Sektor Perbankan Terpukul oleh Pelemahan Pasar Modal 2026
đ Baca Juga
Sepanjang tahun 2026, sektor perbankan Indonesia khususnya saham-saham berkapitalisasi besar (big banks) seperti BBRI (Bank Rakyat Indonesia), BBCA (Bank Central Asia), BMRI (Bank Mandiri), dan BBNI (Bank Negara Indonesia) mencatatkan koreksi signifikan. Data per 8 Juli 2026 menunjukkan harga saham BBRI berada di level Rp 2.800 (turun 2,1% dalam sehari), BBCA di Rp 6.275, BMRI di Rp 4.030, dan ASII di Rp 4.920. Tekanan ini sejalan dengan IHSG yang berada di level 5.922 â masih jauh dari level tertinggi satu bulan di 6.254.
Kinerja Fundamental yang Tetap Solid
Meskipun harga saham tertekan, kinerja fundamental emiten perbankan big caps tercatat masih solid sepanjang tahun 2025 dan awal 2026. BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI sama-sama membukukan pertumbuhan laba bersih yang didorong oleh ekspansi kredit dan perbaikan net interest margin (NIM). OJK sendiri tengah menyiapkan aturan universal banking yang berpotensi memperluas model bisnis bank ke depan, memberikan ruang pertumbuhan baru bagi sektor perbankan.
Data menunjukkan bahwa laba bersih bank-bank BUKU IV ini masih tumbuh di kisaran 8-12% secara tahunan meskipun ada tekanan dari kenaikan biaya dana dan pelemahan daya beli masyarakat. Dividen yang dibagikan untuk tahun buku 2025 juga tercatat jumbo, dengan yield dividen rata-rata di atas 5% untuk saham BBRI dan BMRI.
Aksi Buyback dan Momentum Rebound
Salah satu katalis positif yang patut dicermati adalah aksi buyback saham oleh emiten perbankan. BNI (BBNI) baru saja merampungkan program buyback tahun 2026 dengan mengoleksi 77,86 juta lembar saham treasury. Langkah serupa juga dilakukan oleh Allo Bank milik Chairul Tanjung yang melakukan buyback senilai Rp 200 miliar. Langkah ini menunjukkan keyakinan manajemen terhadap valuasi saham yang sudah murah.
Data Yahoo Finance menunjukkan bahwa IHSG berhasil rebound dari level terendah 5.342 pada sebulan terakhir menjadi 5.923 pada 8 Juli 2026, menandakan awal pemulihan. Saham-saham perbankan menjadi motor penggerak rebound ini, dengan investor mulai masuk di harga diskon.
Valuasi yang Menarik untuk Jangka Panjang
Pada level harga saat ini, saham-saham perbankan big caps diperdagangkan pada PER (price to earnings ratio) yang sangat murah secara historis. BMRI misalnya, diperdagangkan pada PER di bawah 7 kali laba bersih, sementara BBRI di kisaran 8-9 kali. BBCA yang biasanya diperdagangkan dengan premium juga mengalami penyesuaian valuasi yang signifikan.
Bagi investor dividend hunter, yield dividen dari saham-saham ini menjadi daya tarik utama. Dengan harga yang sudah turun drastis, yield dividen BBRI diperkirakan bisa mencapai 6-7% untuk dividen tahun buku 2025, menjadikannya salah satu pilihan menarik di tengah suku bunga deposito yang kompetitif.
Risiko yang Masih Mengintai
Meski prospek jangka panjang tetap positif, risiko jangka pendek masih membayangi sektor perbankan. Ancaman penurunan status pasar Indonesia oleh S&P DJI dari emerging market ke frontier market bisa memicu arus keluar dana asing tambahan. Selain itu, pelemahan rupiah yang mendekati Rp 18.000 per dolar AS juga menekan likuiditas dan bisa memicu kenaikan biaya provisi jika terjadi lonjakan kredit bermasalah (NPL).
Investor disarankan untuk mencermati perkembangan kondisi makroekonomi dan kebijakan regulator sebelum mengambil posisi, mengingat volatilitas diperkirakan masih akan tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Strategi Investasi di Sektor Perbankan
Untuk investor jangka panjang, aksi akumulasi bertahap (dollar cost averaging) pada saham-saham perbankan big caps di level harga saat ini bisa menjadi strategi yang bijak. Fundamental yang solid, dividen jumbo, dan potensi rebound jika kondisi membaik menjadi katalis utama. Sementara bagi investor jangka pendek, momentum rebound IHSG awal Juli 2026 bisa dimanfaatkan untuk trading jangka pendek dengan level support dan resistance yang jelas.
