Pasar saham Indonesia menutup pekan dengan kinerja gemilang. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,04% atau 65,94 poin ke level 6.409,65 pada Jumat, 7 Agustus 2026, sekaligus menembus level psikologis 6.400 yang selama ini dinanti pelaku pasar. Penguatan ditopang oleh saham sektor teknologi, barang baku, dan properti, dengan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) menembus Rp11.193 triliun.
Yang menarik, di tengah reli tersebut korporasi asing justru melancarkan rotasi portofolio yang cukup tajam. Alih-alih memburu saham perbankan berkapitalisasi raksasa yang selama ini jadi incaran, investor asing memilih memborong saham-saham pertambangan dan komoditas seperti ANTM (Aneka Tambang), TINS (Timah), BUMI, hingga DSSA (Dian Swastatika Sentosa).
Net Buy Asing Rp343 Miliar di Sesi I, Ini Saham yang Diborong
đ Baca Juga
- Asing Net Buy Rp1,24 Triliun saat IHSG Tembus 6.400: Tapi Jual BBCA, BMRI, ASII hingga EMAS
- Saham Grup Bakrie Melesat Ratusan Persen: BUMI, VKTR, MDIA hingga BNBR, Ini Katalis dan Fundamentalnya
- Modal Asing Menguap Rp72,52 Triliun dari BEI, Komposisi Investor Asing Menipis ke 38%: Siapa yang Kini Menguasai Pasar Modal RI?
Berdasarkan data perdagangan sesi pertama Jumat (7/8/2026), investor asing membukukan net buy (beli bersih) sebesar Rp343,13 miliar seiring penguatan IHSG. Menurut catatan data pasar yang dirangkum Kompas.com dan IDNFinancials, aksi beli asing paling besar tersalur ke saham BBRI (Bank Rakyat Indonesia), TINS (Timah), ANTM (Aneka Tambang), dan BUMI (Bumi Resources).
Pola ini mempertegas tema rotasi pekan ini: alih-alih mengoleksi saham perbankan semata, asing mulai melirik nama-nama tambang dan komoditas yang sedang diuntungkan oleh kenaikan harga emas, nikel, dan minyak dunia.
Sepekan Terakhir: Dari ANTM hingga DSSA
Rotasi asing ke saham tambang sebenarnya sudah terlihat sejak awal pekan. Berikut rincian aksi beli asing berdasarkan beberapa sumber:
- Rabu (5/8/2026): Investor asing memborong saham ANTM dengan net buy Rp127,9 miliar pada sesi I, di tengah pasar yang masih mencatat net sell Rp65,81 miliar. Menurut Bloomberg Technoz, dua broker asing besar, UBS Sekuritas Indonesia dan JP Morgan Sekuritas, terungkap memborong saham ANTM dalam jumlah besar.
- Kamis (6/8/2026): IHSG naik 0,49% ke 6.351,13, namun asing masih mencatat net sell Rp182,77 miliar. Kendati demikian, saham tambang seperti ANTM dan TINS justru diborong, sementara saham blue chip lain dilepas (Kontan).
- Jumat (7/8/2026): Asing mencatat net buy Rp343,13 miliar dan membukukan posisi beli pada saham BBRI, TINS, ANTM, serta BUMI. Data Katadata juga mencatat asing net buy Rp273 miliar dengan memborong saham DSSA sembari melepas BBCA dan EMAS.
Kenapa Saham Tambang Jadi Incaran?
Ada beberapa faktor yang mendorong asing bergeser ke saham tambang. Pertama, harga emas dunia yang baru saja menyentuh level tertinggi tujuh pekan, di tengah ekspektasi penurunan suku bunga The Fed. Momentum ini menguntungkan emiten emas seperti ANTM dan produsen logam mulia.
Kedua, harga minyak dunia yang kembali melonjak akibat ketegangan geopolitik di Selat Hormuz turut mendongkrak minat ke saham energi dan komoditas. Meski sebagian asing justru melepas saham energi tertentu, beberapa emiten tetap diborong seiring ekspektasi margin yang membaik.
Ketiga, fundamental emiten tambang sedang solid. Saham ANTM sempat melonjak didorong laba kuartal I-2026 yang naik sekitar 60% menjadi Rp3,4 triliun, seiring produksi dan penjualan emas, nikel, bauksit, dan alumina yang tumbuh.
BBRI dan TLKM Tetap Jadi Pendorong Utama IHSG
Meski asing mulai melirik tambang, saham-saham likuid dan berkapitalisasi besar tetap menjadi tulang punggung reli IHSG. Menurut Bisnis.com, IHSG naik 1,04% ke 6.409,65 didorong oleh saham BBRI, TLKM, dan emiten besar lainnya. Sementara itu, indeks LQ45 ikut menguat 1,50%, memulihkan diri dari koreksi tipis Kamis lalu.
Dukungan domestik juga datang dari pasar yang mencermati calon Gubernur Bank Indonesia dan data ekonomi dalam negeri, serta neraca perdagangan China yang dirilis Jumat siang. Sentimen global yang relatif kondusif ikut menopang arah pergerakan indeks di kawasan Asia.
Prospek: Apakah Rotasi ke Tambang Berlanjut?
Para analis menilai rotasi asing ke saham komoditas berpeluang berlanjut selama harga emas, minyak, dan komoditas logam tetap tinggi. Namun investor perlu mencermati risiko koreksi harga komoditas dan potensi aksi ambil untung (profit taking) setelah reli yang cukup panjang.
Untuk pekan depan, level 6.400 kini berubah menjadi area support psikologis yang baru, dengan resistance potensial di kisaran 6.450-6.500. Jika asing konsisten net buy, ruang penguatan IHSG masih terbuka, dengan saham tambang dan komoditas menjadi salah satu penggerak utama.
