Pasar saham Jakarta, Minggu 5–9 Oktober 2026 — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri pekan dengan volatilitas kuat di tengah tekanan luar negeri dan ketidakpastian pasar global. Setelah merosot 1,88% ke level 6.031, IHSG berhasil pulih dan menutup minggu naik 0,94% ke 6.093. Kapitalisasi pasar total mencapai Rp10.701 triliun dengan nilai transaksi harian rata-rata Rp16,23 triliun, naik 28,52% dari minggu sebelumnya. Di balik fluktuasi ini, sepuluh saham berperan sebagai penggerak utama, sementara saham teknologi GOTO tetap menjadi fokus aksi jual asing.
Koreksi 1,88% dan Pemulihan ke 6.093
đ Baca Juga
- Pasca-Bencana MSCI: BEI Gencarkan Reformasi Transparansi, IHSG dan Rupiah Tetap di Ambang Krisis
- IHSG Anjlok 40% YTD, MSCI Siapkan Downgrade ke Standalone Market â Pasar Saham Indonesia di Bawah Tekanan Berat
- IHSG Dibanting MSCI: Proyeksi 4.989â7.082 hingga Akhir 2026 & Strategi Rotasi Portofolio
Minggu ini, IHSG membuka perdagangan rendah di zona merah setelah mengikuti gelombang tekanan pasar yang "belum usai" dari Amerika Serikat. Pada hari Jumat (9/10/2026), IHSG sempat meyentuh level terendah 6.031 sebelum pulih menguat 1,03% dan menutup di 6.093,75. Volatilitas ini dipicu oleh gabungan faktor: tekanan yield US Treasury yang tinggi, ekspektasi The Fed yang "higher for longer", serta kekhawatiran akan review klasifikasi pasar MSCI yang berpotensi menurunkan Indonesia dari kategori emerging market ke frontier market.
Meski terjadi koreksi, investor asing tidak menghentikan aksi jualnya. Data BEI menunjukkan net sell asing mencapai Rp3,75 triliun dalam seminggu, dengan saham GOTO menjadi penyumbang terbesar (Rp1,45 triliun), diikuti oleh saham perbankan besar seperti Mandiri, BRI, BCA, dan BSI.
Sepuluh Saham Penggerak IHSG
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk periode perdagangan 5–9 Oktober 2026, sepuluh saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG adalah sebagai berikut:
| 1. MORA | 9,24 poin | +11,8% | MCFF Rp37,67 T |
| 2. ASII | 7,7 poin | +4,1% | MCFF Rp84,6 T |
| 3. AMMN | 6,4 poin | +4,01% | MCFF Rp72,7 T |
| 4. TLKM | 6,4 poin | +3,1% | MCFF Rp92,5 T |
| 5. EMAS | 3,7 poin | +5,19% | MCFF Rp32,4 T |
| 6. BRMS | 3,3 poin | +3,5% | MCFF Rp42,6 T |
| 7. BBRI | 2,9 poin | +0,65% | MCFF Rp197,8 T |
| 8. BELI | 2,7 poin | +13,9% | MCFF Rp9,6 T |
| 9. KLBF | 2,4 poin | +8,28% | MCFF Rp14 T |
| 10. MDKA | 2,4 poin | +3,16% | MCFF Rp34,4 T |
Mitra Adiputro (MORA) menjadi saham terkuat dengan kontribusi 9,24 poin (+11,8%), diikuti oleh Astra International (ASII) yang menyumbang 7,7 poin. Saham dengan kenaikan paling mencenggih adalah BELI yang naik 13,9% dan KLBF yang melonjak 8,28%. Di sisi lain, BBRI sebagai saham blue chip dengan kapitalisasi pasar gratis terbesar (Rp197,8 triliun) hanya naik tipis 0,65%.
GOTO Ditekan Tekanan Asing
Saham Global Digital Niaga (BBGI/IDX: GOTO) tetap menjadi titik sorot pasar. Dalam satu minggu ini, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp663,2 miliar pada saham ini. Tekanan ini bertambah ketat dibandingkan minggu sebelumnya yang mencatat aksi jual Rp979,4 miliar dan pelemahan harga sebesar 40%.
Meski mengalami tekanan jual, harga saham GOTO pada hari Jumat (9/10/2026) justru bertahan stagnan — tidak mengikuti arus penjual. Menurut data Kontan, ini menandakan adanya dukungan beli lokal di tingkat rendah. Namun, kekuatan ini belum cukup untuk mengimbangi arus keluar asing secara keseluruhan.
Mandiri Sekuritas, dalam Investor Digest edisi 9 Oktober, tetap merekomendasikan saham GOTO dengan rating BUY dan target harga Rp650. Potensi upside mencapai 116% dari level saat itu. Rekomendasi ini didasari peluncuran Peraturan Presiden (Perpres) 27/2026 yang menjadi kerangka hukum bagi ekonomi layanan transportasi daring. Tiga kementerian diharapkan menerbitkan peraturan pelaksana paling lambat 31 Desember 2026, memberikan kepastian hukum bagi sektor ride-hailing.
Danantara Siapkan Rp17,89 Triliun untuk Peluang Beli
Di tengah ketidakpastian pasar, Kepala Investasi Publik Dana Anagata Nusantara (Danantara), Rani Piputri, membuka peluang bagi lembaganya untuk masuk ke pasar saham Indonesia. "Jika terjadi krisis di pasar dan kami merasa hal itu hanya didasarkan pada sentimen eksternal yang sifatnya sangat sementara, maka kami mungkin akan masuk ke pasar," kata Rani, mengutip Reuters.
Danantara telah menginvestasikan sekitar US$3 miliar pada saham dan instrumen keuangan Indonesia sejak awal tahun, dengan rencana menambah US$1 miliar lagi hingga akhir tahun. Dana tambahan sebesar Rp17,89 triliun sedang disiapkan untuk peluang beli di pasar saham. Alokasi portofolio saat ini: 65% saham, 30% pendapatan tetap, 5% hedge fund, dengan 25% dari total dana difokuskan pada pasar Indonesia.
Masuknya Danantara saat IHSG tertekan bukan bertujuan sebagai intervensi pasar. "Kami membeli saham karena melihat adanya nilai investasi. Tujuannya bukan untuk menstabilkan pasar," kata Rani. Strategi ini juga menjadi sinyal penenang bagi investor yang khawatir akan aksi jual yang lebih besar jika penyedia indeks MSCI mengonfirmasi downgrade dari emerging market ke frontier market pada bulan depan.
