Bauran EBT Cetak Rekor 17,89% di April 2026
đ Baca Juga
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) nasional mencapai 17,89% pada April 2026. Capaian ini melampaui target antara yang ditetapkan sebelumnya, meskipun masih terdapat jarak signifikan menuju target akhir tahun sebesar 21%. Data dari Dewan Energi Nasional (DEN) menunjukkan bahwa realisasi bauran EBT tahun 2025 hanya mencapai 15,75%, yang berarti Indonesia "resmi gagal" mencapai target Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) tahun lalu.
Namun, tren positif di awal 2026 memberikan optimisme baru. Porsi EBT dalam bauran energi primer nasional menunjukkan peningkatan konsisten sepanjang kuartal pertama, didorong oleh penambahan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Pemerintah kini memasang target ambisius untuk mengakselerasi transisi energi melalui pembangunan PLTS berkapasitas total 100 GW.
Strategi Pemerintah: PLTS 100 GW dan RUU EBT
Untuk mengejar target bauran EBT 21% di 2026, pemerintah menggenjot pembangunan infrastruktur energi bersih. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat bahwa investasi di sektor energi hijau semakin deras mengalir, terutama dari investor asing yang tertarik dengan potensi surya Indonesia yang melimpah. Selain PLTS, pemerintah juga mendorong pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) sebagai komponen strategis diversifikasi energi.
Di level legislatif, DPR RI sedang mempercepat pembahasan Rancangan Undang-Undang Energi Baru Terbarukan (RUU EBT). Regulasi ini diharapkan menjadi landasan hukum yang kuat bagi pengembangan ekosistem energi bersih nasional, termasuk skema insentif fiskal bagi investor, mekanisme Feed-in Tariff yang kompetitif, dan kemudahan perizinan proyek EBT. Pengesahan RUU ini dinilai krusial untuk mencegah krisis iklim dan memenuhi komitmen Indonesia dalam Paris Agreement.
Prospek Cerah Emiten EBT di 2026
Pasar modal menyambut positif momentum transisi energi ini. Saham-saham emiten yang memiliki eksposur ke sektor EBT mencatatkan penguatan signifikan sepanjang semester pertama 2026. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), emiten konglomerasi energi milik Grup Sinarmas, secara agresif mempercepat ekspansi ke sektor EBT dan infrastruktur digital. DSSA mengalokasikan belanja modal besar untuk proyek energi terbarukan, termasuk pembangkit listrik tenaga surya dan biomassa.
Sementara itu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang merupakan salah satu pemain besar di sektor panas bumi Indonesia juga menjadi sorotan. Dengan kapasitas terpasang yang terus bertambah dan permintaan energi bersih yang meningkat dari sektor industri, BREN diproyeksikan membukukan pertumbuhan pendapatan dua digit di tahun fiskal 2026. Analis dari berbagai sekuritas menilai prospek emiten EBT "tergolong cerah" sepanjang 2026, didukung oleh kebijakan pemerintah yang semakin pro-energi bersih.
Tantangan: Produksi Batubara Masih Menguat
Meskipun transisi EBT menunjukkan progres, Indonesia masih menghadapi dilema klasik: ketergantungan pada energi fosil. Data menunjukkan bahwa produksi batubara nasional justru menguat di tengah pengembangan energi bersih yang masih berjalan lambat. Hal ini mencerminkan ketegangan antara kebutuhan energi jangka pendek yang masif dan komitmen dekarbonisasi jangka panjang.
Porsi EBT dalam beberapa skenario bahkan disebut-sebut bisa mencapai 46% apabila perusahaan tambang BUMN menjadi "early mover" dalam transisi energi. Namun, tanpa insentif yang memadai dan kepastian regulasi, transformasi bisnis dari energi fosil ke energi bersih menghadapi resistensi yang tidak kecil.
