Revolusi Energi Hijau di Indonesia
๐ Baca Juga
Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi transisi energi Indonesia. Berbagai proyek energi terbarukan (EBT) mulai memasuki tahap implementasi. Mulai dari pengembangan gas biomethane dari limbah sawit oleh PGN, proyek PLTS 130 MW di Bali oleh Futura Energi Global (FUTR), hingga implementasi Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) offshore pertama di Indonesia oleh Pertamina Hulu Energi.
Langkah ini sejalan dengan target pemerintah mencapai Net Zero Emission pada 2060 dan implementasi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025โ2034.
PGN Kembangkan Biomethane dari Limbah Sawit
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) melalui Subholding Gas Pertamina tengah mengembangkan gas biomethane dari limbah pabrik kelapa sawit (POME). Direktur Utama PGN, Arief K. Risdianto, menjelaskan bahwa rencana ini dijalankan untuk meningkatkan suplai gas domestik dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Proyek ini juga melibatkan kerja sama dengan tiga perusahaan gas dari Jepang, yakni Osaka Gas, JGC Holdings Corporation, dan INPEX CORPORATION. Studi kelayakan telah dilakukan sejak 2022, dan kini PGN mulai mengembangkan infrastruktur injection point di Sumatera Selatan.
Futura Energi Global Siapkan 5 Lini Bisnis EBT
PT Futura Energi Global Tbk (FUTR) mendapat persetujuan RUPS untuk mengubah status menjadi perusahaan investasi dan mengembangkan lima lini bisnis energi hijau: panas bumi, PLTS, pembangkit listrik tenaga minihidro, perdagangan karbon, serta pusat data berbasis energi hijau.
Presiden Direktur FUTR, Anggara Suryawan, mengatakan saat ini FUTR tengah mengembangkan proyek PLTS berkapasitas 130 MW di Bali melalui kerja sama dengan Zhejiang Energy PV-Tech Co. Ltd. Pemegang saham pengendali FUTR juga telah memiliki aset panas bumi melalui PT Sejahtera Alam Energy yang mengantongi PPA berkapasitas 220 MW dengan nilai investasi US$ 80 juta.
Terobosan CEOR Offshore Pertamina
PT Pertamina Hulu Energi (PHE) melalui anak usahanya PHE OSES berhasil melakukan injeksi perdana polimer untuk Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) di Lapangan Rama, lepas pantai Indonesia. Ini merupakan implementasi CEOR offshore pertama di Indonesia.
Teknologi polymer flooding diterapkan dengan menginjeksikan larutan polimer ke dalam reservoir untuk meningkatkan faktor perolehan minyak. Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menegaskan bahwa CEOR ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran teknis.
Prospek Saham Energi Terbarukan 2026
Dengan semakin masifnya proyek energi hijau, saham-saham seperti FUTR, PGAS, dan PGEO diproyeksikan memiliki prospek pertumbuhan yang menarik. FUTR dengan portofolio proyek EBT yang mulai terwujud menjadi salah satu saham yang patut dicermati.
PGAS dan PGEO sebagai pemain gas bumi dan panas bumi juga diuntungkan dari tren transisi energi. Pemerintah juga terus mendorong bauran EBT yang saat ini baru mencapai 17,89% dan ditargetkan naik signifikan ke depannya.
Risiko dan Tantangan
Meski prospek cerah, sektor energi terbarukan di Indonesia masih menghadapi tantangan pendanaan dan infrastruktur. Biaya investasi awal yang besar menjadi hambatan utama pengembangan proyek EBT.
Regulasi yang masih berkembang dan ketergantungan pada mitra asing untuk teknologi juga menjadi risiko. Investor perlu mencermati kemampuan emiten dalam mengeksekusi proyek dan kondisi keuangannya.
