JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih terjajah tekanan pada perdagangan Senin (21/9). IHSG menutup di level 6.384,73, turun 56,43 poin atau 0,88%. Dengan demikian, IHSG mengakumulasi pelemahan 2,29% dalam sepekan terakhir, sementara sejak awal tahun 2026, indeks bambu pasar modal Indonesia sudah melemah hingga 26,16%.
Tekanan terhadap IHSG tidak mengundurkan semangat emiten unggul. Salah satu contoh paling mencahatkan adalah PT Amman Mineral International Tbk (AMMN) yang berhasil membalikkan posisi rugi menjadi laba pada semester I-2026. AMMN meraih laba bersih US$497,92 juta pada paruh pertama 2026, melawan rugi bersih US$148,72 juta yang dicatat pada semester I-2025.
Capaian ini ditopang oleh penjualan yang meroket 1.024% year on year (YoY) menjadi US$2,05 miliar pada paruh pertama 2026. EBITDA AMMN juga melesat 1.207% YoY menjadi US$1,13 miliar. Lonjakan produksi pertambangan nikel AMMN selama setengah tahun pertama menjadi faktor utama pengemudi kinerja keuangan ini.
Tekanan Global Masih Mendominasi IHSG
π Baca Juga
- Pasca-Bencana MSCI: BEI Gencarkan Reformasi Transparansi, IHSG dan Rupiah Tetap di Ambang Krisis
- IHSG Anjlok 40% YTD, MSCI Siapkan Downgrade ke Standalone Market β Pasar Saham Indonesia di Bawah Tekanan Berat
- IHSG Dibanting MSCI: Proyeksi 4.989β7.082 hingga Akhir 2026 & Strategi Rotasi Portofolio
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengurai, tekanan terhadap IHSG masih cukup terasa. Pergerakan indeks masih berlangsung volatil seiring dengan meningkatnya perhatian investor terhadap kebijakan moneter global.
"Masih adanya tekanan dari global di mana beberapa bank sentral telah menaikkan suku bunga acuannya dan diperkirakan hal ini menandakan tightening cycle ke depannya akibat adanya inflasi energi," ujar Herditya.
Kenaikan suku bunga oleh sejumlah bank sentral βterutama Federal Reserve ASβ menjadi perhatian karena berpotensi menandai berlanjutnya siklus pengetatan kebijakan moneter. Kondisi ini berlangsung bersamaan dengan meningkatnya ketidakpastian geopolitik, khususnya dari konflik Rusia-Ukraina dan Timur Tengah.
Dari dalam negeri, pelaku pasar cenderung menahan diri menjelang keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Investor akan mencermati arah kebijakan suku bunga domestik, terutama di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Pada perdagangan Senin, rupiah tercatat melemah 0,54% ke level Rp17.825 per dolar AS.
Untuk perdagangan Selasa (22/9), Herditya memproyeksikan IHSG masih rawan koreksi dengan support di 6.370 dan resistance di 6.406. "Kami mencermati IHSG masih rawan koreksi," katanya.
Sejalan dengan penglihatan ini, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang juga melihat ruang pelemahan IHSG masih terbuka pada perdagangan berikutnya.
Sejahat Apa Pun Pasar, Emiten Unggul Tetap Bersinar
Keberhasilan AMMN dalam membalikkan posisi rugi menjadi laba justru menegaskan bahwa cerita emiten unggul tetap dapat bersinar di tengah kondisi pasar yang melambangkan. Produksi tambang nikel yang ditingkatkan, sekaligus harga komoditas yang relatif mendukung, memberi dorongan kuat pada kinerja keuangan AMMN.
Sementara itu, sektor tambang secara keseluruhan masih menghadapi dinamika yang kompleks. Sekitar 50 perusahaan tambang masih menunggu persetujuan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) hingga September 2026. Kondisi ini berpotensi menahan volume produksi yang kemudian berdampak terhadap kinerja emiten jasa pertambangan.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Brigita Kinari menjelaskan, keterlambatan revisi RKAB lebih berpotensi menunda tambahan volume pekerjaan daripada merusak fundamental bisnis emiten jasa pertambangan. Namun, dengan sisa hari operasional tahun sudah semakin menipis, dampak revisi RKAB 2026 akan lebih terasa pada 2027 mendatang.
Dari sisi kuota produksi, pemerintah telah menetapkan kuota produksi batubara 2026 sebesar 600 juta ton, turun sekitar 24% dari realisasi 2025. Penurunan ini menjadi beban bagi emiten jasa tambang yang bergantung pada sektor batu bara.
Rupiah dan BI jadi Fokus Pasca IHSG
Tekanan tidak hanya terpusat pada IHSG, rupiah juga turut tertekan. Pada Senin, rupiah melemah 0,54% menjadi Rp17.825 per dolar AS. Penurunan ini semakin memicu kekhawatiran mengenai kenaikan biaya impor dan inflasi impor.
Analis menilai, minggu ini arus pasar akan tetap tertarik pada dua keputusan moneter utama: kebijakan suku bunga BI dari Bank Indonesia, dan arah kebijakan The Fed. Kedua keputusan ini diperkirakan menjadi katalis utama bagi arah IHSG pada sesi berikutnya.
Di sisi lain, sejumlah emiten properti dan manufaktur juga mulai melaporkan keterlibatan yang dinamis. PT WEHA Transportasi Indonesia Tbk (WEHA) baru saja menambah kendaraan listrik untuk operasional layanan antarkota DayTrans, sementara PT Tigaraksa Satria Tbk (TGKA) menargetkan prospek konservatif pada 2026.
Diversifikasi Menjadi Strategi Kunci
Di tengah ketidakpastian RKAB dan penurunan kuota batubara, diversifikasi menjadi strategi penting bagi emiten jasa pertambangan. Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menekankan, diversifikasi dengan menambah pelanggan lintas komoditas dapat mengurangi risiko apabila salah satu pelanggan mengalami kendala terkait RKAB.
"Kontrak jangka panjang dengan ketentuan volume minimum juga dapat membantu menjaga visibilitas pendapatan kontraktor ketika produksi pelanggan mengalami tekanan," kata Abida.
Untuk tahun depan, emiten dengan pelanggan yang terdiversifikasi dan memiliki kontrak jangka panjang diperkirakan berpeluang pulih lebih cepat. Di antuanya, proyek tambang nikel dan emas yang sedang berkembang diproyeksikan menjadi penopang utama sektor ini di luar batubara.
