Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
Global netral ⏱ 6 menit

AS-Jepang Bersatu Selamatkan Yen, Intervensi Bersama Pertama Sejak 2011 — Apa Dampaknya ke Rupiah dan Pasar Global?

AS-Jepang Bersatu Selamatkan Yen, Intervensi Bersama Pertama Sejak 2011 — Apa Dampaknya ke Rupiah dan Pasar Global?
Wikimedia Commons / Bank of Japan Headquarters, Tokyo

Pemerintah Jepang dan Amerika Serikat dikabarkan akan mengumumkan intervensi bersama di pasar valuta asing untuk menghentikan pelemahan yen yang telah jatuh ke level terendah sejak 1986. Menurut laporan Reuters, langkah ini akan menjadi intervensi bersama pertama sejak 2011, setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut yen 'sangat undervalued' dan terlihat menyiapkan rencana membeli yen senilai US$5-10 miliar. Artikel ini mengulas kronologi intervensi langka tersebut, peran Bank of Japan (BOJ), serta dampaknya terhadap nilai tukar rupiah dan pasar keuangan Indonesia di tengah tekanan outflow asing.

Yen di Jurang Terlemah Sejak 1986, AS-Jepang Bergandengan Tangan

📎 Baca Juga

Pasar valuta asing global dihebohkan dengan kabar langka pada akhir pekan ini: Pemerintah Jepang dan Amerika Serikat dilaporkan akan mengumumkan intervensi bersama di pasar valas untuk menghentikan pelemahan yen yang sudah dinilai berlebihan. Mengutip Reuters pada Minggu (2/8/2026), Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama dijadwalkan menyampaikan pengumuman tersebut pada Senin (3/8/2026).

Dua pejabat pemerintah Jepang yang mengetahui persoalan ini mengungkapkan bahwa langkah tersebut bertujuan menahan pelemahan yen yang dinilai sudah berlebihan terhadap dolar AS. Katayama juga diperkirakan akan menegaskan komitmen Jepang dan AS untuk bersama-sama menjaga stabilitas nilai tukar mata uang. Ketika ditanya apakah pemerintah akan mengumumkan adanya aksi bersama, salah satu sumber menjawab singkat, "Ya," seraya menambahkan bahwa operasi intervensi tersebut masih berlangsung.

Jika terkonfirmasi, ini akan menjadi intervensi bersama pertama Jepang dan AS di pasar valuta asing sejak 2011. Langkah tersebut dilakukan setelah yen sempat melemah ke level terendah terhadap dolar AS sejak 1986. Sumber pasar menyebutkan pemerintah Jepang telah melakukan pembelian yen dan penjualan dolar pada sesi perdagangan di New York pada Kamis (30/7/2026) waktu setempat.

Catatan Bessent: 'Buy Japanese Yen US$5-10 Bil' Jadi Sorotan

Sorotan tak berhenti di sisi Jepang. Sebuah foto Reuters yang diambil saat rapat kabinet Presiden Donald Trump di Camp David pada Jumat memperlihatkan buku catatan yang berada tepat di depan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent. Dalam catatan itu terlihat tulisan yang digarisbawahi, yakni "To Do" dan di bawahnya terdapat tulisan "Buy Japanese Yen (JPY) $5-10 bil" atau "Beli Yen Jepang (JPY) senilai US$5-10 miliar".

Foto Reuters tersebut diambil dari belakang bahu Bessent pada bagian rapat yang terbuka untuk media. Nama Scott Bessent yang tertera pada kartu peserta rapat tampak jelas dan menguatkan dugaan bahwa catatan tersebut memang milik sang menkeu. Hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai maksud tulisan tersebut, namun kemunculannya menarik perhatian besar pelaku pasar valuta asing global.

Sinyal dukungan dari Washington juga sudah terlihat sebelumnya. Pada pekan lalu, Bessent menyebut yen "terlihat sangat undervalued". Bahkan, Departemen Keuangan AS pada Jumat dilaporkan telah memberi tahu sejumlah bank bahwa pemerintah kemungkinan akan kembali melakukan intervensi di pasar yen dan meminta mereka bersiap menghadapi langkah lanjutan.

Rangkaian Intervensi: Dari Sesi New York hingga Kebijakan BOJ

Intervensi ini bukan sekadar wacana. Sebelum isu intervensi AS mencuat, Otoritas Jepang pada Jumat pagi waktu Tokyo dilaporkan lebih dahulu melakukan langkah untuk memperkuat mata uangnya. Langkah tersebut memicu penguatan signifikan mata uang Jepang dalam perdagangan pagi hari.

Intervensi di New York itu dilakukan hanya beberapa jam sebelum Bank of Japan (BOJ) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya pada Jumat (31/7/2026), sembari memberi sinyal peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Kombinasi intervensi langsung dan sinyal hawkish dari bank sentral menjadi senjata ganda untuk menahan pelemahan yen.

