Jakarta, 6 Oktober 2026 — Emiten properti mewah PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) bakal menggelar rights issue kedua (PMHMETD II) senilai Rp1,54 triliun untuk mendanai ekspansi proyek properti premium, termasuk kawasan Lagoi di Bintan dan Uluwatu Estate di Bali. Dalam aksi korporasi ini, empat pihak termasuk Hapsoro ditunjukkan sebagai pembeli siaga yang menampung saham tak terpakai pada harga pelaksanaan Rp250 per saham, sehingga keberhasilan penambahan modal tetap terjaga.
\nRights Issue Rp1,54 Triliun dengan Rasio 4:1
đ Baca Juga
- IPO 2026 Kolaps 68% ke Bawah hingga Agustus, Dana Hanya Rp2,16 Triliun vs Rp10,39 Triliun 2025; OJK Tetap Jaga Target Rp250 Triliun
- TEBE (Haji Isam): Laba Rp47,2 Miliar, Saham Melonjak 39,7% dalam Sebulan
- BSI Rights Issue 6,8 Miliar Saham: Apa Dampaknya Bagi Pemegang Saham dan Pasar Modal Indonesia?
BUVA menawarkan 6.154.263.660 saham baru dengan nilai nominal Rp50 per saham dan harga pelaksanaan Rp250 per saham, sehingga dana yang terkumpil mencapai Rp1.538.565.915.000 atau sekira Rp1,54 triliun — setara dengan sekitar 20% dari modal yang telah disetor dan akan ditempatkan penuh setelah rights issue selesai. Setiap pemegang saham lama yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada Kamis, 15 Oktober 2026 pukul 16.00 WIB berhak atas 1 Hak Membeli Saham Efek Terlebih Dahulu (HMETD) untuk setiap 4 saham yang dimilikinya; satu HMETD berhak dibayar untuk membeli satu saham baru, sehingga pemegang yang tidak mepakai haknya akan terdilusi paling 20%.
\nJadwal Penting Pelaksanaan HMETD
\nPelaksanaan rights issue berjalan sejak 13 Oktober hingga 5 November 2026.
\n- Cum HMETD pasar reguler & negosiasi: 13 Oktober 2026; Ex-HMETD: 14 Oktober 2026.
- Cum HMETD pasar tunai & DPS yang berhak: 15 Oktober 2026; Ex-HMETD pasar tunai & distribusi: 16 Oktober 2026.
- Perdagangan dan pelaksanaan HMETD: 19–30 Oktober 2026.
- Akhir pembayaran pemesanan saham tambahan: 3 November 2026.
- Penjatahan saham hasil hak dan pembayaran dari pembeli siaga: 4 November 2026.
- Distribusi saham hasil penjatahan dan pengembalian dana pemesanan: 5 November 2026.
Hapsoro dan Tiga Pihak Lain Jadi Pembeli Siaga
\nAgar penawaran tetap tertutup dan dana dapat terhimpun penuh, BUVA mengangkat empat pembeli siaga: Hapsoro (389.038.738 HMETD / Rp97,26 miliar), Ferry Sudjono (1.311.216.321 HMETD / Rp327,80 miliar), PT Henan Putihrai Sekuritas (400.000.000 HMETD / Rp100 miliar), dan PT Tata Tirta Datun (TTD) (1.606.350 HMETD / Rp401,59 juta). Perjanjian pembelian siaga ini ditandatangani 27 Juli 2026, kemudian diubah pada 21 Agustus 2026 dan 1 Oktober 2026; pada 1 Oktober 2026 keempat pihak menyatakan telah memiliki dana yang cukup dan akan menunaikan kewajibannya.
\nModal Baru untuk Ekspansi Properti Premium
\nDana hasil rights issue akan mendanai sejumlah proyek properti premium milik BUVA. Antara lain, pelengkapan kawasan pariwisata di Lagoi, Bintan, yang ditargetkan rampung paling lambat kuartal IV-2029, serta infrastruktur proyek Uluwatu Estate di Bali senilai Rp390,34 miliar yang diselesaikan paling lambat kuartal IV-2028. Langkah ini sejalan dengan ambisi pengembangan properti premium grup, sekaligus konsisten dengan gerakan ekspansi pemegang saham ke sektor hiburan yang pernah dilakukan.
\nKinerja Keuangan dan Profil Rasio Keuangan
\nPada empat bulan pertama 2026 (hingga 30 April), BUVA mencatatkan pendapatan Rp96,32 miliar, turun 1,96% year-on-year seiring penurunan jumlah tamu akibat faktor musiman dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Tingkat okupansi hotel turun dari 51,18% ke 47,31%, namun rata-rata tarif kamar (ADR) naik 5,86% ke Rp5,44 juta dari Rp5,13 juta. Dengan dibandingkan periode yang sama tahun lalu — yang mencatatkan laba entitas asosiasi sebesar Rp76,11 miliar, mayoritas dari penjualan aset PT Bukit Savanna Raya — BUVA mencatatkan rugi bersih Rp5,66 miliar pada 4 bulan pertama 2026.
\nSepanjang 2025 justru menjadi tahun yang lebih menguntungkan bagi BUVA: pendapatan naik 5,72% menjadi Rp375,58 miliar dengan laba bersih Rp195,15 miliar (vs Rp9,74 miliar pada 2024), ditopongi keuntungan akuisisi dan laba entitas asosiasi. Per 30 April 2026, total aset perseroan mencapai Rp2,71 triliun, liabilitas Rp569,31 miliar, dan ekuitas Rp2,14 triliun. Rasio utang terhadap ekuitas berada di 26,57%, nyaman di bawah batas 150% dalam perjanjian kredit, meski rasio cakupan utang (DSCR) tercatat 83,46% — masih di bawah persyaratan di atas 100%. Dokumen tidak memberi penjelasan rinci atas gap ini, sehingga keberhasilan penuh rights issue menjadi penting untuk mendukung profil likuiditas perseroan.
\nProspek dan Stabilitas Kepemilikan
\nSetelah rights issue, PT Nusantara Utama Investama (NUI) — pemegang saham pengendali dengan 15.034.031.772 saham (61,07%) — diperkirakan akan menurunkan partisipasinya hanya tipis ke sekitar 60,15%. NUI akan menampung sebagian besar haknya, yakni 3.474.507.943 HMETD, dan mengalihkan 284.000.000 HMETD ke PT Tata Tirta Datun (TTD) yang akan ditertibkan. Tak ada pemegang saham publik yang memiliki 5% atau lebih, baik langsung maupun tidak langsung, sehingga struktur kepemilikan tetap konsolidatif. BUVA kini mengelola tiga hotel berbendera Alila — Alila Villas Uluwatu, Alila Ubud, dan Alila Manggis — dan berencana memperluas portofolio properti premium di peluang pasca-rights issue.
