Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
IHSG bearish ⏱ 12 menit

Maybank Sekuritas Pangkas Target IHSG 2026 ke 6.900, Tekanan Likuiditas dan Asing Net Sell Tekan-Meter

Maybank Sekuritas Pangkas Target IHSG 2026 ke 6.900, Tekanan Likuiditas dan Asing Net Sell Tekan-Meter
Iqro Rinaldi (CC BY-SA 4.0)

Maybank Sekuritas menurunkan target IHSG akhir 2026 dari 7.500 ke 6.900 sepenuhnya akibat IHSG melemah 32,07% YTD, proyeksi pertumbuhan laba emiten turun ke 8,3% YoY, serta arus keluar dana asing mencapai US$6,1 miliar. Nilai transaksi harian rata-rata BEI turun 6% ke sekitar US$800 juta, sementara IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,1% pada 2026-2027.

Jakarta, 15 Oktober 2026 — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah 32,07% sejak awal tahun hingga level 5.943,02 per 14 Oktober 2026, memaksa Maybank Sekuritas Indonesia untuk menurunkan target IHSG akhir 2026 dari 7.500 menjadi 6.900. Analytical Head Jeffrosenberg Chenlim menyatakan, pertumbuhan laba emiten belum cukup kuat untuk mendorong pasar saham secara berkelanjutan, sementara guncangan makro — kenaikan imbal hasil obligasi AS, harga minyak Brent di atas US$105 per barel, dan arus keluar dana asing mencapai US$6,1 miliar — masih mendominasi sentimen.

Target IHSG Dipangkas, Valuasi Sudah Murah Tapi Sentimen Masih Tegang

📎 Baca Juga

Maybank Sekuritas memangkas proyeksi pertumbuhan laba inti agregat emiten menjadi 8,3% year-on-year (YoY), turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 9,4%. Target IHSG 6.900 pada akhir 2026 mencerminkan valuasi sekitar 10,9 kali estimasi laba 2026 (PER 2026E). Di pasar global, imbal hasil US Treasury 10 tahun berada di kisaran 5,25%, membuat aset pendapatan tetap berdenominasi dolar AS semakin kompetitif dan memperketat persaingan aliran modal ke pasar berkembang.

Sehingga valuasi IHSG pada akhir September 2026 — yang diperdagangkan pada PER historis 10 tahun sebesar 8,4 kali, lebih dari dua standar deviasi di bawah rata-rata jangka panjang — belum cukup menjadi katalis penguatan bila tekanan likuiditas dan ketidakpastian makroekonomi belum mereda.

Asing Net Sell US$496 Juta Pada September, Total Outflow 2026 Mencapai US$6,1 Miliar

Analisis arus dana asing memperlihatkan aksi jual bersih investor asing yang semakin membesar. Pada September 2026, aksi jual bersih asing mencapai US$496 juta, naik dari US$201 juta pada Agustus 2026. Dengan demikian, total arus keluar dana asing sepanjang tahun berjalan mencapai sekitar US$6,1 miliar.

Pada perdagangan Rabu 14 Oktober 2026, meski IHSG berhasil rebound naik 0,29% atau 17,04 poin ke 5.943,02, aksi sekaligus net sell asing mencapai Rp1,13 triliun. Sepuluh saham paling banyak dijual asing pada hari itu meliputi:

  1. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) — Rp56,86 miliar
  2. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) — Rp35,97 miliar
  3. PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) — Rp33,2 miliar
  4. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) — Rp32,22 miliar
  5. PT Indosat Tbk (ISAT) — Rp30,65 miliar
  6. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) — Rp25,28 miliar
  7. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) — Rp22,19 miliar
  8. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) — Rp19,66 miliar
  9. PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) — Rp18,99 miliar
  10. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) — Rp15,24 miliar

Sektor keuangan menjadi kontributor terbesar aksi jual asing dengan porsi sekitar 60% dari total arus keluar sepanjang tahun. Kepemilikan asing di pasar saham Indonesia pun turun menjadi 35,8%, sementara kepemilikan investor ritel domestik naik menjadi 51,7%. Menurut Maybank Sekuritas, meningkatnya ketergantungan pasar pada investor ritel justru membuat IHSG lebih rentan bila momentum belanja domestik melemah.

Rights Issue Rp18 Triliun Plus Potensi DOO Hambat Likuiditas Sekunder

Tekanan likuiditas diprediksi semakin membesar akibat kebutuhan dana untuk pelaksanaan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Maybank Sekuritas memperkirakan nilai rights issue dalam empat bulan mendatang mencapai sekitar Rp18 triliun, meliputi:

  • KOTA: Rp5 triliun
  • ENRG: Rp4,2 triliun
  • VKTR: Rp3 triliun
  • MGLV: Rp2,5 triliun
  • BUVA: Rp1,5 triliun
  • CBRE: Rp1,3 triliun
  • BRNA: Rp370 miliar
  • AHAP: Rp175 miliar

Proyeksi ini belum memperhitungkan rencana penerbitan sekitar 155 miliar saham oleh DOO — jika termasuk, total emisi saham berpotensi mencapai Rp30–40 triliun, bergantung pada harga pelaksanaan dan jadwal realisasinya. Kebutuhan dana untuk mengikuti rights issue dapat memaksa investor menjual saham lain dalam portofolio atau menunda pembelian di pasar sekunder, memperpanjang tekanan likuiditas secara keseluruhan.

