Konteks & Situasi Terkini
Pentagon resmi mengumumkan permintaan anggaran pertahanan Trump sebesar $1.5 triliun untuk fiskal 2027 pada Selasa, 21 April 2026. Menurut Washington Times dan SpaceNews, angka ini merepresentasikan peningkatan $440.9 miliar atau 44 persen dari anggaran 2026 yang sudah ditetapkan senilai $901 miliar. Ini adalah kenaikan year-over-year terbesar dalam sektor pertahanan AS sejak era pasca-Perang Dunia Dua.
Anggaran tersebut terbagi menjadi dua komponen: $1.15 triliun untuk pertahanan inti dan $350 miliar untuk kebutuhan tambahan, menurut Your News. Komposisi ini menunjukkan prioritas Trump untuk modernisasi armada militer dan pengembangan sistem pertahanan canggih.
Faktor Pendorong & Prioritas Program
Peningkatan drastis ini didorong oleh beberapa prioritas strategis. Pertama, sistem pertahanan rudal Golden Dome menjadi fokus utama dengan estimasi anggaran mencapai $185 miliar, menurut Reuters pada pertengahan Maret. Program ini melibatkan kontraktor utama seperti Lockheed Martin, Raytheon Technologies (RTX), dan Northrop Grumman (NOC).
Kedua, Angkatan Udara AS menerima alokasi naik menjadi $71.2 miliar, lebih dari dua kali lipat dari $32 miliar untuk 2026, dikutip SpaceNews. Angka ini mencakup pembiayaan jet tempur F-35, pengembangan teknologi drone berbasis AI, dan sistem pertahanan rudal modern. Prioritas lain meliputi kapal perang baru, kapal selam nuklir kelas Virginia, dan modernisasi infrastruktur basis militer.
Ketiga, Trump menandatangani executive order yang membatasi kontraktor pertahanan utama untuk menghentikan stock buyback, halt dividend pembayaran, dan membatasi gaji eksekutif maksimal $5 juta per tahun. Kebijakan ini bertujuan memastikan dana tersebut fokus pada produksi daripada distribusi pemegang saham jangka pendek.
Baca juga:
- Trump Minta Rp23 Kuadriliun Anggaran Pertahanan, 15 Saham Ini Untung
- Wall Street Anjlok, Perundingan AS-Iran Temui Buntu
- Adobe Luncurkan Buyback $25 Miliar Untuk Angkat Harga Saham
Reaksi Pasar Saham Defense-Aerospace Global
Pengumuman awal tentang proposal anggaran pertahanan $1.5 triliun pada Januari 2026 memicu respons agresif di Wall Street. Menurut CNBC Indonesia, Northrop Grumman meloncat sekitar 6.8 persen, Lockheed Martin naik 6.7 persen, dan RTX naik 5.4 persen dalam perdagangan setelah jam bursa.
Performa year-to-date (2026) menunjukkan momentum yang lebih kuat. Lockheed Martin naik 26 persen, Northrop Grumman naik 20 persen, dan Huntington Ingalls Industries (HII) naik lebih dari 24 persen, menurut Motley Fool per Februari 2026. Perusahaan teknologi pertahanan berbasis drone dan AI mencatat kenaikan lebih tinggi dibanding kontraktor pertahanan konvensional.
Indeks sektor aerospace-defense, iShares US Aerospace & Defense ETF (ITA), naik sekitar 55 persen dalam setahun per 7 Januari 2026, jauh melampaui S&P 500 yang hanya naik 17 persen. Sektor ini saat ini trading pada forward price-to-earnings (P/E) 22.97X, lebih tinggi dari S&P 500 di 18.58X, menunjukkan ekspektasi pertumbuhan yang signifikan dari pasar, menurut Zacks Investment Research.
Dampak ke Investor Ritel Indonesia
Bagi investor ritel Indonesia, momentum ini membuka dua saluran akses. Pertama, melalui akun saham internasional di platform trading global seperti Interactive Brokers, eToro, atau Saxo Bank, investor dapat membeli saham defense langsung: Lockheed Martin, Northrop Grumman, RTX, atau Huntington Ingalls.
Kedua, investor dapat mengakses sektor ini melalui ETF global seperti ITA (iShares Aerospace & Defense), atau CATH (Cathay Innovation ETF) yang mengalokasikan posisi ke kontraktor pertahanan. ETF ini memberikan eksposur diversifikasi dengan risiko lebih terukur dibanding saham individual.
Momentum positif ini mungkin berkelanjutan selama proposal anggaran melalui negosiasi kongres. Namun, investor perlu memahami risiko kapasitas produksi: tantangan terbesar sektor ini adalah keterbatasan rantai pasok dan kecepatan produksi untuk memenuhi pesanan militer yang melonjak drastis.
Outlook & Proyeksi
Jika anggaran $1.5 triliun disetujui kongres—meskipun jumlah akhir mungkin lebih rendah setelah negosiasi—outlook industri pertahanan AS tetap bullish untuk 2027–2029. Program jangka panjang seperti Golden Dome dan modernisasi armada F-35 memberikan visibility pendapatan 10+ tahun ke depan bagi kontraktor utama.
Analisis Zacks menyimpulkan bahwa valuasi sektor aerospace-defense masih reasonable mengingat pertumbuhan pendapatan yang diprojeksikan, meskipun sudah naik signifikan. Risk factor utama adalah jika terjadi perubahan kebijakan administrasi berikutnya atau perlambatan ekonomi global yang mengurangi permintaan militer aliansi NATO.
Untuk investor Indonesia, strategi terbaik adalah: 1. Membangun posisi bertahap (dollar cost averaging) dalam ETF defense global 2. Mengalokasikan maksimal 5–10 persen portfolio untuk akses sektor ini mengingat valuasi yang sudah elevated 3. Memantau laporan earnings kontraktor utama setiap kuartal untuk tren order backlog 4. Menghindari buying panic saat rally ekstrem dan fokus pada entry points yang lebih baik
Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
