Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
IPO & Korporat netral ⏱ 5 menit

BUVA Rights Issue Rp1,54 Triliun, Hapsoro Jadi Pembeli Siaga Dukung Ekspansi Properti Premium

BUVA Rights Issue Rp1,54 Triliun, Hapsoro Jadi Pembeli Siaga Dukung Ekspansi Properti Premium
Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)

PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) mengumumkan rights issue kedua senilai Rp1,54 triliun (6,154 miliar saham baru, harga pelaksanaan Rp250/pcs) untuk pendanaan ekspansi properti premium, termasuk Lagoi Bintan dan Uluwatu Estate Bali. Empat pembeli siaga termasuk Hapsoro siap menampung saham tak terpakai, sementara proyek target selesai hingga kuartal IV-2029.

Jakarta, 6 Oktober 2026 — Emiten properti mewah PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) bakal menggelar rights issue kedua (PMHMETD II) senilai Rp1,54 triliun untuk mendanai ekspansi proyek properti premium, termasuk kawasan Lagoi di Bintan dan Uluwatu Estate di Bali. Dalam aksi korporasi ini, empat pihak termasuk Hapsoro ditunjukkan sebagai pembeli siaga yang menampung saham tak terpakai pada harga pelaksanaan Rp250 per saham, sehingga keberhasilan penambahan modal tetap terjaga.

\n

Rights Issue Rp1,54 Triliun dengan Rasio 4:1

📎 Baca Juga

\n

BUVA menawarkan 6.154.263.660 saham baru dengan nilai nominal Rp50 per saham dan harga pelaksanaan Rp250 per saham, sehingga dana yang terkumpil mencapai Rp1.538.565.915.000 atau sekira Rp1,54 triliun — setara dengan sekitar 20% dari modal yang telah disetor dan akan ditempatkan penuh setelah rights issue selesai. Setiap pemegang saham lama yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada Kamis, 15 Oktober 2026 pukul 16.00 WIB berhak atas 1 Hak Membeli Saham Efek Terlebih Dahulu (HMETD) untuk setiap 4 saham yang dimilikinya; satu HMETD berhak dibayar untuk membeli satu saham baru, sehingga pemegang yang tidak mepakai haknya akan terdilusi paling 20%.

\n

Jadwal Penting Pelaksanaan HMETD

\n

Pelaksanaan rights issue berjalan sejak 13 Oktober hingga 5 November 2026.

\n
  • Cum HMETD pasar reguler & negosiasi: 13 Oktober 2026; Ex-HMETD: 14 Oktober 2026.
  • Cum HMETD pasar tunai & DPS yang berhak: 15 Oktober 2026; Ex-HMETD pasar tunai & distribusi: 16 Oktober 2026.
  • Perdagangan dan pelaksanaan HMETD: 19–30 Oktober 2026.
  • Akhir pembayaran pemesanan saham tambahan: 3 November 2026.
  • Penjatahan saham hasil hak dan pembayaran dari pembeli siaga: 4 November 2026.
  • Distribusi saham hasil penjatahan dan pengembalian dana pemesanan: 5 November 2026.
\n

Hapsoro dan Tiga Pihak Lain Jadi Pembeli Siaga

\n

Agar penawaran tetap tertutup dan dana dapat terhimpun penuh, BUVA mengangkat empat pembeli siaga: Hapsoro (389.038.738 HMETD / Rp97,26 miliar), Ferry Sudjono (1.311.216.321 HMETD / Rp327,80 miliar), PT Henan Putihrai Sekuritas (400.000.000 HMETD / Rp100 miliar), dan PT Tata Tirta Datun (TTD) (1.606.350 HMETD / Rp401,59 juta). Perjanjian pembelian siaga ini ditandatangani 27 Juli 2026, kemudian diubah pada 21 Agustus 2026 dan 1 Oktober 2026; pada 1 Oktober 2026 keempat pihak menyatakan telah memiliki dana yang cukup dan akan menunaikan kewajibannya.

\n

Modal Baru untuk Ekspansi Properti Premium

\n

Dana hasil rights issue akan mendanai sejumlah proyek properti premium milik BUVA. Antara lain, pelengkapan kawasan pariwisata di Lagoi, Bintan, yang ditargetkan rampung paling lambat kuartal IV-2029, serta infrastruktur proyek Uluwatu Estate di Bali senilai Rp390,34 miliar yang diselesaikan paling lambat kuartal IV-2028. Langkah ini sejalan dengan ambisi pengembangan properti premium grup, sekaligus konsisten dengan gerakan ekspansi pemegang saham ke sektor hiburan yang pernah dilakukan.