IMF: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,1% Pada 2026–2027, Tapi Inflasi Naik

Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia tetap relatif kuat. International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil Indonesia sebesar 5,1% baik pada 2026 maupun 2027 — angka yang sama dan stabil. Namun, tekanan harga konsumen justri meningkat. Inflasi diproyeksikan mencapai 3,3% pada 2026, naik dari 1,9% pada 2025, sebelum kembali melandai ke 2,8% pada 2027.

Di sisi eksternal, IMF memperkirakan neraca transaksi berjalan Indonesia mengalami defisit 1,6% dari PDB pada 2026, lebih besar dari defisit 0,1% pada 2025, lalu menyempit menjadi 1,0% pada 2027. Tingkat pengangguran turun dari 4,9% pada 2025 ke 4,7% pada 2026 dan 2027. Di tingkat global, pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksikan 3,1% pada 2026 dan 3,4% pada 2027, namun IMF mengingatkan tekanan dari konflik Timur Tengah dan ketegangan perdagangan.

Proyeksi Kredit: Konstruksi dan Infrastruktur Tumbuh Cepat, Ritel Tertinggal

Pola pertumbuhan kredit mencerminkan ketergantungan pada proyek pemerintah. Kredit investasi tumbuh lebih dari 20% secara tahunan, jauh melampaui kredit modal kerja dan konsumsi. Secara sektoral:

  • Konstruksi: +47,9%
  • Listrik, gas, dan air: +38%
  • Transportasi dan komunikasi: +18,6%
  • Manufaktur: +18%
  • Perdagangan, akomodasi, dan makanan-minuman: +6,9%
  • Keuangan dan real estat: +7,3%
  • Pertanian: +4,6%

Pola ini memperkuat argumentasi Maybank Sekuritas bahwa pertumbuhan belum merata — sektor yang dekat dengan konsumsi domestik belum pulih, sementara sektor infrastruktur pemerintah tetap menjadi dorong utama.

Review MSCI November 2026 dan Target IHSG 2027

Tinjauan Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada November 2026 masih menjadi penopang utama pertimbangan. MSCI mempertahankan pembatasan terhadap penambahan saham ke indeks dan kemungkinan kenaikan klasifikasi, sehingga Indonesia diproyeksikan tetap berada pada kategori pasar berkembang (Emerging Market). Skenario ini berpotensi memicu relief rally, namun limitasi yang berlangsung dapat menghambat aliran dana dari investor pasif berbasis indeks.

Untuk jangka menengah, Maybank Sekuritas menetapkan target IHSG akhir 2027 sebesar 7.700, mencerminkan valuasi PER 2027E sebesar 10,7 kali dan potensi kenaikan 11,6% dari target 2026 yang baru. Pemulihan yang lebih kuat ditimbulkan oleh penyampaian kinerja keuangan 2027 yang konsisten, stabilitas rupiah, dan penurunan beban energi.

Namun, untuk satu hingga tiga bulan ke depan, maybank tetap bersikap hati-hati. Tekanan arus dana asing, besarnya emisi saham baru, kenaikan imbal hasil obligasi global, dan harga energi yang tinggi masih membatasi prospek penguatan jangka pendek.

Rekomendasi Saham Pilihan

Di tengah tekanan pasar, Maybank Sekuritas memilih saham dengan fundamental menarik atau koreksi berlebihan:

  • Sektor energi/kelapa sawit: PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) — tema investasi batubara dan energi tetap relevan.
  • Sektor keuangan: PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) — tekanan harga setelah pengumuman rights issue dianggap berlebihan.
  • Sektor properti: PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) — koreksi berlebihan akibat kekhawatiran RUU reforma agraria.
  • Sektor telekomunikasi: PT Indosat Tbk (ISAT) — posisi strategis di sektor data center dan AI didukung proyek ZanKore bersama NVIDIA dan Nokia.

Kesimpulan

IHSG berada pada fase downtrend sementara, didorong oleh kombinasi tekanan likuiditas, arus keluar dana asing, dan ketidakpastian makro global. Target IHSG 6.900 pada akhir 2026 dari Maybank Sekuritas mencerminkan realitas bahwa pemulihan pasar saham tidak semata-mata ditentukan oleh valuasi murah, melainkan oleh keberhasilan mengendalikan inflasi, stabilitas rupiah, dan kembalinya aliran dana asing. Jika faktor-faktor tersebut terpenuhi, proyeksi target 7.700 untuk 2027 tetap dapat dicapai.

FAQ

Berapa target IHSG akhir 2026 yang baru dari Maybank Sekuritas?

Maybank Sekuritas menurunkan target IHSG akhir 2026 dari 7.500 ke 6.900, mencerminkan valuasi sekitar 10,9 kali PER estimasi laba 2026.

Berapa total arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia pada 2026?

Total arus keluar dana asing sepanjang tahun 2026 mencapai sekitar US$6,1 miliar, dengan aksi jual bersih asing pada September 2026 mencapai US$496 juta.

Bagaimana proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menurut IMF?

IMF memproyeksikan pertumbuhan PDB riil Indonesia 5,1% pada 2026 dan 2027, inflasi 3,3% pada 2026 (naik dari 1,9% pada 2025), dan defisit transaksi berjalan 1,6% dari PDB pada 2026.

Saham pilihan apa saja yang direkomendasikan Maybank Sekuritas?

Maybank Sekuritas memilih TPIA, PTBA (energi), BRIS (keuangan), BSDE (properti), dan ISAT (telekomunikasi/data center) sebagai saham pilihan dalam kondisi pasar yang menekan.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter