Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup pekan dengan kinerja memukau setelah berhasil menembus level psikologis 6.400 pada perdagangan Jumat (7/8/2026). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI Business, IHSG ditutup menguat 1,04% atau naik 65,94 poin ke level 6.409,65. Secara mingguan, penguatan IHSG tercatat 2,78%. Kapitalisasi pasar pun ikut terdongkrak 2,64% menjadi Rp11.212 triliun.
Motor utama reli ini tak lain adalah aksi beli bersih (net buy) investor asing yang menembus Rp1,24 triliun di seluruh pasar pada Jumat. Namun yang menarik justru terletak pada komposisi transaksinya. Di balik besarnya net buy hari itu, investor asing melakukan rotasi portofolio yang sangat agresif, melepas sejumlah saham blue chip mapan dan emiten terkait komoditas untuk kemudian memarkir dananya ke saham-saham lain yang dinilai lebih menarik.
Peta Net Sell Asing Jumat (7/8): BBCA dan BMRI Jadi Incaran Jual
đ Baca Juga
- Saham Grup Bakrie Melesat Ratusan Persen: BUMI, VKTR, MDIA hingga BNBR, Ini Katalis dan Fundamentalnya
- Modal Asing Menguap Rp72,52 Triliun dari BEI, Komposisi Investor Asing Menipis ke 38%: Siapa yang Kini Menguasai Pasar Modal RI?
- Asing Borong Saham Tambang ANTM, TINS, BUMI di Tengah Reli IHSG Tembus 6.400
Menurut data BEI yang dihimpun Kontan, berikut 10 saham dengan net sell terbesar asing pada perdagangan Jumat (7/8/2026):
- Bank Central Asia (BBCA) - Rp93,07 miliar
- Bank Mandiri (BMRI) - Rp60,43 miliar
- Astra International (ASII) - Rp47,08 miliar
- Merdeka Gold Resources (EMAS) - Rp36,22 miliar
- United Tractors (UNTR) - Rp27,78 miliar
- Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) - Rp27,26 miliar
- DMS Propertindo (KOTA) - Rp25,99 miliar
- Lippo Karawaci (LPKR) - Rp23,83 miliar
- Intermedia Capital (MDIA) - Rp21,7 miliar
- Graha Andrasentra Propertindo (JGLE) - Rp17,57 miliar
Pola ini menunjukkan asing cenderung mengambil untung (profit taking) pada saham-saham yang sebelumnya sudah menguat tajam, termasuk emiten tambang emas EMAS dan beberapa saham properti seperti KOTA, LPKR, dan JGLE yang sempat reli dalam beberapa pekan terakhir.
Saham yang Justru Diborong: BBRI Jadi Primadona
Di sisi lain, dana asing mengalir deras ke sejumlah saham tertentu. Pada sesi I perdagangan Jumat, investor asing tercatat net buy Rp343 miliar dengan konsentrasi beli kompak pada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Aliran masuk tersebut melanjutkan tren beli asing ke saham-saham perbankan BUMN (Himbara) pekan ini.
Data pergerakan harga memperkuat gambaran rotasi ini. Selama sepekan berakhir Jumat (7/8), BBRI menguat sekitar 6,1%, disusul BBNI (3,12%) dan BMRI (1,92%), sementara BBCA hanya naik 1,19%. Artinya, investor asing tidak keluar dari sektor perbankan secara keseluruhan, melainkan berpindah dari bank berkapitalisasi paling besar ke bank-bank Himbara yang dinilai masih memiliki ruang valuasi dan momentum fundamental lebih baik di semester II-2026.
Rupiah Menguat dan Sentimen Pendukung Lainnya
Rotasi asing ini berlangsung di tengah membaiknya sentimen eksternal. Bursa Asia-Pasifik mayoritas ditutup menguat pada Jumat seiring harapan tercapainya kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz yang berpotensi meredakan tekanan harga minyak dunia. Nilai tukar rupiah pun ikut menguat, dengan posisi USD/IDR berada di kisaran Rp17.885 per dolar AS, lebih baik dibandingkan level di atas Rp17.900-18.000 pada sepekan sebelumnya.
Dari sisi domestik, pelaku pasar juga menantikan rilis data cadangan devisa (cadev) Juli 2026 sebagai indikator ketahanan eksternal Indonesia. Selain itu, wacana IPO sejumlah BUMN yang disiapkan Danantara seperti Pelindo, Pegadaian, Pupuk Indonesia, dan Angkasa Pura turut menjadi katalis yang menjaga optimisme investor.
Makna Rotasi bagi Investor Ritel
Pola net buy Rp1,24 triliun dengan rotasi sektoral ini memberi sinyal penting bagi investor ritel. Pertama, kekuatan IHSG lebih didorong oleh pergeseran alokasi dana asing (rotasi) daripada tambahan aliran dana baru yang merata, sehingga pergerakan harga cenderung tidak seragam. Kedua, saham yang sempat naik tajam seperti EMAS, MDIA, dan sejumlah saham properti menghadapi risiko profit taking lanjutan. Ketiga, perbankan Himbara seperti BBRI, BBNI, dan BMRI menjadi fokus akumulasi asing sepanjang pekan.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati volatilitas. Data net sell asing sepanjang tahun berjalan (year to date) masih cukup dalam, dengan posisi jual bersih kumulatif asing yang masih tercatat sekitar Rp71 triliun secara tahun berjalan meski telah terjadi pembalikan arah di beberapa sesi terakhir. Karena itu, akumulasi asing pada Jumat perlu dicermati apakah berkelanjutan atau hanya fenomena sesaat.
