PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) baru saja merilis laporan keuangan publikasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk periode semester I-2026 atau enam bulan hingga Juni 2026. Hasilnya, emiten teknologi ini mencatatkan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp607 miliar, membalikkan posisi rugi pada semester I-2025 yang mencapai Rp580 miliar.
Dengan pencapaian ini, perusahaan yang menaungi bisnis on-demand service Gojek, platform e-commerce Tokopedia, dan financial technology GoPay ini mencatatkan laba bersih dalam dua kuartal beruntun setelah di kuartal I-2026 perseroan juga mencatat laba bersih Rp258 miliar. Capaian ini menjadi tonggak sejarah baru bagi GOTO sejak melakukan merger dan mencatatkan sahamnya di BEI.
Pendapatan Melonjak 28,4%, Fintech Tumbuh Paling Tajam
Selama semester I-2026, pendapatan bersih GOTO tembus Rp10,99 triliun, melesat 28,4% dari pendapatan bersih semester I-2025 yang sebesar Rp8,56 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh seluruh lini bisnis, terutama sektor fintech yang mencatat pertumbuhan paling signifikan.
Berdasarkan rincian laporan keuangan, pendapatan terbesar masih disumbang oleh jasa pengiriman sebesar Rp3,2 triliun, tumbuh 16,5% secara tahunan. Imbalan jasa menyumbang Rp3,15 triliun, naik 14,9%. Yang paling menonjol adalah pendapatan pinjaman yang melesat 65% menjadi Rp2,71 triliun, menandakan bisnis fintech peer-to-peer lending dan paylater GOTO tumbuh sangat pesat.
Selain itu, pendapatan dari PT Tokopedia mencapai Rp551 miliar, tumbuh 32,3%, sementara pendapatan iklan mencapai Rp254 miliar, naik 8%. Pendapatan lain-lain menyumbang Rp1,13 triliun, melesat 46,5% dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba Usaha dan EBITDA Membaik Signifikan
Dari sisi operasional, GOTO mencatatkan laba usaha sebesar Rp782 miliar, berbalik dari posisi rugi usaha Rp172 miliar pada semester I-2025. Perbaikan ini mencerminkan efektivitas strategi monetisasi dan efisiensi biaya yang dijalankan manajemen.
Beban dan biaya GOTO tercatat naik 16,87% menjadi Rp10,21 triliun, namun laju kenaikan ini masih lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pendapatan, menunjukkan membaiknya margin operasional perusahaan.
Total aset GOTO per 30 Juni 2026 mencapai Rp47,47 triliun, meningkat 3,8% dibandingkan posisi Desember 2025. Kas dan setara kas perusahaan tercatat sebesar Rp23 triliun, menunjukkan posisi likuiditas yang solid untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan.
CEO GOTO: Fintech Jadi Motor Profitabilitas Baru
CEO GoTo, Hans Patuwo, dalam konferensi pers pada Rabu (29 Juli 2026) mengungkapkan bahwa pencapaian laba bersih dua kuartal beruntun ini tidak lepas dari kinerja bisnis fintech yang tumbuh pesat dan menguntungkan.
"Kami mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, dengan EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui angka Rp1,0 triliun untuk pertama kalinya. Bisnis Fintech kami juga terus menunjukkan kinerja yang unggul. Kini, profitabilitasnya telah melebihi bisnis On-demand Services untuk pertama kalinya," ujar Hans Patuwo.
EBITDA yang disesuaikan dari lini bisnis fintech tembus Rp481 miliar pada kuartal II-2026, melonjak 447% secara tahunan. Angka ini melampaui EBITDA On-demand Services (ODS) yang mencapai Rp464 miliar, menandai pergeseran penting dalam struktur bisnis GOTO.
On-Demand Services Tetap Kuat
Meskipun fintech menjadi bintang baru, bisnis on-demand services GOTO melalui Gojek juga mencatatkan pertumbuhan solid. EBITDA yang disesuaikan dari lini ODS mencapai Rp464 miliar, naik 41% dari tahun sebelumnya. Segmen GoFood dan GoSend mencatat margin yang naik menjadi 2,1% dari sebelumnya 1,8%, sementara segmen mobility (GoRide dan GoCar) mencatat kenaikan margin menjadi 5,0% dari sebelumnya 3,0%.
Manajemen GOTO juga memanfaatkan momentum positif ini untuk melakukan penyesuaian target setahun penuh. Target EBITDA Grup yang disesuaikan tetap di Rp3,2-3,4 triliun, sementara target fintech dinaikkan menjadi Rp1,7-1,8 triliun.
Prospek dan Tantangan ke Depan
Keberhasilan GOTO mencetak laba dua kuartal beruntun menjadi sinyal positif bagi investor bahwa perusahaan teknologi ini kini memasuki fase pertumbuhan yang lebih matang dan berkelanjutan. Namun, tantangan tetap ada, termasuk persaingan ketat di industri fintech dan layanan on-demand, fluktuasi nilai tukar yang mempengaruhi biaya operasional, serta dinamika regulasi di sektor keuangan digital.
Meski demikian, dengan kas yang kuat sebesar Rp23 triliun dan tren profitabilitas yang membaik, GOTO berada di posisi yang solid untuk terus mengembangkan ekosistemnya. Pasar akan mencermati bagaimana perusahaan mempertahankan momentum pertumbuhan ini hingga akhir tahun 2026.
