Jakarta, 5 Oktober 2026 — Emiten.org — Pasar modal Indonesia masuk ke fase konsolidasi yang positif sejak awal September, sekaligus menyiapkan satu angka paling ditunggu oleh investor: apakah IHSG dapat menembus level 7.000 sebelum akhir 2026. Menurut J.P. Morgan Indonesia, peluang itu tidak mustahil — asalkan sentimen tetap berpi bendu dan positioning investor masih cukup rendah untuk mendukung arus beli bertahap.
Target 7.000 dari J.P. Morgan: Sentimen dan Positioning yang Rendah
📎 Baca Juga
- IHSG Mengoreksi 0,75% ke 6.146, Bank Dunia Naikkan Proyeksi Pertumbuhan 2026 RI jadi 5,2%
- IHSG Melesat ke 6.192, Naik 1,21%—Sentimen Ekonomi Positif Didorong Proyeksi World Bank 5,2% dan Paket Stimulus Rp31 Triliun
- IHSG Ditutup Menguat 1,21% ke 6.192,93, Pasar Patokan The Fed dan Rilis MSCI November
Pada Kamis, 3 September 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup di 6.667,89, menguat 72,11 poin (+1,09%) dengan nilai transaksi perdagangan mencapai Rp18,57 triliun. Head of Indonesia Equity Research J.P. Morgan Indonesia, Benny Kurniawan, menyampaikan bahwa tim risetnya masih memproyeksikan target IHSG pada Desember 2026 di level 7.000 poin.
"Kita masih expect ada kenaikan sampai akhir tahun, yang didorong oleh sentimen yang lebih positif dan positioning investor maupun lokal maupun asing yang sebenarnya sudah cukup rendah tahun ini," kata Benny. Ia menjelaskan, posisi investor — baik domestik maupun asing — yang relatif rendah memberi ruang bagi aliran beli bertahap begitu sentimen berbalik lebih optimis.
Angka di atas juga didukung proyeksi pertumbuhan laba emiten. Konsensus analis memperkirakan earnings perusahaan dapat tumbuh sekitar 9 persen pada 2027, yang kata Benny "pasti ditopang oleh pengeluaran pemerintah (government spending) dan juga investment." Sejalan dengan kenyataan itu, pertumbuhan pendapatan atau top line pada first-half 2026 memang tumbuh cukup kencang, sehingga pasar modal global sulit melupakan Indonesia.
Reformasi Floor Price: Dari Rp50 ke Rp1 pada 28 September
Katalis struktural lain datang dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada 23 September 2026, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik memastikan bahwa penerapan floor price baru — yang menggantikan batasan minimum Rp50 menjadi Rp1 per lembar — akan diberlakukan pada Senin, 28 September 2026. Dari total 93 anggota Bursa, 92 telah siap secara teknis; hanya satu lagi yang masih menyelesaikan fase uji infrastruktur akhir.
Perubahan ini diatur dalam dua Surat Keputusan Direksi BEI dan mencakup penyesuaian batasan Auto Rejection (ARA/ARB). Untuk efek yang diperdagangkan di rentang Rp1-Rp10, ARA dan ARB ditetapkan konstan pada Rp1 per hari, menggantikan aturan lama berbasis 10 persen. Untuk saham di atas Rp10, ARB simetris 15 persen (asymetric hingga 31 Desember 2026, kemudian simetris mulai Januari 2027).
Dampaknya langsung terasa pada ratusan saham yang selama ini "terjebak" di bawah harga Rp50. Di antara emiten yang kini bisa bergerak lebih luas berkasusan PT Mitra Komunikasi Nusantara (MKNT), PT Sejahtera Bintang Abadi Textile (SBAT), PT Totalindo Eka Persada (TOPS), PT Ratu Prabu Energi (ARTI), PT Berkah Beton Sedaya (BEBS), PT Sunindo Adipersada (TOYS), PT Omni Inovasi Indonesia (TELE), hingga PT Bumi Teknokultura Unggul (BTEK) dan PT Bakrieland Development (ELTY). Bebas dari gocon di Rp50 memperlebar ruang price discovery dan likuiditas.
Mikro-Makro yang Kompak: Inflasi 3,28% dan Rupiah di Rp17.400-Rp17.500
Kondisi makro pun mendukung. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan Indonesia sebesar 3,28 persen pada September 2026, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 108,74 pada September 2025 ke 112,31 pada September 2026. Inflasi year-to-date tercatat 2,17 persen, dan inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,30 persen — masih tertiban di dalam koridor sasaran kebijakan BI 70 (3-5 persen). Kenaikan disinggungkan terutama dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Angka yang sama memperkuat dinamika rupiah. Data real-time pasar akhir September menampilkan IDX di 6.037 (+27,39, +0,46%), LQ45 595 (+3,08, +0,52%), dan USD/IDR pada 17.913. Analis Astronacci, Dr. Gema Goeyardi, memproyeksikan rupiah dapat menguat ke kisaran Rp17.400-Rp17.500 sebagai target pertama, sebelum berpotensi melanjutkan ke level Rp17.000 bila momentum terus berlanjut.
Rotasi Blue Chip dan Sektor Pengangkut IHSG
Di sisi sektor, saham-saham berkapitalisasi besar (big cap) dan market mover saja membentuk basis teknis yang solid. Analis memperkirakan sekitar 65-70 persen saham telah siap melanjutkan rally. Sektor perbankan, energi, dan barang konsumsi kembali menjadi pelopor utama, sementara gap teknis di sekitar 6.186 belum tertutup dan menjadi titik fokus bila IHSG mengalami koreksi lebih lanjut.
Dengan target jangka pendek di 6.705 serta outlook bullish harian yang masih terjaga, pasar kini menunggu dua variabel makro: arah kebijakan moneter pasca-reshuffle awal Oktober, dan aliran modal asing yang kembali memihak pada emiten lokal. Kombinasi sentimen positif, reformasi struktural floor price, dan inflasi yang terkendali membuat proyeksi 7.000 dari J.P. Morgan tak lagi bersifat spekulatif, melainkan sebuah target yang didanai oleh tiga katalis nyata — sentimen, positioning, dan sekatup regulasi.
