Jakarta, Emiten.org — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran melancarkan serangan terhadap fasilitas pertahanan Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain pada pekan ini. Eskalasi ini menambah ketidakpastian pasar global, mendorong harga minyak mentah mendekati level tertinggi dalam satu bulan, dan mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz — jalur transit utama minyak dunia.
Meskipun konflik meningkat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mencatatkan penguatan signifikan sebesar 4,24% dalam sepekan ke level 6.175,54 pada penutupan Jumat (17/7/2026). Pasar domestik berhasil mengabaikan tekanan geopolitik berkat sejumlah sentimen positif dari dalam negeri.
Kronologi Eskalasi Konflik dan Dampaknya ke Harga Minyak
📎 Baca Juga
Iran menyerang fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain sebagai respons atas perluasan serangan Washington terhadap infrastruktur Iran. Serangan ini terjadi di Ahvaz, ibu kota Provinsi Khuzestan — salah satu pusat utama industri minyak Iran.
Wakil Presiden AS JD Vance menyebut sejumlah pejabat Israel berupaya memperpanjang konflik dengan Iran tanpa batas waktu. Sementara itu, Iran memandang gempuran yang tengah dihadapinya sebagai perang eksistensial.
Ketegangan di Timur Tengah yang meningkat ini mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz, mendorong harga minyak mentah dunia melonjak. Kepala Strategi Pasar Global Brown Brothers Harriman, Elias Haddad, mengatakan koreksi pasar saham global dan gangguan di Selat Hormuz memicu aksi mencari aset aman sehingga dolar AS berhasil memangkas sebagian pelemahannya.
Meski demikian, harga minyak mentah Indonesia (ICP) tercatat turun di Juni 2026 dan diperkirakan bisa lebih murah di Juli 2026, memberikan potensi penurunan harga BBM di dalam negeri.
IHSG Justru Rally 4,24% — Sentimen Domestik Jadi Penopang
Di tengah ketidakpastian global, IHSG justru mencatat penguatan tujuh hari berturut-turut sepanjang pekan ini. Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan penguatan IHSG dipengaruhi oleh sejumlah sentimen global dan domestik.
"Selama sepekan ini, IHSG bergerak menguat 4,24% dan masih didominasi oleh volume pembelian yang cenderung meningkat," ujarnya kepada Kontan.
Katalis positif utama berasal dari:
- Data inflasi AS yang melandai: Rilis data CPI AS yang lebih rendah dari ekspektasi pasar meningkatkan peluang The Fed menahan suku bunga acuannya.
- S&P pertahankan rating Indonesia: S&P Global mempertahankan peringkat kredit Indonesia di BBB dengan outlook stabil, menegaskan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi RI.
- Aliran dana asing: Investor asing mencatatkan net buy signifikan, dengan salah satu hari mencatat pembelian bersih Rp1,22 triliun pada Kamis (16/7/2026).
- Rupiah menguat: Nilai tukar rupiah menguat 0,80% secara mingguan ke Rp17.921 per dolar AS.
Secara sektoral, saham sektor keuangan mencatatkan penguatan terbesar, sementara sektor basic materials mengalami koreksi.
Rupiah Perkasa, Pasar Nantikan RDG BI
Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat (17/7/2026), menandai hari keempat penguatan secara berturut-turut. Kurs rupiah di pasar spot menguat 0,36% menjadi Rp17.921 per dolar AS, sementara kurs Jisdor tercatat di Rp17.944 per dolar AS.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah pada akhir pekan terutama ditopang oleh kembali masuknya dana asing, baik ke pasar obligasi maupun pasar saham domestik.
"Rupiah ditutup menguat cukup tajam oleh dukungan kembali masuknya dana asing baik di obligasi maupun ekuitas," ujarnya.
Pekan depan, pasar akan mengantisipasi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21-22 Juli 2026. Lukman memperkirakan BI masih berpeluang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Dolar AS Melemah Meski Ketegangan Meningkat
Nilai tukar dolar AS bergerak stabil pada perdagangan Jumat (17/7/2026), tetapi tetap mencatat pelemahan secara mingguan. Pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah data inflasi AS menunjukkan tekanan harga yang lebih terkendali.
Indeks dolar AS (DXY) berada di level 100,76 atau turun sekitar 0,2% sepanjang pekan. Euro ditutup stabil di US$1,1436 dan masih menguat 0,2% secara mingguan. Di Asia, yen Jepang bertahan di kisaran 162,44 per dolar AS, tidak jauh dari level terlemah dalam hampir 40 tahun.
Data ekonomi AS menunjukkan penjualan ritel naik tipis pada Juni, didorong lonjakan belanja daring. Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Juli turun menjadi sekitar 14% dari sekitar 25% sepekan sebelumnya.
Proyeksi Pekan Depan dan Strategi Investor
Untuk perdagangan pekan depan, Herditya memperkirakan IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan meski terbatas, dengan support di 5.987 dan resistance di 6.268. Sementara itu, Analis Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang memperkirakan IHSG berpotensi menguji level 6.225 hingga 6.280.
Pelaku pasar akan mencermati sejumlah sentimen, seperti rilis laporan keuangan emiten semester I-2026, arah kebijakan The Fed, serta pergerakan harga komoditas global. Dari dalam negeri, hasil RDG BI, pertumbuhan kredit, serta jumlah uang beredar (M2) akan menjadi sorotan.
Rekomendasi saham yang dapat dicermati antara lain PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADMR) di kisaran Rp2.550-Rp2.600, PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) di rentang Rp625-Rp645, serta PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).
Dengan berbagai sentimen tersebut, investor disarankan tetap selektif dan mencermati dinamika pasar yang masih dipengaruhi faktor geopolitik global maupun sentimen domestik yang mulai membaik.