\n

Kinerja Keuangan dan Profil Rasio Keuangan

\n

Pada empat bulan pertama 2026 (hingga 30 April), BUVA mencatatkan pendapatan Rp96,32 miliar, turun 1,96% year-on-year seiring penurunan jumlah tamu akibat faktor musiman dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Tingkat okupansi hotel turun dari 51,18% ke 47,31%, namun rata-rata tarif kamar (ADR) naik 5,86% ke Rp5,44 juta dari Rp5,13 juta. Dengan dibandingkan periode yang sama tahun lalu — yang mencatatkan laba entitas asosiasi sebesar Rp76,11 miliar, mayoritas dari penjualan aset PT Bukit Savanna Raya — BUVA mencatatkan rugi bersih Rp5,66 miliar pada 4 bulan pertama 2026.

\n

Sepanjang 2025 justru menjadi tahun yang lebih menguntungkan bagi BUVA: pendapatan naik 5,72% menjadi Rp375,58 miliar dengan laba bersih Rp195,15 miliar (vs Rp9,74 miliar pada 2024), ditopongi keuntungan akuisisi dan laba entitas asosiasi. Per 30 April 2026, total aset perseroan mencapai Rp2,71 triliun, liabilitas Rp569,31 miliar, dan ekuitas Rp2,14 triliun. Rasio utang terhadap ekuitas berada di 26,57%, nyaman di bawah batas 150% dalam perjanjian kredit, meski rasio cakupan utang (DSCR) tercatat 83,46% — masih di bawah persyaratan di atas 100%. Dokumen tidak memberi penjelasan rinci atas gap ini, sehingga keberhasilan penuh rights issue menjadi penting untuk mendukung profil likuiditas perseroan.

\n

Prospek dan Stabilitas Kepemilikan

\n

Setelah rights issue, PT Nusantara Utama Investama (NUI) — pemegang saham pengendali dengan 15.034.031.772 saham (61,07%) — diperkirakan akan menurunkan partisipasinya hanya tipis ke sekitar 60,15%. NUI akan menampung sebagian besar haknya, yakni 3.474.507.943 HMETD, dan mengalihkan 284.000.000 HMETD ke PT Tata Tirta Datun (TTD) yang akan ditertibkan. Tak ada pemegang saham publik yang memiliki 5% atau lebih, baik langsung maupun tidak langsung, sehingga struktur kepemilikan tetap konsolidatif. BUVA kini mengelola tiga hotel berbendera Alila — Alila Villas Uluwatu, Alila Ubud, dan Alila Manggis — dan berencana memperluas portofolio properti premium di peluang pasca-rights issue.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Berapa nilai dan struktur rights issue BUVA?

BUVA menawarkan 6.154.263.660 saham baru dengan nilai nominal Rp50 dan harga pelaksanaan Rp250 per saham, sehingga dana terkumpil Rp1.538.565.915.000 (≈ Rp1,54 triliun). Ini setara sekitar 20% modal yang terdapatkan dan ditempatkan penuh setelah rights issue. Setiap 4 saham lama berhak 1 HMETD; satu HMETD dapat dibayar untuk membeli 1 saham baru.

Kapan jadwal penting pelaksanaan HMETD BUVA?

Cum/Ex HMETD pasar reguler & negosiasi: 13/14 Okt 2026; pasar tunai & DPS berhak: 15/16 Okt 2026; perdagangan & pelaksanaan HMETD: 19–30 Okt 2026; akhir pembayaran pemesanan tambahan: 3 Nov 2026; penjatahan & pembayaran pembeli siaga: 4 Nov 2026; distribusi saham & pengembalian dana: 5 Nov 2026.

Siapa saja pembeli siaga dan komitmen Hapsoro?

Empat pembeli siaga: Hapsoro (389.038.738 HMETD / Rp97,26 miliar), Ferry Sudjono (1.311.216.321 HMETD / Rp327,80 miliar), PT Henan Putihrai Sekuritas (400.000.000 HMETD / Rp100 miliar), dan PT Tata Tirta Datun (TTD) (1.606.350 HMETD / Rp401,59 juta). Perjanjian ditandatangani 27 Juli 2026, diubah 21 Agustus & 1 Oktober 2026; keempat pihak menyatakan dana cukup pada 1 Oktober 2026.

Untuk apa dana hasil rights issue ini?

Dana mendanai ekspansi properti premium: pelengkapan Lagoi Bintan (selesai paling lambat Q4-2029) dan infrastruktur Uluwatu Estate Bali senilai Rp390,34 miliar (selesai paling lambat Q4-2028).

Bagaimana kinerja keuangan BUVA?

Pada 4M 2026 pendapatan turun 1,96% YoY ke Rp96,32 miliar, okupansi 47,31%, ADR Rp5,44 juta; rugi bersih Rp5,66 miliar (vs laba Rp73,17 miliar YoY yang dipengaruhi jual aset). Aset Rp2,71 triliun, debt/equity 26,57%, DSCR 83,46%. Tahun 2025 laba bersih Rp195,15 miliar.

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter
Sumber: CNBC Indonesia