Pada Senin, 13 Juli 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan langkah strategis yang membuka akses bagi investor ritel Indonesia untuk bertransaksi saham-saham raksasa global, termasuk BYD dan Tencent, melalui produk Single Stock Futures (SSF). Langkah ini menandai babak baru dalam pengembangan pasar derivatif di Indonesia.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan bahwa pengembangan produk SSF ini memungkinkan produk turunan saham yang tercatat di Bursa Hong Kong (HKEx) dapat diperdagangkan di bursa Indonesia. Meski demikian, perusahaan-perusahaan tersebut tidak akan mencatatkan saham secara langsung di BEI â melainkan melalui instrumen derivatif yang menggunakan saham mereka sebagai aset acuan (underlying asset).
"Jadi nanti misalnya nama-nama yang sudah kita kenal, BYD, Tencent, itu bisa jadi underlying dari single stock futures," ungkap Jeffrey kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Senin (13/7/2026).
BYD adalah perusahaan otomotif listrik asal China yang telah menjadi pemimpin global dalam segmen kendaraan listrik (EV), sementara Tencent Holdings adalah salah satu raksasa teknologi terbesar di dunia dengan portofolio bisnis di bidang game, media sosial, dan pembayaran digital. Kedua saham tersebut merupakan favorit investor global dan kini dapat diakses oleh investor Indonesia melalui produk SSF.
Apa Itu Single Stock Futures (SSF)?
đ Baca Juga
- Musim Laba Bank Semester I 2026: SMBC Indonesia (BTPN) Melesat 40%, Maybank (BNII) Cetak Rp698 Miliar di Tengah Bunga Tinggi
- Allo Bank Cetak Laba Bersih Rp130 Miliar di Kuartal II-2026, Naik 14% â Kredit Tembus Rp9,5 Triliun, NIM Capai 10,9%
- GOTO Cetak Laba Bersih Dua Kuartal Beruntun, Bukti Kekuatan Ekosistem
Single Stock Futures (SSF) atau Kontrak Berjangka Saham adalah produk derivatif berupa perjanjian antara dua pihak untuk menjual atau membeli suatu saham di masa depan dengan harga yang telah ditentukan sejak awal. Produk ini pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahun 2024 oleh BEI bersama PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), serta didukung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
SSF memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan produk investasi konvensional. Pertama, investor dapat melakukan lindung nilai (hedging) atas portofolio mereka dari pergerakan harga saham underlying. Kedua, SSF dapat digunakan sebagai alternatif investasi untuk profit optimization, baik saat pasar bullish maupun bearish â investor dapat mengambil posisi beli (long) ketika pasar naik atau posisi jual (short) ketika pasar turun.
Ketiga, dana yang dibutuhkan investor jauh lebih kecil dibandingkan membeli saham secara langsung karena SSF ditransaksikan secara leverage. Keempat, realisasi keuntungan didapatkan lebih cepat karena penyelesaian SSF dilakukan secara tunai dalam 1 Hari Bursa (T+1).
Selain itu, perdagangan SSF di BEI dijamin aman dan transparan karena ditransaksikan secara real time di bursa, diawasi oleh BEI dan OJK, serta penyelesaian transaksinya dijamin oleh KPEI.
Kerja Sama Resiprokal BEI-HKEx
Tidak hanya menghadirkan akses ke saham global, perjanjian ini juga memberi kemudahan bagi perusahaan tercatat di Indonesia untuk mencatatkan sahamnya di HKEx dengan prosedur yang lebih sederhana. Langkah ini disebut dapat memangkas prosedur pencatatan di bursa global.
"Setelah mereka tercatat di Bursa Efek Indonesia, mereka bisa tercatat di Bursa Hong Kong misalnya dengan prosedur yang lebih sederhana. Untuk mendapatkan apa? Untuk mendapatkan exposure terhadap basis investor yang lebih luas," jelas Jeffrey.
Sebelumnya, BEI telah bekerja sama dengan Straits Times Index (STI) dan menerbitkan dua hingga tiga instrumen deposit receipt (DR). Saat ini, BEI juga sedang membuka diskusi dengan Stock Exchange of Thailand (SET) untuk pencatatan resiprokal, menunjukkan ambisi bursa Indonesia untuk semakin terintegrasi dengan pasar modal regional dan global.
Implikasi bagi Pasar Modal Indonesia
Langkah BEI ini merupakan terobosan signifikan yang membawa sejumlah implikasi positif bagi pasar modal Indonesia:
- Diversifikasi Produk Investasi â Investor ritel Indonesia kini memiliki opsi instrumen derivatif yang lebih beragam, tidak hanya terbatas pada saham biasa, reksa dana, atau obligasi.
- Akses ke Saham Global â Melalui SSF, investor Indonesia dapat memperoleh eksposur terhadap kinerja saham-saham unggulan global seperti BYD dan Tencent tanpa perlu membuka rekening di bursa luar negeri secara langsung.
- Likuiditas Pasar â Produk derivatif baru diharapkan dapat meningkatkan volume transaksi dan likuiditas pasar modal Indonesia secara keseluruhan.
- Hedging dan Manajemen Risiko â Investor institusi maupun ritel dapat menggunakan SSF sebagai alat lindung nilai portofolio di tengah volatilitas pasar yang tinggi.
