Capaian Bauran EBT Melampaui Target
đ Baca Juga
Pemerintah melalui Kementerian ESDM mencatat capaian bauran energi baru terbarukan (EBT) Indonesia mencapai 18,3% pada kuartal I-2026 atau melampaui target yang ditetapkan sebesar 17,89%. Angka ini menunjukkan akselerasi transisi energi di Indonesia semakin nyata, didorong oleh masifnya pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), geothermal, dan bioenergi.
Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM menyampaikan bahwa realisasi ini menjadi modal penting untuk mencapai target bauran EBT sebesar 21% pada akhir tahun 2026. Pemerintah juga tengah mengejar target Enhanced Nationally Determined Contribution (NDC) yang membutuhkan kontribusi signifikan dari sektor energi.
Proyek PLTS 100 GW Jadi Andalan
Salah satu program andalan pemerintah adalah pembangunan PLTS dengan total kapasitas 100 GW hingga 2030. Pada tahun 2026, sejumlah proyek PLTS skala besar telah memasuki tahap konstruksi, termasuk PLTS terapung di berbagai waduk dan PLTS ground-mounted di kawasan timur Indonesia.
Program ini tidak hanya didorong oleh APBN tetapi juga melibatkan investasi swasta dan kerja sama dengan mitra internasional. Proyek PLTS Cirata tahap kedua dan pengembangan PLTS di kawasan industri terintegrasi menjadi katalis utama pertumbuhan sektor ini.
Bioenergi dan Geothermal Terus Berkontribusi
Selain tenaga surya, sektor bioenergi juga menunjukkan pertumbuhan menjanjikan. Mandatory biodiesel B35 hingga program B50 yang tengah dikaji menjadi pendorong utama pemanfaatan energi berbasis kelapa sawit. PGN juga telah mengembangkan biomethane sebagai alternatif energi bersih untuk sektor industri.
Sektor panas bumi (geothermal) juga terus berkontribusi dengan kapasitas terpasang yang bertambah. Indonesia memiliki potensi geothermal terbesar di dunia, mencapai 24 GW, namun baru sekitar 10% yang termanfaatkan.
Dampak ke Saham Energi Bersih di BEI
Pencapaian bauran EBT ini berdampak positif pada saham-saham energi bersih yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Emiten seperti Barito Renewables Energy (BREN) dan Pertamina Geothermal Energy (PGEO) menjadi sorotan utama investor.
Analis mencatat konsistennya dukungan pemerintah terhadap sektor EBT menjadi katalis jangka panjang bagi emiten di sektor ini. Kebijakan tarif listrik EBT yang kompetitif dan kemudahan perizinan semakin memperkuat prospek bisnis mereka.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meski capaian positif, transisi energi Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Ketergantungan pada batu bara masih tinggi, di mana PLTU batu bara masih mendominasi bauran energi nasional. Selain itu, investasi di sektor EBT masih membutuhkan dukungan kebijakan yang lebih konsisten.
Kendala pendanaan dan infrastruktur transmisi listrik juga menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Pemerintah perlu mempercepat pembangunan jaringan transmisi untuk menghubungkan sumber EBT yang sebagian besar berada di luar Jawa dengan pusat permintaan listrik.
Prospek ke Depan
Dengan target bauran EBT 21% di tahun 2026 dan komitmen Net Zero Emission 2060, prospek sektor energi bersih di Indonesia masih sangat cerah. Investor dapat mencermati emiten-emiten yang memiliki eksposur langsung terhadap pengembangan EBT, termasuk produsen panel surya, pengembang geothermal, dan perusahaan bioenergi.
Katalis tambahan berasal dari potensi perdagangan karbon dan penerapan pajak karbon yang akan meningkatkan daya saing energi bersih dibandingkan energi fosil.