Jika benar Washington kembali masuk ke pasar yen, langkah tersebut akan menjadi salah satu intervensi paling langka dalam sejarah kebijakan mata uang AS modern. Departemen Keuangan AS terakhir kali melakukan intervensi untuk membantu memperkuat yen pada 2011, ketika Amerika Serikat bergabung dengan negara-negara G7 dalam aksi terkoordinasi setelah Jepang dilanda gempa bumi dan tsunami dahsyat. Saat itu intervensi bersama dilakukan untuk menstabilkan pasar keuangan dan mengurangi volatilitas ekstrem pada nilai tukar yen. Sejak saat itu, AS tidak pernah lagi tercatat melakukan intervensi langsung untuk menopang mata uang Jepang.

Dampak terhadap Rupiah dan Pasar Indonesia

Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi angin segar di tengah tekanan jual asing yang masif sepanjang 2026. Intervensi AS-Jepang yang diperkirakan akan memperkuat yen dan melemahkan dolar AS secara luas dapat meredakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Sepanjang 2026, rupiah sempat tertekan hingga menembus level Rp18.000-an di tengah transisi kepemimpinan Bank Indonesia dan net sell asing yang menembus Rp80 triliun di pasar modal.

Jika dolar AS melemah seperti yang diproyeksikan oleh pasar akibat intervensi ini, maka beban depresiasi terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah, berpotensi berkurang. Ini sejalan dengan perbaikan sentimen global yang mulai terlihat setelah The Fed menahan suku bunga acuannya pada pertemuan akhir Juli 2026.

Bagi investor, intervensi semacam ini umumnya berdampak pada tiga hal utama:

  1. Volatilitas valas meningkat sementara — pergerakan yen yang tajam dapat membuat perdagangan dolar-rupiah lebih fluktuatif dalam jangka pendek.
  2. Sentimen risk-on global membaik — pelemahan dolar AS menopang minat investor pada aset berisiko di negara berkembang, termasuk saham dan obligasi rupiah.
  3. Alih-alih pelarian, potensi stabilisasi — berkurangnya tekanan dolar dapat menahan arus keluar modal dari Indonesia.

Kesimpulan: Momen Langka yang Jadi Katalis Sentimen

Kabar intervensi bersama AS-Jepang menandai babak baru dalam kebijakan mata uang global yang sangat jarang terjadi. Setelah hampir satu dekade lebih AS tidak menyentuh pasar yen secara langsung, keterlibatan Washington memberi sinyal kuat bahwa era penguatan dolar yang ekstrem mulai dikoreksi oleh kebijakan pemerintah.

Bagi Indonesia yang tengah berjuang menghadapi tekanan rupiah dan outflow asing, pelemahan dolar yang dipicu intervensi ini berpotensi menjadi katalis positif. Namun pelaku pasar tetap perlu mencermati perkembangan, karena efektivitas intervensi semacam ini kerap hanya bersifat sementara jika tidak dibarengi dengan kebijakan moneter yang konsisten dari masing-masing negara.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa kabar terbaru soal intervensi yen AS-Jepang?

Berdasarkan Reuters, pemerintah Jepang dan AS akan mengumumkan intervensi bersama di pasar valas pada Senin (3/8/2026) untuk menahan pelemahan yen. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama dijadwalkan menyampaikan pengumuman tersebut, dan sumber menyebut ini sebagai aksi bersama pertama sejak 2011.

Kenapa yen perlu diintervensi?

Yen sempat melemah ke level terendah terhadap dolar AS sejak 1986. Pelemahan yang dinilai berlebihan mendorong Jepang meminta dukungan AS. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan menyebut yen 'sangat undervalued'.

Apa bukti keterlibatan AS dalam intervensi yen?

Foto Reuters saat rapat kabinet di Camp David memperlihatkan buku catatan Scott Bessent bertuliskan 'Buy Japanese Yen (JPY) US$5-10 bil'. Departemen Keuangan AS juga dilaporkan telah memberi tahu sejumlah bank untuk bersiap menghadapi langkah lanjutan di pasar yen.

Kapan terakhir kali AS dan Jepang berintervensi bersama?

Terakhir kali pada 2011, ketika AS bergabung dengan negara-negara G7 dalam aksi terkoordinasi untuk menopang yen setelah Jepang dilanda gempa bumi dan tsunami. Sejak itu AS tidak pernah lagi melakukan intervensi langsung untuk memperkuat yen.

Apa peran Bank of Japan (BOJ) dalam intervensi ini?

BOJ mempertahankan suku bunga acuannya pada Jumat (31/7/2026) namun memberi sinyal peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Otoritas Jepang juga dilaporkan sudah melakukan pembelian yen di sesi New York sebelum BOJ mengumumkan kebijakannya.

Bagaimana dampaknya terhadap rupiah dan pasar Indonesia?

Jika dolar AS melemah akibat intervensi, tekanan depresiasi rupiah yang sempat menembus Rp18.000-an berpotensi berkurang. Sentimen risk-on global yang membaik juga dapat menahan arus keluar modal (net sell asing Rp80 triliun) dan menopang IHSG.

Apakah efektivitas intervensi yen bersifat permanen?

Tidak selalu. Efektivitas intervensi semacam ini kerap hanya bersifat sementara jika tidak dibarengi kebijakan moneter yang konsisten dari kedua negara. Pasar tetap mencermati langkah lanjutan dan respons kebijakan bank sentral.

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter