Di tengah volatilitas pasar keuangan global yang dipicu ketegangan geopolitik Selat Hormuz dan aksi jual besar-besaran di bursa Asia, Bank Indonesia (BI) justru menyampaikan kabar positif bagi pelaku pasar. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengonfirmasi bahwa likuiditas perbankan masih longgar dan terus terjaga untuk mendukung target intermediasi. Indikator utamanya â INDONIA (Indonesia Overnight Index Average) sebagai cerminan suku bunga antar bank â tercatat turun signifikan 45 basis points (bps) dalam sebulan terakhir, dari 6,62% pada 18 Juni 2026 menjadi 6,17% pada 16 Juli 2026. Penurunan ini mengindikasikan tekanan permintaan likuiditas di pasar uang antarbank berkurang sehingga kebutuhan pendanaan jangka pendek dapat dipenuhi dengan biaya yang lebih rendah.
Strategi Ekspansi Likuiditas BI Capai Rp837 Triliun
đ Baca Juga
- Laba Astra Internasional (ASII) Semester I-2026 Rp12,53 Triliun, Turun 19,22% â Ini Analisis Kinerja Blue Chip Konglomerasi
- Musim Laba Bank Semester I 2026: SMBC Indonesia (BTPN) Melesat 40%, Maybank (BNII) Cetak Rp698 Miliar di Tengah Bunga Tinggi
- Allo Bank Cetak Laba Bersih Rp130 Miliar di Kuartal II-2026, Naik 14% â Kredit Tembus Rp9,5 Triliun, NIM Capai 10,9%
Pencapaian penurunan INDONIA tidak lepas dari strategi agresif BI dalam melakukan ekspansi likuiditas. Melalui berbagai instrumen moneter seperti repo, swap valas, dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, BI berhasil menginjeksi likuiditas hingga Rp837,11 triliun per 16 Juli 2026.
"Strategi ekspansi tersebut juga mendukung pertumbuhan uang primer (M0) yang terjaga double digit, yaitu 12,8% (yoy) pada akhir Juni 2026," jelas Destry dalam keterangan tertulis, Jumat (17/7/2026).
Angka ini menunjukkan betapa agresifnya BI dalam menjaga likuiditas sistem keuangan di tengah tekanan eksternal. Sebagai perbandingan, ekspansi likuiditas ini jauh melampaui nominal pada periode yang sama tahun sebelumnya. BI juga terus melakukan komunikasi intensif dengan perbankan agar hambatan distribusi likuiditas antar bank dapat teratasi dengan risiko yang terkelola dengan baik.
Penurunan INDONIA: Sinyal Cost of Fund Perbankan Turun
Penurunan INDONIA dari 6,62% ke 6,17% dalam waktu kurang dari sebulan memberikan dampak langsung terhadap struktur pendanaan perbankan. INDONIA merupakan acuan utama dalam penentuan suku bunga antarbank (PUAB) yang menjadi komponen penting dalam cost of fund perbankan.
Ketika INDONIA turun, bank dapat memperoleh dana antarbank dengan biaya lebih murah. Hal ini secara gradual akan menekan biaya dana (cost of fund) perbankan, yang pada gilirannya berpotensi memperbaiki Net Interest Margin (NIM) perbankan yang sempat tertekan akibat suku bunga acuan BI yang masih di level tinggi.
Bagi emiten perbankan big four â PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) â penurunan cost of fund bisa menjadi katalis positif bagi laba bersih di kuartal III 2026 mendatang.
Dampak ke Saham Perbankan dan Kinerja IHSG
Sektor perbankan merupakan penopang utama IHSG dengan bobot lebih dari 30% terhadap indeks. Data perdagangan 17 Juli 2026 menunjukkan investor asing membukukan net buy sebesar Rp638,6 miliar yang terkonsentrasi pada saham-saham bank jumbo.
BBCA mencatat net buy asing terbesar mencapai Rp691,9 miliar, diikuti BMRI Rp375,4 miliar, dan BBRI Rp267,7 miliar. Aksi borong asing ini mendorong indeks sektor keuangan melesat 2,34% dan IHSG ditutup menguat 1,10% ke level 6.175,53.
Likuiditas yang longgar menjadi salah satu fondasi utama yang memungkinkan perbankan untuk terus menyalurkan kredit tanpa tekanan pendanaan yang berlebihan. Dengan BI yang terus menginjeksi likuiditas, ruang bagi perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit perlahan terbuka.
"Surveilans dan pengawasan terus diperkuat dalam penegakan ketentuan dan memastikan perilaku pasar selalu dalam koridor yang wajar," imbuh Destry, memberikan keyakinan bahwa stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.
Prospek Kredit dan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III 2026
Kondisi likuiditas yang longgar menjadi modal penting bagi perbankan untuk mendorong ekspansi kredit di kuartal III 2026. Dengan pertumbuhan uang primer (M0) 12,8% (yoy) dan injeksi likuiditas yang masif, bank memiliki ruang yang cukup untuk menyalurkan kredit ke sektor korporasi dan konsumsi.
BI memperkirakan pertumbuhan kredit masih akan terjaga di kisaran 10-12% pada tahun 2026, ditopang oleh permintaan dari sektor industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi. Sektor properti yang sempat tertekan suku bunga tinggi juga berpotensi menikmati dampak positif jika suku bunga kredit mulai melandai.
BI berkomitmen untuk terus memonitor kecukupan likuiditas guna mendukung efektivitas transmisi kebijakan moneter dalam memperkuat stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Strategi distribusi likuiditas antar bank juga terus diperkuat agar proses pembentukan suku bunga berjalan efisien.
