga akan kembali ke level fair value setelah ditutup.
  4. Tekanan yield AS yang masih tinggi — Jika yield Treasury 10 tahun dan 2 tahun tetap berada di level rekam tinggi, tekanan terhadap rupiah dan IHSG akan bertahan hingga The Fed memberi sinyal perubahan kebijakan.
Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

IHSG ditutup di level berapa pada 24 September 2026?

IHSG ditutup di level 6.298,61, turun 76,31 poin atau 1,20% dari penutupan sebelumnya di 6.374,91. Hanya 198 saham menguat, 487 saham melemah, dan 278 saham tak bergerak.

Mengapa IHSG dan rupiah melemah?

Lonjakan imbal hasil obligasi AS (US Treasury) ke level tertinggi sejak 2007, khususnya yield 10 tahun naik 15 bps ke 5,11% dan yield 30 tahun ke 5,4%. Lonjakan ini memicu aliran keluar modal dari pasar emerging markets termasuk Indonesia, sekaligus menekan rupiah.

Apakah BI akan naikkan BI Rate lagi?

Pada RDG 22-23 September 2026, BI mempertahankan BI Rate di 5,75% untuk ketiga kalinya sejak Juli 2026. Gubernur Destry Damayanti menyatakan suku bunga saat ini 'cukup' untuk jaga stabilitas, kecuali rupiah melemah cepat atau inflasi melampaui target.

Apa itu short selling dan kapan diterapkan?

Short selling adalah mekanisme jual saham yang belum dimiliki dengan harapan harga turun. BEI akan menerapkannya pada saham likuid dari kelompok LQ45, dimulai dengan 5 saham, sebagai langkah mitigasi manipulasi pasar dan meningkatkan likuiditas.

Kapan harga saham minimum Rp1 berlaku?

BEI menetapkan harga saham minimum Rp1 yang berlaku efektif mulai 28 September 2026, setelah sebelumnya batasan minimum Rp50 ditiadakan.

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter