Pasar saham Indonesia pada Kamis, 6 Agustus 2026, menunjukkan fenomena menarik: investor asing melakukan rotasi besar-besaran di sektor perbankan. Alih-alih menambah posisi di bank berkapitalisasi pasar terbesar, dana asing justru terlihat diam-diam mengakumulasi saham-saham bank BUMN.
Merujuk data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada sesi I perdagangan hari itu investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp339,05 miliar dengan total nilai transaksi Rp10,36 triliun. Menariknya, di tengah tekanan jual yang dominan tersebut, sejumlah saham perbankan milik negara justru menjadi buruan.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi saham paling banyak dikoleksi investor asing dengan nilai beli bersih (net buy) Rp72,70 miliar. Posisi selanjutnya ditempati PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan net foreign buy Rp58,21 miliar, disusul PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar Rp32,92 miliar. Sebaliknya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) justru menjadi sasaran jual terbesar investor asing pada sesi I.
Rotasi dana asing ini terjadi ketika IHSG stagnan di level 6.351,22 pada sesi I â nyaris tidak bergerak dari penutupan sebelumnya di 6.351,14 â setelah sempat dibuka menguat hingga 6.379.
Mengapa Asing Berpindah dari BBCA ke Bank BUMN?
đ Baca Juga
- Asing Net Buy Rp1,24 Triliun saat IHSG Tembus 6.400: Tapi Jual BBCA, BMRI, ASII hingga EMAS
- Saham Grup Bakrie Melesat Ratusan Persen: BUMI, VKTR, MDIA hingga BNBR, Ini Katalis dan Fundamentalnya
- Modal Asing Menguap Rp72,52 Triliun dari BEI, Komposisi Investor Asing Menipis ke 38%: Siapa yang Kini Menguasai Pasar Modal RI?
Pola rotasi dari BBCA menuju saham-saham bank BUMN ini menarik dicermati karena hanya dua hari sebelumnya arah aliran dana asing justru berkebalikan. Pada penutupan Selasa, 4 Agustus 2026, investor asing membukukan net buy sebesar Rp741,19 miliar di pasar reguler, dengan BBCA memimpin daftar saham paling banyak diborong senilai Rp404,43 miliar. BMRI menyusul dengan Rp129,87 miliar, BBRI Rp116,06 miliar, dan BBNI turut masuk dalam jajaran saham perbankan yang diserbu.
Perpindahan target dari BBCA ke bank BUMN mengindikasikan investor asing mulai mencari valuasi yang lebih murah di tengah prospek suku bunga acuan yang diperkirakan masih bertahan. Analis menilai saham-saham bank BUMN memiliki ruang apresiasi lebih besar karena rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio/PER) yang lebih rendah dibandingkan BBCA yang kerap diperdagangkan dengan premium.
Kebijakan Menkeu: Bunga SMV Dibatasi 80% dari BI Rate
Faktor lain yang turut mewarnai sentimen sektor perbankan adalah langkah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang akan membatasi suku bunga simpanan atau deposito yang diminta oleh Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan â termasuk lembaga seperti LPDP â hingga maksimal 80% dari level suku bunga acuan BI Rate yang saat ini berada di 5,75%.
Kebijakan ini diambil untuk menekan biaya dana (cost of fund) perbankan sehingga diharapkan mampu menurunkan suku bunga kredit. Dengan turunnya bunga kredit, ruang bagi pertumbuhan kredit dan konsumsi domestik diharapkan semakin terbuka. Bank-bank dengan basis simpanan deposito yang besar dari lembaga pemerintah dinilai akan merasakan dampak paling signifikan karena biaya dana mereka berpotensi turun.
IHSG Menutup Hari di Level 6.343
Meski sesi I sempat stagnan, pergerakan IHSG pada perdagangan penuh Kamis justru berakhir di zona merah seiring pelemahan bursa saham kawasan Asia. Pada penutupan, IHSG turun 7,42 poin atau 0,12 persen ke level 6.343,71. Sentimen negatif dari eksternal â termasuk ketidakpastian negosiasi Selat Hormuz dan koreksi harga komoditas â masih membayangi pergerakan indeks.
Kendati demikian, pola historis menunjukkan Agustus kerap menjadi bulan yang positif bagi IHSG. Analis seperti Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas tetap merekomendasikan strategi selektif dengan fokus pada saham-saham blue chip perbankan dan energi yang fundamentalnya solid. Reli pada Juli yang menjadi yang terkuat sepanjang 2026 turut membawa IHSG kembali bergerak di atas rata-rata pergerakan (moving average) 10 hari dan 20 hari.
Pelajaran untuk Investor
Fenomena rotasi asing dari BBCA ke bank BUMN mengajarkan bahwa aliran dana asing bersifat dinamis dan mudah berpindah antar-saham. Investor jangka pendek disarankan mencermati data net buy dan net sell harian, sementara investor jangka panjang sebaiknya fokus pada fundamental emiten. Perbedaan valuasi antara BBCA dan saham bank BUMN yang cukup lebar memberikan opsi diversifikasi bagi portofolio yang ingin menyeimbangkan risiko.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi jual maupun beli saham. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
